Jumat, 07 Oktober 2011

iklan0
Penyakit-penyakit dalam kehamilan

iklan1
Penyakit-penyakit dalam kehamilan:

A. Penyakit Saluran Napas
Kehamilan akan menimbulkan perubahan yang luas terhadap fisiologi pernapasan. Ada empat faktor penting yang terjadi dalam kehamilan yang erat hubungannya dengan fungsi pernapasan.
Rahim yang membesar karena kehamilan akan mendorong diafragma ke atas, sehingga rangga dada menjadi sempit, gerakan paru akan terbatas untuk mengambil oksigen selama pernapasan, dan untuk mengatasi kekurangan 02 ini pernapasan menjadi cepat (hiperventilasi).
Perubahan hormonal, terutama hormon progesteron yang meningkat selama kehamilanya membuat otot-otot saluran pernapasan menjadi kendor, dan ini juga akan mendorong terjadinya hiperventilasi.
Meningkatnya volume darah dan cardiac output dalam usaha menyelamatkan Janin serta memenuhi kebutuhan metabolik ibu yang meninggi.
Perubahan imunologik. Faktor daya tahan tubuh ibu sangat erat hubungannya dengan timbulnya penyakit saluran napas selama kehamilan. Kadar imunoglobulin F (IgE) mungkin menaik atau menurun pada seorang wanita hamil. Bila kadar IgE pada penderita asma yang hamil meningkat, ternyata hal ini menyebabkan penderita Icbilv rentan dan lebih sering dapat serangan asma atau lebih berat.

Macam Penyaki Saluran Pernafasan
1. Influensa
Wanita hamil lebih mudah diserang penyakit influensa. Epidemi yaag hebat yang terjadi tahun 1957-1958, menyebabkan kematian ibu yang meningkat. Pada kca(i.v,m biasa, tidak banyak pengaruhnya pada ibu atau pun pada janin. Pengobatan p.nl.r penderita influensa harus dilaksanakan dengan baik, dengan banyak istirahat, banyak minum, dan kalau perlu diberi
analgetika atau antibiotika dan harus d: penggunaan obat-obat batuk yang sifatnya supresi dan obat antihistamin Tidak ada indikasi tindakan abortus provokatus pada penderita hamil influensa. Bila ada komplikasi ke arah pneumonia penderita segera dirawat da antibiotika. Perawatan harus intensif.

2. Bronkitis
Bronkitis akut dapat disebabkan oleh virus atau bakteri. Perlu pengobatan yai dan cepat, agar penyakit tidak menular ke paru-paru sehingga timbul pneu Bila timbul pneumonia, angka mortalitas ibu cukup tinggi dan pada janii terjadi abortus atau partus prematurus.
Pengobatan: penderita harus banyak istirahat baring, minum banyak, dar obat-obat bronkodilator. Antibiotika ampisilin 200 - 500 mg peroral tiap 6 jam sangkaan ada infeksi bakteri. Lakukan pengambilan sputum untuk biakan kepekaan kuman. Kemudian pemberian antibiotika yang lebih tepat bila

3. Pneumonia
Pneumonia dalam kehamilan merupakan penyebab kematian non obstetri terbesar setelah penyakit jantung. Oleh karena itu pneumonia harus segera di dalam kehamilan, segera dirawat dan diobati secara intensif untuk m( timbulnya kematian janin/'ibu, terjadinya abortus, persalinan prematur atau ks dalam kandungan. Pneumonia dapat disebabkan oleh virus, bakteri maul kimia. Untuk keperluan diagnostik dan pengobatan perlu dilakukan pemeriksaan penunjang, antara lain:
1) foto toraks anterior posterior dan lateral;
2) pemeriksaan gas darah (darah arterial);
3) sputum diambil dan diperiksa menurut pulasan gram, dan dibiak;
4) darah diambil, juga dibiak
Pengobatan: penderita diistirahatkan dalam keadaan berbaring, diberi 02 memberikan obat-obat yang sifatnya narkotik atau menahan batuk. Diberiob antipiretika untuk menurunkan suhu badan penderita, koreksi kelainan el, atau gas darah bila ada, berilah antibiotika, karena sering kali pneumoni disebabkan oleh virus atau zat kimia disertai pula oleh infeksi kuman-kt Pada pneumonia aspirasi karena masuknya isi lambung ke dalam paru-paru sering dijumpai setelah pemberian anestesi pada saat persalinan atau operas penanganannya adalah sebagai berikut.
Segera dipasang tabung endotrakeal dan dilakukan pengisapan, kalaL dilakukan bronkoskopi bila partikel yang masuk terlalu besar. Oksigen di) dan gas darah arterial diperiksa berulang-ulang; segera dilakukan koreksi E kelainan, dan pernapasan dibantu dengan alat ventilator. Diberi aminopilin IN mcncegah bronkospasmus, 4 6 mg/kg dalam 15-30 menit. Berikan kortiku dosis tinggi sepera hidrokortison 1 gram i.v. dalam 24 jam yang diberikan dalam empat kali per hari yaitu tiap 4-6 jam. Pemberian antibiotika untuk mencegah infeksi.

4. Asma bronkiale
Asma bronkiale merupakan salah satu penyakit saluran napas yang sering dijumpai dalam kehamilan dan persalinan. Penderita biasanya pernah berobat ke dokter lain. Pengaruh kehamilan terhadap timbulnya serangan asma tidaklah selalu sama pada setiap penderita, bahkan pada seorang penderita asma, serangannya tak sama pada kehamilan pertama dan berikutnya. Kurang dari sepertiga penderita asma akan membaik dalam kehamilan, lebih dari 1/s akan menetap, serta kurang dari 1/3 lagi akan menjadi buruk atau serangan bertambah. Biasanya serangan akan timbul mulai usia kehamilan 24 minggu sampai 36 minggu, dan pada akhir kehamilan serangan jarang terjadi.
Pemeriksaan yang dilakukan oleh tim ahli asma Kalifornia (tahun 1983) pada 120 kasus asma yang hamil, dan terkontrol baik, terdapat 90% dari penderita tidak pernah dapat serangan dalam persalinan, 2.2% menderita serangan ringan dan hanya 0.2% yang menderita asma berat yang dapat diatasi dengan obat-obat intravena. Pengaruh asma pada ibu dan janin sangat tergantung dari sering dan beratnya serangan, karena ibu dan janin akan kekurangan oksigen (02) atau hipoksia. Keadaan hipoksia bila tidak segera diatasi tentu akan berpengaruh pada janin, dan sering terjadi keguguran, persalinan prematur atau berat janin tidak sesuai dengan usia kehamilan (gangguan pertumbuhan janin).
Faktor pencetus timbulnya asma, antara lain zat-zat alergi, infeksi saluran napas, pengaruh udara dan faktor psikis. Penderita selama kehamilan perlu mendapat pengawasan yang baik, biasanya penderita mengeluh napas pendek, berbunyi, sesak dan batuk-batuk. Diagnosis dapat ditegakkan seperti asma di luar kehamilan.
Penanganan
1) Mencegah timbulnya stress
2) Menghindari faktor risiko (pencetus) yang sudah diketahui, secara intensif.
3) Mencegah penggunaan obat seperti aspirin dan semacam yang dapat menjadi pencetus timbulnya serangan.
4) Pada asma yang ringan dapat digunakan obat-obat lokal yang berbentuk inhalasi, atau per oral seperti isoproterenol.
5) Pada keadaan lebih berat penderita harus dirawat dan serangan dapat dihilangkan dengan satu atau lebih dari obat di bawah ini.
a. Epinefrin yang telah dilarutkan (1 : 1000), 0,2-0,5 ml, disuntikkan subkutin.
b. Isoproterenol (1 : 100) berupa inhalasi 3-7 hari.
c. Oksigen
d. Aminofilin 250-500 mg (6 mg/kg) dalam infus glukose 5%
e. Hidrokortison 260-1000 mg iv pelan-pelan atau perinfus dalam 10%.

Hindari penggunaan obat-obat yang mengandung iodium karena dapat gangguan pada janin, dan berikan antibiotika kalau ada sangkaan terdap Persalinan biasanya dapat berlangsung spontan akan tetapi bila pende dalam serangan dapat diberi pertolongan dengan tindakan seperti dengai vakum atau forseps. Tindakan seksio sesarea atas indikasi asma jarang atau dilakukan.

5. Tuberkulosis paru
Penyakit ini perlu diperhatikan dalam kehamilan, karena penyakit merupakan penyakit rakyat; sehingga sering kita jumpai dalam kehamilan. ini dapat menimbulkan masalah pada wanita itu sendiri, bayinya dan t sekitarnya.
Kehamilan tidak banyak memberikan pengaruh terhadap cepatnya penyakit ini, banyak penderita tidak mengeluh sama sekali. Keluhan y ditemukan adalah batuk-batuk yang lama, badan terasa lemah, nal berkurang, berat badan menurun, kadang-kadang ada batuk darah, dan sal Pada pemeriksaan fisik mungkin didapat adanya ronkhi basal, suara ka pleural efusion. Penyakit TBC paru ini mungkin bentuknya aktif atau k mungkin pula tertutup atau terbuka.
Pada penderita yang dicurigai menderita TBC paru sebaiknya pemeriksaan tuberkulosa tes kulit dengan PPD (purified protein derivate) hasilnya positif diteruskan dengan pemeriksaan foto dada. Perlu diperh dilindungi janin dari pengaruh sinar X. Pada penderita dengan TBC paru dilakukan pemeriksaan sputum, untuk membuat diagnosis secara past untuk tes kepekaan. Pengaruh TBC paru pada ibu yang sedang hamil 1 dengan baik tidak berbeda dengan wanita tidak hamil. Pada janin jaran TBC kongenital, janin baru tertular penyakit setelah lahir, karena di disusui oleh ibunya.



Penanganan
Pada penderita dengan proses yang masih aktif, kadang-kadang perawatan, untuk membuat diagnosis serta untuk memberikan pendid diterangkan pada penderita bahwa mereka memerlukan pengobatan yang dan ketekunan serta ada kemauan untuk berobat secara teratur. Per sembuh dengan baik bila pengobatan yang diberikan dipatuhi oleh Penderita dididik untuk menutup mulut dan hidungnya bila batuk, Pengobatan terutama dengan kemoterapi, dan sangat jarang diperluka operasi.
Pada penderita TBC paru yang tidak aktif, selama kehamilan tidak perlu dapat pengobatan. Sedangkan pada yang aktif, dianjurkan untuk menggunakan obat dua macam atau lebih untuk mencegah timbulnya resistensi kuman, dan isoniazid (INH) selalu diikutkan dalam regimen pengobatan tersebut.

Obat-obat yang dapai dagunakan
1. Isoniazid (INH), dengan dosis 300 mg/hari. Obat ini mungkin menimbulkan komplikasi pada hati, sehingga timbul gejala-gejala hepatitis berupa nafsu makan berkurang, mual dan muntah. Oleh karena itu perlu diperiksa faal hati sewaktu¬waktu, dan bila ada perubahan, maka obat untuk sementara harus segera dihentikan.
2. Ethambutol dengan dosis 15-20 mg/kg/hari. Dilaporkan obat ini dapat menimbulkan komplikasi retrobulber neuritis akan tetapi laporan samping efek obat ini dalam kehamilan sangat sedikit, dan pada janin belum ada.
3. Streptomycin dengan dosis i g/hari. Obat ini harus hati-hati digunakan dalam kehamilan, dan jangan digunakan dalam kehamilan trimester pertama. Pengaruh obat ini pada janin dapat menyebabkan tuli bawaan (ototoksik), di samping itu pemberian obat ini kurang menyenangkan pada penderita, karena harus disuntikkan setiap hari. Dilaporkan bila dosis yang diberikan < 30 g selama kehamilan, tidak banyak atau jarang ada pengaruhnya pada janin.
4. Rifampisin dengan dosis 600 mg/hari. Obat ini baik sekali untuk pengobatan TBC paru, akan tetapi mempunyai efek potensial teratogenik yang besar pada binatang percobaan. Pada manusia belum banyak laporan, dan dianjurkan untuk tidak menggunakannya dalam trimester pertama.
Pemeriksaan sputum setelah i-2 bulan pengobatan, harus dilakukan dan kalau masih positif, perlu diulang tes kepekaan kuman terhadap obat. Tidak ada indikasi untuk melakukan tindakan pengguguran kehamilan pada penderita TBC paru. Antenatal care dapat dilakukan seperti biasa. Dianjurkan penderita datang sebagai pasien permulaan atau terakhir dan segera diperiksa, agar tidak terjadi penularan pada orang-orang di sekitarnya.
Persalinan pada wanita yang tidak dapat pengobatan dan tidak aktif lagi, dapat berlangsung seperti biasa, akan tetapi pada mereka yang masih aktif, penderita di tempatkan di kamar bersalin tertentu (tidak banyak digunakan penderita lain). Persalinan ditolong dengan tindakan ekstraksi vakum atau forseps, dan sedapat mungkin penderita tidak meneran, diberi masker untuk menutupi mulut dan hidungnya agar tidak terjadi penyebaran kuman ke sekitarnya.
Cegah terjadinya perdarahan postpartum seperti pada pasien-pasien lain pada umumnya. Setelah penderita melahirkan, penderita dirawat di ruang observasi 6-8 jam, kemudian penderita dapat dipulangkan langsung. Diberi obat uterotonika, dan obat TBC paru diteruskan, serta nasihat perawatan masa nifas yang harus mereka lakukan. Penderita yang tidak mungkin dipulangkan, harus dirawat di ruang isolasi. Pcrawatan bayi yang dilahirkan oleh ibu yang mcndcrita TBC paru haruslah dilakukan dengan sebaik-baiknya, agar anaknya tidak ketularan oleh ibm keadaan ideal bayi setelah lahir segera dipisahkan dari ibunya, sampai il: memperlihatkan tanda-tanda proses aktif lagi setelah dibuktikan dengan p sputum sebanyak 3 kali, yang selalu memperlihatkan hasil negatif. Pada suntikan Mantoux sampai menunjukkan reaksi positif. Bila suntikan BC sebaiknya segera diberikan pada bayi setelah lahir, atau bila reaksi Mantoux negatif.
Yang penting adalah pendidikan pada penderita dan keluarganya tenta penyakit TBC paru yang sedang diidap serta bahaya penularan penyak pada anaknya, sehingga penderita dan keluarganya menyadari sepenuhny na cara melakukan perawatan bayinya dengan baik.

B. Penyakit Traktus Digestivus, Hepar dan Pankrieas
Terdapatnya perubahan fungsi alat pencernaan dalam kehamilan adalah hal yang biasa. Perubahan-perubahan tersebut umumnya tidak berarti dan tidak berbahaya, dan akan dapat ditanggulangi dengan mudah dengan penerangan, obat-obat yang relatif ringan atau dengan melalui pendekatan psikologik.
Ada tiga faktor yang menyebabkan perubahan fungsi alat pencernaan tersebut dalam kehamilan, yaitu perubahan hormonal, anatomik dan fisiologik kehamilan, dan ketiga faktor tersebut akan memberikan pengaruh pada fungsi alat pencernaan. Selama kehamilan akan terjadi pula penurunan gerakan saluran alat cerna karena tonus otot-otot alat pencernaan yang berkurang, di samping itu terdapat pula perubaltan Ietak serta penekanan yang disebabkan oleh pembesaran rahim (uterus). Perasaan mual, muntah, nafsu makan menurun, ketidaksukaan pada makanan tertentu atau bau-bauan yang dapat diobati dengan menghindari makanan atau bau¬bauan tersebut atau dengan pemberian obat-obat yang relatif ringan ternyata sudalt cukup. Akan tetapi kadang-kadang keluhan wanita hamil tersebut sangat berlebihan sehingga dapat membahayakan kesehatan atau jiwanya, maka perlu dipikirkan penyebab lain, yang ikut berperan sebagai penyebabnya seperti seot-ang wanita hamil yang menginginkan makanan tertentu yang tidak lazimnya dimakan orang, umpamanya tepung kanji, makanan mentah, garam, lempung, tanah dan sebagainya. Penyebab kelainan ini sangat erat hubungannya dengan faktor sosial, tingkat kebudayaan dan sebagainya, sehingga pengobatannya haruslah melalui pendekatan psikologik dan kelainan seperti ini disebut pica (ngidam dalam bahasa Jawa). Begitu pula tak jarang disalahtafsirkan gejala-gejala penyakit organ dalam rongga perut yang gawat dianggap sebagai gangguan yang disebahkan oleh kchamilan biasa.







MULUT
1. Ptialismus (syalorea, hipersalivasi)
Pada kehamilan trimester pertama, kemungkinan dijumpai produk berlebihan dari biasa, sehingga menyebabkan wanita hamil terseb~ membuang ludah. Produksi air ludah yang berlebihan ini disebut ptialis karena ketidaksanggupan wanita tersebut menelan air ludahnya sebaga perasaan mual. Pengobatan khusus t:idak ada, cukaap dengan pen penerangan secara psikologik.

2. Gingivitis dan epulis
Dalam kehamilan sering gusi menjadi bengkak dan lemah serta mud terutama pada waktu gosok gig' atau sentuhan yang ringan lainnya. H pengaruh dari hormon estrogen yang meningkat.
Seringkali tirnbul stomatitis dan gingivitis dalam kehamilan, dan un perawatan mulut agar selalu bersih selama kehamilan. Kadang-kadan pula pembengkakan gusi setempat dan banyak mengandung pembuh darah, sehingga mudah berdaralt. Kelainan ini disebut epulis gravidarum khusus tidak ada, dan setelah lahir epulis tersebut akan hilang sendiri

3. Karies dentis
Dalam kehamilan sering dijumpai gingivitis dan karies dentis, akan beralasan kehamilan sebagai penyebab meningkatnya kejadian karies dentis sebelum hamil sudah ada, dan kekurangan kalsium akan kerusakan giginya seperti juga terjadi sebelum ltamil. Pengobatan yaitu dengan merawat gigi, mulut, serta mencukupi kebutuhan kalsium dalam kehamilan.

ESOFAGUS
1. Pirosis (heartburn, nyeri dada)
Pirosis ialah perasaan nyeri di dada, karena masuknya isi lambung ke d bagian bawah. Keluhan sering ditemukan dalam kehamilan, terutama tengkurap, atau menelan sesuatu makanan tertentu atau obat. Pada kehamilan tua mungkin kelainan ini agak sering dijumpai karena pengaruh tekanan rahim yang membesar. Pada esofagus terjadi esofagitis, akan tetapi pada en( kelihatan ada tanda-tanda radang, hanya secara histologik dapat diliha tersebut berisi aa:uo klurida, pepsin serta makanan. pirosis biasan; mcnitnbulkan komplikasi srprrti strikmra, perdar-ahan, karena waktu sebentar saja. Pengobatan cukup dengan memberikan obat antasid, mengubah posisi tubuh dan menegakkan kepala serta mencegah tengkurap setelah makan. Keadaan yang lebih berat, kadang-kadang menyebabkan penderita sulit menelan, ada perdarahan (hematemesis), sebagai akibat terjadi esofagitis erosif. Pengobatannya tetap seperti diuraikan di atas, yaitu konservatif.

2. Esofagftis erosiva
Esofagitis erosiva merupakan akibat yang gawat dari kembalinya isi lambung ke dalam esofagus, dan agaknya tidak mempunyai hubungan dengan hiperemesis gravidarum. Gejala yang paling sering dijumpai ialah nyeri waktu menelan (disfagia) disertai pirosis. Hematemesis dapat terjadi, dan esofagoskopi menunjukkan erosio berdarah pada selaput lendir satu pertiga bawah esofagus.
Penanggulangan sama dengan pada pirosis biasa. Apabila terjadi hematemesis, penderita disuruh minum air es atau menelan es batu kecil-kecil. Biasanya kelainan ini sembuh sama sekali dengan sendirinya setelah kelahiran. Striktura esofagei yang sampai memerlukan dilatasi jarang terjadi.

3. Varises esofagei
Varises esofagei akibat sirosis hepatis menjadi lebih besar dan lebih mudah pecah dalam kehamilan, karena hipervolemia kehamilan dan hipertensi portal.

LAMBUNG
1. Hernia hiatus diafragmatika
Hernia hiatus driafragmatika ialah masuknya bagian atas lambung ke dalam lubang diafragma. Kelainan ini sering dijumpai dalam kehamilan, kira-kira 17%, terutama dalam kehamilan trimester III, dan lebih sering pada multipara dalam usia lanjut. Kelainan ini akan sembuh sendiri, setelah anak lahir. Penderita mungkin mengeluh tentang gangguan pencernaan berupa pirosis, muntah, kadang-kadang hematesis, berat badan menurun, atau kadang-kadang tak ada keluhan sama sekali. Kalau keluhan meningkat, mungkin ada hubungan dengan dua faktor, yaitu wanita tersebut telah rnenderita hernia hiatus dan isi lambung yang bertambah besar. Sering dokter mengira gejala-gejala tersebut disebabkan oleh karena hamil biasa, sedangkan kalau diperiksa dengan foto rontgen mungkin dijumpai adanya hernia. Hernia hiatus jarang mengalami strangulasi hernia dalam kehamilan, dan kalau ada biasanya penderita mengeluh sesak napas, sianotik, kadang-kadang dapat jatuh dalam syok.
Penanganannya adalah simptomatik, penderita ditidurkan setengah duduk, makanan diberikan dalam porsi kecil-kecil. Kalau hernia tersebut telah diketahui sebelum hamil, sebaiknya penderita tidak hamil, atau dilakukan operasi lebih dulu.

2. Ulkus peptikum
Ulkus peptikum jarang dijumpai dalam kehamilan, perjalanan penyakitnya bervaria¬si. Pada wanita yang mempunyai ulkus peptikum sebelum hamil, biasanya setelah hamil, penyakit akan menjadi lebih baik, bahkan dapat sembuh. Terus trimester pertama dan kedua, karena rendahnya sekresi asam lamek, meningkatnya produksi getah lambung, walaupun kadang-kadang ulkus lebih hebat gejalanya dan yang sering dijumpai adalah rasa kejang dan peril bagian atas (yang dapat hilang dengan memakan makanan atau obat alk; panas, rasa tak enak di daerah epigastrium. Gejala lebih sering terjadi atau di atau 3 jam sesudah makan. Perforasi jarang terjadi. Oleh karena itu penanga peptikum dalam kehamilan umumnya konservatif, jarang atau hampir dengan tindakan operatif.

3. Gastritis
Diagnosis gastritis sering dibuat dalam kehamilan muda, hanya atas dasaj penderita, seperti mual, muntah-muntah, tidak ada nafsu makan, nyeri epigastrium dan sebagainya. Dan setelah diperiksa dengan teliti ternyata tidak menderita gastritis akan tetapi. mungkin emesis (hiperemesis), esofagitis. Sering dilakukan pemeriksaan radiologik oleh dokter untuk diagnosis. Hal ini tentu tidak baik, karena sinar X, mempunyai pengaruh t pada janin. Oleh karena itu haruslah hati-hati untuk membuat diagnosis Perhatikanlah dan lakukanlah anamnesis dan pemeriksaan dengan telit penderita sedang hamil muda atau tidak. Bila hamil muda sedapat mungki pembuatan foto riintgen. Penderita diobservasi, dan ditentukan terapi kc seperti gastritis di luar kehamilan. Biasanya keluhan akan hilang setelah tri bila disebabkan oleh kehamilan.

USUS HALUS
1. Ileus
Baik ileus obstruktif maupun ileus paralitik dapat dijumpai dalam keham kadang-kadang tidak diketahui, karena gejala-gejalanya sering disalal sebagai gejala-gejala kehamilan biasa, seperti mual, muntah, konstipas kontraksi, kejang otot dan sebagainya. Ileus obstruksif ini dapat disebal; volvulus, lrernia inkarserata, intususepsi, tumor kolon, dan perlekai merupakan penyebab yang sering dijumpai. Oleh karena itu perlu diperha ditanyakan tentang; operasi perut yang terdahulu. Diagnosis dibuat atas dasar gejala muntah-muntah, konstipasi, bising usus meningkat seperti bunyi logam. Foto abdomen walaupun pemeriksaan X ray secara umum dilarang dalam kehamilam, namun keadaan tertentu perlu dilakukan. Seperti pada sangkaan ileus obstruktil pada gambaran foto rontgen, usus di bagian proksimal obstruksi melebar, bayangan permukaan cairan (fluid Ievel).
Begitu juga bila diagnosis ragu-ragu, maka tindakan laparotomi eksplorasi lebih baik dilakukan daripada bersikap menunggu, yang kemudian menimbulkari keadaan fatal. Dalam kehamilan biasa, tonus dan peristaltik usus berkurang, sehingga tak jarang menyebabkan konstipasi atau sulit buang air besar. Kadang-kadang dapat timbul gejala-gejala ileus paralitik dalam kehamilan dan nifas, dan hal ini haruslah dibedakan dari ileus obstruktif dan peritonitis. Pada ileus paralitik tanpa komplikasi lain sepeni di atas, terapi untuk ini adalah konservatif, yaitu dengan memberikan infus dan makanan parenteral, pemasangan pipa hidung-lambung, dan cairan lambung diisap terus menerus, sena pemberian antibiotika, vitamin aneurin 25-50 mg intra muskular, dan biasanya dalam waktu 3-5 hari akan sembuh.

2. Volvulus
Dengan makin tuanya kehamilan dan makin membesarnya uterus, usus-usus halus dapat terputar pada pangkalnya, sehingga terjadi penjiratan (strangulas:) seluruh ileum. Akibatnya sangat gawat dan menyebabkan kematian apabila tidak segera dikenal dan dioperasi. Keadaan lain yang dapat pula menyebabkan volvulus ialah perpanjangan mesokolon, hernia diafragmatika, perlekatan usus, dan terdapatnya pita kongenital di dalam rongga perut.
Gambaran klinik berupa perut yang menunjukkan tanda-tanda gawat mendadak (acute abdomen) terdiri atas gejala-gejala obstruksi usus disertai muntah-muntah yang hebat. Keadaan umum cepat memburuk akibat gangguan elektrolit dan keracunan; nadi sangat cepat dan suhu meningkat. Penderita harus segera dioperasi.



3. Hernia
Pelbagai macam hernia dapat dijumpai dalam kehamilan, sepeni hernia inguinalis, femoralis, umbilikalis, dan sikatrisea, yang biasanya tidak menimbulkan keluhan. Hernia diafragma telah dibicarakan di atas.
Membesarnya uterus mendorong usus-usus lebih jauh dari cincin hernia, sehingga inkarserasi jarang terjadi dalam kehamilan, juga dalam persalinan kala II, walaupun wanita meneran-neran. Sebaliknya, dalam nifas cincin dapat menjadi lebih besar dan usus dapat masuk ke dalam kantong hernia. Walaupun demikian, inkarserasi juga jarang terjadi dalam nifas. Gejala-gejala ileus pada hernia dapat timbul pada setiap saat dalam kehamilan dan nifas apabila ada perlekatan usus yang terjepit, terputar, atau tenarik.
Penanganan hernia dalam kehamilan sama dengan di luar kehamilan apabila timbul gejala-gejala gawat. Dalam persalinan sebaiknya wanita tidak meneran terlarqpau kuat apabila kantong hernia menjadi lebih besar; dan jikalau syarat-syarat sudah dipenuhi, persalinan diakhiri dengan ekstraktor vakum atau cunam.
Hernia umbilikalis dan hernia sikatrisea tetap membesar oleh kehamilan. Apabila ada perlekatan usus dengan omentum, tarikan pada omentum scring menyebabkan rasa nyeri.

4. Ileitis regionalis
Ileitis regionalis, sepeni dilaporkan oleh Crohn dan Yarnis, merupakan suatu proses granulomatus ileum bagian akhir yang tidak khas yang meliputi peradangan nekrosis, ulserasi, dan perparutan. Penyakit ini biasanya dijumpai pada orang dewasa muda dan jarang pada wanita hamil. Gejala-gejala sangat bervariasi, tergantung lamanya penyakit, bersifat aktif dan luasnya ileum yang terkena proses; diantaranya nyeri perut, diarea, demam ringan, terabanya tumor di perut, perda perforasi usus. Anamnesis yang teliti dan pemeriksaan roentgen dapat r diagnosis. Diagnosis pasti hanya dapat dibuat setelah perut dibuka kehamilan pada ileitis regionalis tidak pasti dan sangat bervariasi; ada ya lebih baik dalam kehamilan, ada yang sama, ada pula yang menjadi lebih buruk
Apabila penderita menunjukkan gejala-gejala yang berat dan rea terhadap kehamilannya, maka bekerja sama dengan psikiater dapat dipertimbagkan abortus buatan, walaupun ini jarang diperlukan.

USUS BESAR
1. Appendisitis akuta
Kejadian appendisitis akuta dalam kehamilan dan di luar kehamilan tidakl: Kejadiannya satu di antara 1000 sampai 2000 wanita hamil. Akan teta perforasi, lebih sering pada kehamilan, yaitu 1,5 sampai 3,5 kali dari a hamil. Hal ini karena diagnosis dini appendisitis akuta kadang-kadang s sering meragukan, atau dikacaukan oleh keadaan-keadaan lain seperti:
a. Gejala dan tanda rasa mual, muntah, anoreksia, perut gembung, dan nyeri sering dijumpai pula pada kelainan lain dari appendisitis.
b. Adanya leukositosis fisiologik dalam kehamilan yang mungkin jumlah leukosit pada appendisitis akuta.
c. Berpindahnya letak soekum akibat dorongan rahim yang makin menyebabkan letak appendiks juga berpindah. Pada akhir penen kelramilan, appendiks terletak di bagian kanan atas, sehingga gambaran yang diberikan oleh appendisitis yang biasa tidak menunjukkan ga seperti di luar kehamilan.
d. Adanya relaksasi otot-otot dinding perut pada kehamilan lanjut, menyebabkan tanda-tanda nyeri, kekakuan dinding perut, menjadi tak jelas.
e. Tanda-tanda appendisitis akuta, kadang-kadang diperlihatkan pula oleh kelainan, seperti pada kehamilan muda dengan adanya kista yang membatu ureter, pielonefritis akuta, salpingitis akuta; rasa nyeri dari rotundum pada kehamilan lebih lanjut, solusio plasenta tingkat permulaan saluran kemilan, perslinan prematur, obstruksi usus Italus. Pada masa nifas adanya andometritis atau adneksitis

Mengambil tindakan konsetvatif adalah salah, sebab bila appendisitis tersebut mengalami perforasi karena tindakan terlambat dapat menimbulkan kematian ibu DAN janin. Insisi perlu dibuat lebih tinggi dari biasa yaitu paramedial kanan kira-kira setinggi fundus uteri. Manipulasi pada uterus gravidus ini sedapat mungkin dihindari, dan drain hanya dipasang apabila ada abses. Biasanya kehamilan akan berlangsung terus sampai saat persalinan. Bila appendisitis akuta dibuat pada kehamilan lebih dari 34-35 minggu, dilakukan seksio sesarea dan appendektomia. Uterus yang membesar tersebut akan menyulitkan mencari appendiks di samping itu bila penderita masuk dalam persalinan pasca laparotomi, luka dapat terbuka kembali karena luka belum sembuh sempurna dan belum kuat. Kalau terjadi perforasi atau abses dipertimbang¬kan untuk melalkukan appendektomia dan seksio histerektomia. Prognosis appendi¬sitis dalam )kehamilan lebih buruk dari di luar kehamilan, dan diagnosis dini serta tindakan yang segera diambil berupa laparatomi dan pemberian antibiotika, akan dapat menolong penderita serta akan memperbaiki prognosis. Komplikasi yang sering atan mungkin dijumpai pada kehamilan adalah abortus atau partus prematuros.

2. Kolitis ulserosa
Kolitis ulserosa yang biasanya menahun merupakan suatu penyakit peradangan disertai ulkus-ulkus pada mulanya di rektum, kemudian menjalar ke atas dan dapat sampai lie usas halus. Perjalanan penyakit dalam kehamilan tak dapat diramalkan sebelumnya, sangat bervariasi. Biasanya bagian usus yang terserang adalah mukosa dan submukosa, jarang lapisan otot DAN serosa. Gejala-gejala klinik tersering adalah diarea dengan darah, nanah atau lendir, badan panas, leukositosis, takikardia, perut terasa tidak enak, malas makan dan berat badan menurun. Komplikasi penyakit ini mungkin dapat terjadi perforasi, perdarahan sehingga penderita jadi anemia, defisiensi protein dan vitamin.
Pengarah penyakit ini terutama terhadap kesehatan ibu, pada janin atau kehamilan tidak begita banyak. Sedangkan pengaruh kehamilan pada penyakit ini, dapat menimbulkan )keadaan lebih berat, yaitu penyakit yang tadinya kurang aktif dapat jadi aktif, terutama pada trimester pertama dapat terjadi perforasi. Etiologi penyakit ini secara pa.sti belum diketahui, akan tetapi faktor psikogenik dianggap mempunyai pengaruh penting pada kolitis ulserasi ini, seperti perubahan-perubahan emosionil, kecemasan, ketakutan dan lain-lain selama kehamilan.
Penerangan segera diberikan pada penderita kolitis ulserosa ini, baik : hamil maupun dalam kehamilan. Perhatikan dan terangkan faktor p penderita, diet yang cukup mudah diserap, kalau perlu diberi antidi, antibiotika. Mereka yang telah hamil, kehamilan dapat diteruskan, dan pe dapat per vaginam. Pada keadaan di mana anak sudah cukup, penderita m( kolitis ulserosa, sebaiknya tidak hamil lagi, DAN ikut keluarga berencana dilakukan sterilisasi.

3. Tumor Ganas Usus Besar
Tumor ganas usus besar, biasanya karsinoma, jarang dijumpai dalam kehamilan tidak terdapat bukti-bukti bahwa kehamilan mempengaruhi jalannya karsino et rekti. Karena itu, abortus buatan tidak dilakukan. Walaupun demikian peny dapat mempersulit persalinan.
Penanggulangan tumor ganas usus besar dalam kehamilan ialah dengai operasi, sama seperti di luar kehamilan. Apabila operasi dilakukan dalam triw dan III, maka mungkin uterus serta isinya perlu diangkat untuk memudahkan, rektum. Pada penderita karsinoma kolon, apabila kehamilannya sudah cukup dapat ditunggu partus per vaginam. Apabila terdapat gejala-gejala obstruks mungkin diperlukan kolostomia sebelum persalinan atau operasi. Dalam keh trimester III sebelum 38 minggu, pada penderita dengan karsinoma rekti dih seksio histerektomia. Setelah anak lahir, selekasnya dilakukan operasi rektum

4. Megakolon
Megakolon sangat jarang dijumpai dalam kehamilan. Usus besar yang sangat dan terisi penuh dengan skibala menyebabkan konstipasi yang kadang-kadang sulit untuk diatasi. Dalam persalinan megakolon yang terisi penuh, menghalang-halangi turunnya kepala, sehingga dapat terjadi ruptura uteri

DAERAH ANUS
1. Pruritus ani
Pruritus ani kadang-kadang dijumpai dalam kehamilan dan dapat sangat mengganggu penderita. Biasanya pengobatan juga sulit. Rasa gatal dapat terbatas di daerah perianal atau menjalar lebih luas sampai di daerah kelamin, bagian dalam paha, dan pantat. Karena rasa gatal, daerah itu digaruk, yang menimbulkan/menambah iritasi kulit; dan seterusnya ini menambah rasa gatal.
Pruritus ani dapat dibagi dalam 2 golongan: 1) yang mempunyai sebab organik, dan 2) yang disebabkan faktor psikogenik. Dalam golongan pertama termasuk pruritus yang disebabkan faktor psikogenik. Dalam golongan pertama termasuk pruritus yang disebabkan oleh fissura et fistula ani, proktitis, wasir, jamur, diabetes mellitus, alergi terhadap benang sintetik pakaian dalam, atau ukuran pakaian yang tidak sesuai. Golongan kedua biasanya disebabkan oleh konflik emosional dalam kehamilan yang berdasarkan ketidakmatangan psiko-seksual.
Penanggulangan harus dimulai dengan menghilangkan/menghindarkan faktor penyebabnya. Iritasi kulit akibat garukan diobati dengan salep kortison. Apabila pengobatan tidak berhasil dan tidak diaemukan sebab organik, maka sebaiknya dimintakan konsultasi pada psikiater.
2. Wasir (hemoroid)
Dalam kehamilan dapat terjadi pelebaran vena hemoroidalis interna dan pleksus hemoroidalis eksterna, karena terdapatnya konstipasi dan pembesaran uterus. Hemoroid ini lebih nyata dan dapat menonjol keluar anus. Wasir yang kecil kadang¬kadang tidak menimbulkan keluhan, sedang yang besar sering menimbulkan keluhan bahkan dapat menimbulkan komplikasi hebat yaitu rasa nyeri serta perdarahan pada saat buang air besar, serta ada sesuatu yang keluar dari anus.
Wasir dapat didiagnosis dengan mudah, yaitu adanya keluhan rasa perih di daerah , perdarahan, serta pada pengamatan diternukan vena yang membengkak di anus atau dl rektum. Pada hemoroid interna dan eksterna yang tidak menimbulkan keluhan, tidak perlu diberi pengobatan, dan setelah melahirkan hemoroid tersebut akan mengecil sendirinya.
Pada hemoroid yang besar, yang menjadi keluar baik dalam kehamilan atau masa nifas, yang menimbulkan keluhan, perlu dilakukan antara lain reposisi oleh dokter maupun oleh penderita sendiri, dengan menggunakan salep antihemoroid. Usahakan penderita agar memakan makanan yang lunak dan tidak meneran. Pada keadaan yang sudah berdarah, diberi anti-salep atau suppositoria. Tindakan sklerosing atau hemoroidektomia jarang diperlukan.

3. Fissura ani
Fisura ani merupakan kelainan yang sering dirasakan sangat nyeri dan terdiri atas luka-luka memanjang pada dinding belakang anus. Asalnya tidak diketahui dengan pasti; mungkin karena trauma pada mukosa dengan kriptitis, atau sebal pecahnya abses kista.
Mula-mula rasa nyeri dialami pada waktu penderita buang air besar, penderita segan untuk ke belakang; kemudian rasa nyeri berlangsun beberapa jam setelah defekasi. Fissura yang baru terjadi dapat diharap sembuh spontan. Akan tetapi, fissura menahun yang disertai peradangan dengan banyak keluhan memerlukan eksisi lebar semua jaringan yang saki insisi muskulus sfingter ani eksternus, juga pada wanita hamil.

HEPAR
Penyakit Hati Bukan Karena Komplikasi Kehamilan
1. Hepatitis infeksiosa
Hepatitis infeksiosa disebabkan oleh virus dan merupakan penyakit hati ya sering dijumpai dalam kehamilan. Pada wanita hamil penyebab hepatitis i terutama oleh Virus hepatitis B, walaupun kemungkinan juga dapat Virus h atau hepatitis C. Hepatitis virus dapat terjadi pada setiap saat kehan mempunyai pengaruh buruk pada janin maupun ibu. Pada trimester perta terjadi keguguran, akan tetapi jarang dijumpai kelainan kongenital (anoi janin), sedangkan pada kehamilan trimester kedua dan ketiga, serin persalinan prematur. Tidak dianjurkan untuk melakukan terminasi pada k dengan induksi atau seksio sesarea, karena akan mempertinggi risiko pada hepatitis B, janin kemungkinan dapat penularan melalui plasenta, waktu ahir atau masa neonatus; walaupun masih kontroversi tentang penularan melalui air susu
Penatalaksanaan yaitu a) istirahat, diberi nutrisi dan cairan yang cukup, kalau perlu intravenus; b) isolasi cairan lambung, darah atau cairan badan lainnya, dan diingatkan ibunya tentang pentingnya janin dipisahkan; c)periksa HBsAg trol kadar bilirubin, Serum Glutamik Oksaloasetik Transaminase (SG07 Glutamik-Piruvik Transaminase (SGPT), faktor pembekuan darah, karena kinan telah ada Disseminated Intravascular Coagulopathy (DIC); e) cegal naan obat-obat yang bersifat hepatotoksik; f) pada ibu yang HBsAg po; diperiksa HBsAg anak karena kemungkinan terjadi penularan melalui I pusat; g) tindakan operasi seperti seksio sesarea akan memperburuk prog h) pada bayi yang baru dilahirkan dalam 2 x 24 jam diberi suntikan anti serum.

2. Penyakit hati karena obat
Obat-obat tertentu dapat menimbulkan gangguan faal hati, bahkan dapat menyebabkan kerusakan fatal seperi fenotiazin, tetrasiklin, klorpeomazin, klorform, arsenamin, fosfor, karbon tetraklorida, isoniazid, asetaminofen. Fenotiazin dan klorpromazin yang digunakan unruk mengurangi rasa mual, muntah-muntah dalam kehamilan dapat menyebabkan ikterus, bila diberikan terlalu lama atau dalam dosis yang besar. Tetrasiklin yang merupakan obat yang dilarang digunakan dalam kehamilan karena dapat menyebabkan kelainan kongenital (teratogenik) pada janin, juga dapat menimbulkan kerusakan pada hati. Begitu pula obat-obat isoniasid, yang selalu diikutkan sebagai obat untuk penyakit TBC, dapat menimbulkan kelainan hati, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan faal hati setelah pengobatan beberapa bulan.

3. Ruptura bepatis
Ruprura hepatis, baik yang traumatik maupun yang spontan, dapat terjadi dalam kehamilan, biasanya yang robek lobus kanan. Mortalitas sangat tinggi, kemungkinan 75% penderita meninggal. Hampir semua penderita yang mengalami ruptura hepatis pernah menderita pre-eklampsia atau eklampsia. Gambaran klinik mencakup nyeri epigastrium, abdomen akut, pekak sisi, pekak beranjak (shifting dullness) dan syok. Penderita dapat diselamatkan apabila ruprura hepatis lekas diketahui dan segera dioperasi.

4. Sirosis bepatis
Kehamilan agaknya tidak mempengaruhi jalannya sirosis hepatis. Sebaliknya, sirosis dapat mempunyai pengaruh tidak baik terhadap kehamilan, tergantung dari beratnya penyakit.
Penderita dengan fungsi hepar yang masih baik dan menjadi hamil, dapat melahirkan biasa tanpa penyakitnya menjadi lebih buruk akibat kehamilannya, asal ia mendapat pengobatan dan perawatan yang baik. Akan tetapi, apabila fungsi hepar sudah terganggu atau ada varises esofagus karena sirosis, sebaiknya penderita tidak hamil. Terutama dalam trimester III dapat terjadi krisis gawat hati (liver failure) dan perdarahan dari varises esofagus. Apabila penderita demikian hamil juga, maka abortus buatan dapat dipertimbangkan, walaupun pada umumnya sirosis saja tidak merupakan indikasi bagi pengakhiran kehamilan.

5. Koklitiasis dan kolesistitis
Kolelitiasis dijumpai 2-3 kali lebih sering pada wanita dari pria, dan kehamilan dianggap sebagai salah satu faktor pencetus dalam terjadinya batu empedu dan penyakit kandung empedu. Kombinasi hiperkolesterolemia dan perlambatan pengosongan kandung empedu dalam kehamilan memudahkan terbentuknya batu empedu. Sebaliknya wanita hamil jarang mengeluh tentang serangan kolik empedu. Hal ini terjadi adanya anggapan bahwa kurangnya tonus otot polos yang memudahkan keluarnya batu-batu kecil saluran empedu ke dalam duodenum. Gejala-gejala kolelitiasis berupa nyeri perut sebela}i kanan atas atau di dacrah epigastrium yang mungkin gradual atau mendadak (tiba-tiba) yang menjalar ke dada bagian kanan atas atau ke bahu belakang kanan. Bila penyumbatan total, n kolik empedu tetap, penderita enek-enek, muntah, demam dan menggigil (k, tis), dan ikterus. Pada penderita mungkin sebelumnya telah ada sakit k empedu, atau makan yang telah diatur, di mana la tak tahan lemak. Pada pemc didapatkan penderita panas, kuning dan nyeri di perut kanan atas, leukc sedangkan urin normal.
Penanggulangan kolelitiasis atau kolesistitis dalam kehamilan, pada un konservatif yaitu istirahat, diet dan antibiotika. Tindakan operasi jarang dil; kecuali disangka atau didapatkan komplikasi berupa infeksi makin berat, n gangren atau perforasi.


Penyakit Hati Akibat Komplikasi Kehamilan
Beberapa komplikasi kehamilan dapat menyebabkan kelainan/penyakit h;
1. Ikterus rekurrens gravidarum
Dalam kehamilan, terutama dalam triwulan terakhir, dapat timbul ikterus ya: diketahui etiologinya, sering dimulai dan disertai dengan rasa gatal di selurul Kelainan ini sembuh dengan sendirinya dalam 2 minggu pertama nifas, untul lagi dalam kehamilan-kehamilan berikutnya. Nama-nama lain yang ser-ing di} untuk kelainan ini ialah ikterus idiopatik kehamilan, kolestatis idiopatik/ini tik, hepatotoksemi endogen, atau hepatosis obstetrik.
Kelainan utamanya ialah kolestasis intrahepatik dengan pewarnaan em tengah lobulus hepatis tanpa peradangan atau proliferasi mesenkim. Sel-sel h mengalami kerusakan. Secara klinis jalannya penyakit ringan. Selain ikte pruritus, gejala-gejala lain dapat pula dijumpai, seperti meningkatnya 1 (ringan), fosfatase alkalis (tidak selalu), dan glutamin oksaloasetik transmina: serum. Anoreksia, mual, muntah, nyeri epigastrium, dan diare serii merupakan keluhan penderita. Dalam diagnosis diferensial perlu disic kemungkinan penyakit hati lain, seperti hepatitis virus, keracunan obat, c empedu. Hilangnya gejala-gejala dalam masa nifas menyokong diagnosis. Pc an terutama simptomatik. Karena jalannya penyakit ringan dan tidak terdap; bukti yang menunjukkan pengaruh tidak baik terhadap janin, maka pen; kehamilan tidak diperlukan. Fenothiazide dengan tujuan untuk mengura gatal tidak boleh diberikan karena obat ini dapat menyebabkan ikterus. kadar protrombin rendah, penderita diberi suntikan vitamin K.

1. Atrofi kuning mendadak bati (acute yellow liver atropby)
Atrofi kuning mendadak hati sangat jarang dijumpai dalam kehamilan, dan dapat dibagi dalam 2 jenis, yakni a) atrofi kuning, mendadak akibat hepatitis virus dankeracunan obat; dan b) atrofi kuning mendadak obstetrik semata-mata akibat kehamilan.
a. Atrofi kuning mendadak akibat hepatitis dan obat ditandai dengan nekrosis luas jaringan hati tanpa infiltrasi lemak, dan dapat disertai gawat ginjal mendadak. Keadaan penderita sangat cepat memburuk, disertai ikterus yang berat dan koma; tidak lama kemudian biasanya penderita meninggal. Penyakit ini dapat dijumpai baik pada wanita hamil maupun pada wanita tidak hamil, dan pria.
b. Atrofi kuning mendadak obstetrik, yang khas bagi kehamilan, dilaporkan oleh Sheehan Ober dan Le Compte, dan Kahil dkk. Gejala-gejalanya biasanya timbul tiba-tiba dalam bulan terakhir kehamilan dengan muntah-muntah hebat dan nyeri epigastrium, disusul oleh ikterus yang progresif, koma, dan biasanya kematian. Penderita dapat melahirkan anak mati 7-12 hari setelah timbulnya gejala-gejala.

Etiologinya tidak diketahui dengan pasti. Mungkin sekali penyakit ini disebabkan oleh reaksi peka yang berlebihan terhadap suatu zat yang dihasilkan oleh kesatuan fetoplasenta, atau terhadap zat-zat eksogen.
Secara histologik kelainan yang sangat menonjol ialah infiltrasi lemak sel-sel hati tanpa peradangan dan nekrosis; selebihnya arsitektur jaringan hati tetap baik. Gambaran ini lazim disebut metamorfosis lemak hati. Atrofi hati tetrasiklin pada dasarnya sama; hanya sel-sel periportal ikut pula mengalami infiltrasi lemak. Sebaliknya, atrofi akibat hepatitis infeksiosa menunjukkan gambaran yang lain: tidak terdapat infiltrasi lemak, melainkan nekrosis sel-sel hati dan sel-sel periportal. Seperti pada atrofi hati mendadak lain-lain, tidak banyak dapat dilakukan untuk menyela¬matkan ibu dan janin. Pengobatan semata-mata simptomatik. Tidak terdapat bukti¬bukti yang meyakinkan bahwa pengakhiran kehamilan mernperbaiki prognosis. Apabila janin masih hidup, induksi persalinan dapat dipertimbangkan. Seksio sesarea merupakan kontraindikasi, kecuali atas tindakan obstetrik.

PANKREAS
Pankreatitis jarang dijumpai dalam kehamilan akan tetapi dapat diderita wanita hamil. Etiologinya belum diketahui, akan tetapi faktor predisposisi adalah adanya penyakit saluran empedu, peminum alkohol, pemberian obat diuretika thiazide dan antibiotika tetrasiklin. Gejala sering dikeluhkan penderita biasanya nyeri hebat di daerah epigastrium yang menjalar ke belakang, mual dan muntah-muntah, perut gembung, demam, bising usus menurun. Kadang-kadang menggigil dan ikterus ringan. Kira-kira 20% penderita dalam keadaan syok, koma. Laboratorium yang sangat membantu dalam mendiagnosis pankreatitis ini adalah meningkatnya kadar amilase serum dalam waktu 8 jam. Amilase urin juga meningkat di atas 300 unit/jam. Klearens amilase, mungkin lebih . spesifik untuk diagnosis pankreatitis. Bila digunakan hasil konsentrasi amilase dan kreatinin urin yang dikumpulkan bersama¬-sama danan amilase serum, maka akan didapat klearen amilase yaitu :

amilase urin x kreatin urin x 100
amilase serum x kreatinin urin

Bila angka hasil klearens amilase ini lebih besar dari 4.5, maka dapat dii diagnosis pankreatitis. Pengaruh pankreatitis ini pada ibu maupun pada jan tinggi, dilaporkan dapat terjadi kematian ibu 37% dan janin 38%. Oleh k diagnosis dan pengobatan haruslah cepat dibuat dan diberikan. Cara penan~ hampir sama dengan di luar kehamilan yaitu:
1. Ganti kekurangan cairan dalam pembuluh darah dengan darah, albur cairan, dan ini dimonitor dengan CVP (central venous pressure).
2. Monitor elektrolit, glukosa, dan kalsium darah, dan segera dikon menunjukkan kelainan.
3. Pasang slang lambung dan isap untuk mengurangi cairan yang d pankreas.
4. Diberi obat analgetika seperti meperidine 75-100 mg im, tiap 3-4 ja menghilangkan rasa sakit.
5. Pemberian antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder.
6. Pengakhiran kehamilan tidak dianjurkan dan tidak diperlukan.
7. Operasi hanya dilakukan pada keadaan tertentu, seperti abses yaj membesar, penyumbatan saluran empedu, perforasi.

C. Penyakit Ginjal Dan Saluran Kemih (Traktus Urinarius)
Dalam kehamilan terdapat perubahan-perubahan fungsional dan anatomik gin saluran kemih, yang sering menimbulkan gejala-gejala dan kelainan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Apabila hal iru tidak diperhatikan dan diperhitu; ada kemungkinan salah membuat diagnosis, sehingga dapat merugikan ibu dar, Perubahan anatomik terdapat peningkatan pembuluh darah, dan ruangan inte pada ginjal. Dan juga ginjal akan memanjang kira-kira 1 cm. Semuanya it, kembali normal setelah melahirkan. Ureter, pielum dan kaliks mengalami pel dalam waktu yang pendek sesudah kehamilan 3 bulan, dan terutama pada sisi s kanan. Pelebaran yang tidak sama ini mungkin karena perubahan uteru; membesar dan mengalami dekstrorotasi atau karena terjadinya penekanan pac ovarium kanan yang terletak di atas ureter, sedangkan pada yang sebelah kit terdapat karena adanya sigmoid sebagai bantalan. Pelebaran juga karena pei progesteron, sehingga terjadi hidroureter dan hidronefrosis fisiologis kehamilan. Ureter juga mengalami pemanjangan, melekuk dan kadang berpindah letak ke lateral, dan akan kembali normal 8-12 minggu setelah melahirkan. Semua hal di atas dapat dilihat dengan pemeriksaan pielografi intravena (IVP = intra pyelography).

Perubahan fungsi
Segera sesudah konsepsi, terjadi peningkatan aliran plasma (Renal Plasma Flow - RPF) dan tingkat filtrasi glomerolus (Glomerolus Filtration Rate = GFR). Sejak kehamilan trimester kedua GFR akan meningkat sampai 30-50%, di atas nilai normal wanita tidak hamil. Akibatnya akan terjadi penurunan dari kadar kreatinin serum dan urea nitrogen darah. Nilai normal kreatinin serum adalah 0,5 mg-0,7 mg/ 100 ml dan urea nitrogen darah 8 mg-12 mg/100 ml.

Infeksi saluran kemih
Infeksi saluran kemih adalah bila pada pemeriksaan urin, ditemukan bakteri yang jumlahnya lebih dari 10.000 per ml. Urin yang diperiksa harus bersih, segar dan dari aliran tengah (midstream) atau diambil dengan pungsi suprasimfisis. Ditemukan bakteri yang jumlahnya lebih dari 103 per ml ini disebut dengan istilah bakteriuria. Bakteriuria ini mungkin tidak disertai gejala, disebut bakteriuria asimptomatik, dan mungkin pula disertai gejala-gejala disebut bakteriuria simptomatik. Walaupun infeksi dapat terjadi karena penyebaran kuman melalui pembuluh darah atau saluran limfe, akan tetapi yang terbanyak atau tersering adalah kuman-kuman naik ke atas melalui uretra, ke dalam kandung kemih dan saluran kemih yang lebih atas. Kuman yang tersering dan terbanyak sebagai penyebab adalah Escherichia coli (E. coli), di samping kemungkinan kuman-kuman lain seperti Enterobacter aerogenes, Klebsiel¬la, Pseudomonas dan lain-lain.

a. Bakteriuria tanpa gejalu (asimptomatik)
Beberapa peneliti mendapatkan adanya hubungan kejadian bakteriuria ini dengan peningkatan kejadian anemia dalam kehamilan, persalinan prematur, gangguan pertumbuhan janin, dan preeklampsia. Oleh karena itu pada wanita hamil dengan bakteriuria harus diobati dengan seksama sampai air kemih bebas dari bakteri yang dibuktikan dengan pemeriksaan beberapa kali. Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian obat sulfonamid, ampisilin, atau nitrofurantoin.

b. Bakteriuria dengan gejala (simptomatik)

1. Sistitis
Sistitis adalah peradangan kandung kemih tanpa disertai radang bagian atas saluran kemih. Sistitis ini cukup scring dijumpai dalam kchamilan dan nifas. Kuman penyebab utama adalah E. coli, di samping dapat pula oleh kuman-ku Faktor predisgosisi lain adalah uretra wanita yang pendek, sistokel, adan kemih yang tertinggal, di samping penggunaan kateter yang sering dipa usaha mengeluarkan air kemih dalam pemeriksaan ginekologik atau F Penggunaan kateter ini akan mendorong kuman-kuman yang ada di ur untuk masuk ke dalam kandung kemih. Dianjurkan untuk tidak mer kateter, bila tidak perlu betul.
Gejala-gejala sistitis khas sekali, yaitu kencing sakit (disuria) terutama 1 berkemih, meningkatnya frekuensi berkemih dan kadang_kadang diserta bagian atas simfisis, perasaan in gin berkemih yang tidak dapat ditahan, kadang-kadang terasa panas, suhu badan mungkin normal atau meningkat, di daerah suprasimfisis. Pada pemeriksaan laboratorium, biasanya ditemuk leukosit dan eritrosit dan kadang-kadang juga ada bakteri. Kadang-kadan€ hematuria sedangkan proteinuria biasanya tidak ada.
Sistitis dapat diobati dengan sulfonamid, ampisilin, eritromisin. Perlu di1 obat-obat lain yang baik digunakan untuk pengobatan infeksi saluran ke tetapi mempunyai pengaruh tidak baik bagi janin, atau pun bagi ibu.


2. Pielonefritis Akuta
Pielonefritis akuta merupakan salah saru komplikasi yang sering dijum kehamilan, dan frekuensinya kira-kira 2%, terutama pada kehamilan te permulaan masa nifas.
Penyakit ini biasanya disebabkan oleh Escherichia coli, dan dapat kuman-kuman lain seperti Stafilokokkus aureus, Basillus proteus, dan pada fase aeruginosa. Kuman dapat menyebar secara hematogen atau limfogen, terbanyak berasal dari kandung kemih. Predisposisinya arltara lain yaitu kateter unruk mengeluarkan air kemih waktu persalinan atau kehamilan, yang tertahan sebab perasaan sakit wakru berkemih kareha trauma persal luka pada )alan lahir. Dianjurkan tidak menggunakan kateter untuk mengel kemih, bila tidak diperlukan betul. Per.derita yang meriderita pielonefri atau glomerulonefritis kronik yang sudah ada sebelum kehamilan, sangat mendorong terjadinya pielonefritis akuta ini.
Gejala-gejala penyakit biasanya timbul mendadak, wanita yang sebelumnya merasa sakit sedikit pada kandung kemih, tiba-tiba mengigil, badan panas, nyeri di punggung (angulus.kostovertebralis) terutama sebelah kanan.
Pengobatan pielonefritis akuta, penderita harus dirawat, istirahat berbaring, dan diberikan cukup cairan dan antibiotika seperti ampisilin atau sulfonamid, sampai tes kepekaan kuman ada, kemudian antibiotika disesuaikan dengan hasil tes kepekaan tersebut. Biasanya pengobatan berhasil baik, walaupun kadang-kadang penyakit ini dapat timbul lagi. Pengobatan sedikitnya dilanjutkan selama 10 hari, dan kemudian penderita harus tetap diawasi akan kemungkinan berulangnya penyakit. Perlu diingat ada obat-obat yang tidak boleh diberikan pada kehamilan walaupun mungkin baik untuk pengobatan infeksi saluran kemih seperti tetrasiklin. Terminasi kehamilan segera biasanya tidak diperlukan, kecuali apabila pengobatan tidak berhasil atau fungsi ginjal makin memburuk. Prognosis bagi ibu umumnya cukup baik bila pengobatan cepat dan tepat diberikan, sedangkan pada hasil konsepsi seringkali menimbulkan keguguran atau persalinan prematur.

3. Pielonefritis Kronika
Pielonefritis kronika biasanya tidak atau sedikit sekali menunjukkan gejala-gejala penyakit saluran kemih, dan merupakan predisposisi terjadinya pielonefritis akuta dalam kehamilan. Penderita mungkin menderita tekanan darah tinggi. Pada keadaan penyakit yang lebih berat didapatkan penurunan tingkat filtrasi glumerolus (G.F.R), dan pada urinalisis urin mungkin normal, mungkin ditemukan protein kurang dari 2 g per hari, gumpalan sel-sel darah putih.
Prognosis bagi ibu dan janin tergantung dari luasnya kerusakan jaringan ginjal. Penderita yang hipertensi dan insufisiensi ginjal mempunyai prognosis buruk. Penderita ini sebaiknya tidak hamil, karena risiko tinggi. Pengobatan penderita yang menderita pielonefritis kronika ini tidak banyak yang dapat dilakukan, dan kalau menunjuk ke arah pielonefritis akuta, terapi seperti yang telah diuraikan. Perlu dipertimbangkan untuk terminasi kehamilan pada penderita yang menderita pielonefritis kronika.

4. Glomerulonefritis Akuta
Glomeruionefritis akuta jarang dijumpai pada wanita hamil. Penyakit ini dapat timbul setiap saat dalam kehamilan, dan penderita nefritis dapat menjadi hamil. Yang menjadi penyebab biasanya Streptococcus beta-haemolyticus jenis A. Sering ditemukan bahwa penderita pada saat yang sama atau beberapa minggu sebelumnya menderita infeksi jalan pernapasan, seperti tonsillitis, atau infeksi lain-lain oleh streptokokkus, suatu hal yang menyokong teori infeksi fokal.
Gambaran klinik ditandai oleh timbulnya hematuria dengan tiba-tiba, edema dan hipertensi pada penderita yang sebelumnya tampak sehat. Kemudian sindroma ditambah dengan oliguria sampai anuria, nyeri kcpala, dan mundurnya visus (retinitis albuminika). Diagnosis menjadi sulit apahila timbul serangan kejang-kejang dengan atau tanpa koma yang disebabkan oleh komplikasi hipertensi serebral, uremia, atau apabila timbul edema paru-paru akut. Apabila penyakitnya dalam triwulan III, maka perbedaan dengan pre-eklampsia dan eklamp,, harus dibuat. Pemeriksaan air kencing menghasilkan sebagai berikut proteinuria, ditemukan eritrosit dan silinder hialin, silinder korel dan eritrosit.

Pengobatan sama dengan di luar kehamilan dengan perhatian khusus, baring, diet yang sempurna dan rendah garam, pengendalian hipertei keseimbangan cairan dan elektrolit. Untuk pemberantasan infeksi cuku penisillin, karena streptokokkus peka terhadap penisilin. Apabila ini tidak maka harus dipakai antibiotika yang sesuai dengan hasil tes kepekaan.
Biasanya penderita sembuh tanpa sisa-sisa penyakit dan fungsi ginjal y, baik. Kehamilan dapat berlangsung sampai lahirnya anak hidup, dan diinginkan wanita 6oleh hamil lagi di kemudian hari. Ada kalanya penyakit menahun dengan segala akibatnya. Pada umumnya prognosis bagi ibu cuk Kematian ibu sangat jarang, dan apabila terjadi biasanya itu disebabl dekompensasi kordis, komplikasi serebro-vaskuler, anuria dan uremia.
Kehamilan tidak banyak mempengaruhi jalan penyakit. Sebaliknya glom fritis akuta mempunyai pengaruh tidak baik terhadap hasil konsepsi; teruta disertai tekanan darah yang sangat tinggi dan insufisiensi ginjal, dapat meny abortus, partus prematurus dan kematian janin.

5. Glomerulonefritis Kronika
Wanita hamil dengan glomerulonefritis kronika sudah menderita pen3 beberapa tahun sebelumnya. Karena itu, pada pemeriksaan kehamilan pertat dijumpai proteinuria, sedimen yang tidak normal, dan hipertensi. T)iagnosi dibuat bila d:jumpai proteinuria, sedimen yang tidak normal, dan hipertensi. gejala-gejala penyakit baru timbul dalam kehamilan yang sudah lanjut, atau c dengan pengaruh kehamilan (superimposed pre-eklampsia), maka lebih su, membedakannya dari pre-eklampsia murni.
Suatu ciri tetap ialah makin memburuknya fungsi ginjal karena makin Ian banyak kerusakan yang diderita oleh glomerulus-glomerulus ginjal, bahkaj tercapai tingkat akhir, yakni apa yang disebut ginjal kisut. Penyakit ini menampakkan diri dalam 4 macam: (1) hanya terdapat proteinuria menetapatau tanpa kelainan sedimen; (2) dapat menjadi jelas sebagai sindroma nefrotik dalam bentuk mendadak seperti pada glomerulonefritis. akuta; dan (4) gagal ginjal sebagai penjelmaan pertama. Keempat-empatnya dapat menimbulkan gejala insufisiensi ginjal dan penyakit kardiovaskuler hipertensif.
Pengobatan tidak memberi hasil yang memuaskan karena penyakitnya bertambah berat. Peningkatan penyakit, tensi yang sangat tinggi, dan tambahan dengan pielonefritis akuta harus ditanggulangi dengan seksama. Dalam hal- ha1 terakhir pengakhiran kehamilan perlu dipertimbangkan. Sebaiknya penderita glomerulonefri¬tis kronika tidak menjadi hamil. Karena kerusakan ginjal berbeda-beda pada waktu penderita ditemukan hamil, maka sulit untuk menafsirkan pengaruh kehamilan pada jalan penyakit. Yang tanpa kehamilan juga makin lama makin menjadi lebih buruk. Agaknya kehamilan tidak mempercepat proses kerusakan ginjal, walaupun sebalik¬nya dapat pula terjadi.
Prognosis bagi ibu akhiarnya buruk: ada yang segera meninggal, ada yang agak lama. Hal itu tergantung dari luasraya kerusakan ginjal waktu diagnosis dibuat, dan ada atau tidak adanya faktor-faktor yang mempercepat proses penyakit.
Prognosis bagi janin dalam kasus tertentu tergantung pada fungsi ginjal dan derajat hipertensi. Wanita dengan fungsi ginjal yang cukup baik tanpa hipertensi yang berarti dapat melanjutkan kehamilan sampai cukup bulan walaupun biasanya bayinya lahir dismatur akibat insufisiensi plasenta. Apabila penyakit sudah berat, apalagi disertai tckanan darah yang sangat ti.nggi, biasanya kehamilan berakhir dengan abortus dan isartus prematurus, atau janin mati dalam kandungan.

6. Sindroma Nefrotik
Sindroma nefrotik, yang dahulu dikenal dengan nama nefrosis, ialah suatu kumpulan gejala yang terdiri atas edema, proteinuria (lebih dari 5 gram sehari), hipoalbumine¬mia, dan hiperkolesterolemia. Mungkin sindroma ini diakibatkan oleh reaksi antigen¬antibodi dalam pembuluh-pembuluh kapiler glomerulus. Penyakit-penyakit yang dapat menyertai sindroma nefrotik ialah glomerulo-nefritis kronika (paling sering), lupus eritematosus, diabetes mellitus, amiloidosis, sifilis dan trombosis vena renalis. Selain itu sindroma ini dapat pula timbul akibat keracunan logam berat (timah, air raksa), obat-obat anti kejang, serta racun serangga.
Apabila kehamilan disertai sindroma nefrotik, maka pengobatan serta prognosis ibu dan anak tergantung pada faktor penyebabnya dan pada beratnya insufisiensi ginjal.
Sedapat mungkin faktor penyebabnya harus dicari; jikalau perlu, dengan biopsi ginjal. Penderita harus diobati dengan seksama, atau pemakaian obat-obat yang menjadi sebab harus dihentikan. Penderita diberi diet tinggi-protein. Infeksi sedapat¬dapatnya dicegah dan yang sudah ada harus diberantas dengan antibiotika. Tromboembolismus dapat timbul dalam nifas. Siberman dan Adam menganjurkan pengobatan antibeku (heparin) dalam nifas pada wanita dengan sindroma nefrotik. Dapat pula diberi obat-obat kortikosteroid dalam dosis tinggi.

Gagal Ginjal Mendadak Dalam Kehamilan
Gagal ginjal mendadak (acute renal failure) merupakan komplikasi yang san€ dalam kehamilan dan nifas, karena dapat men' mbulkan kematian, atau k fungsi ginjal yang tidak bisa sembuh lagi. Kejadiannya 1 dalam 13 kehamilan.
Kelainan ini didasari oleh dua jenis patologi.
1. Nekrosis tubular akut, apabila sumsum ginjal mengalami kerusakan
2. Nekrosis kortikal bilateral apabila sampai kedua ginjal yang menderita

Penderita yang mengalami sakit gagal ginjal mendadak ini sering dijum kehamilan muda 12-18 minggu, dan kehamilan telah cukup bulan. Pada k, muda, sering disebabkan oleh abortus -septik yang disebabkan oleh Chlostridia welchii atau streptokokkus. Gambaran klinik yaitu berupa sel adanya tanda-tanda oliguria mendadak dan azothemia serta pembekua intravaskuler (DIC = disseminated intravascular coagulation), sehingg nekrosis tubular yang akut. Kerusakan ini dapat sembuh kembali bila k tubulus tidak terlalu luas dalam waktu 10-14 hari. Seringkali dilakukan histerektomi untuk mengatasinya, akan tetapi ada peneliti yang menganjurkan perlu melakukan operasi histerektomi tersebut asal pada penderita.
Penderita dapat meninggal dalam waktu 7-14 hari setelah timbulnya Kerusakan jaringan dapat terjadi di beberapa tempat yang tersebar atau ke jaringan ginjal.
Gagal ginjal dalam kehamilan ini dapat dicegah bila dilakukan:
1) penanganan kehamilan dan persalinan dengan baik;
2) perdarahan, syok, dan infeksi segera diatasi atau diobati dengan bail
3) pemberian transfusi darah dengan hati-hati.

Batu ginjal dan Saluran Kemih (Urolitiasis)
Batu saluran kcmih dalam kehamilan tidaklah biasa. Frekuenyinya sanmpai (0,03---0,07%). Walaupun demikian perlu juga diperhatikan karena urulitiasis mendorong timbulnya infeksi saluran kemih, atau menimbulkan keluhan pada penderita berupa nyeri mendadak, kadang-kadang berupa kolik, dan hematuria. Perlu anamnesis tentang riwayat penyakit penderita sebelumnya, terutama mengenai penyakit saluran kencing, untuk membantu membuat diagnosis urolitiasis. Diagnosis lebih tepat dengan melakukan perneriksaan intravenus pielografi; akdst cetapi janin harus diIindungi dari efek penyinaran. Dewasa ini dapat pula dengan USG (ultrasonografi) dan MRI (Magnetic Resonance Imaging). Bila diketahui adanya urolitiasis dalam kehamilan, terapi pertama adalah analgetika untuk menghilangkan sakitnya, diberi cairan banyak agar batu dapat ke bawah, karena hampir 80% batu akan dapat turun ke bawah, serta antibiotika. Pada penderita yang membutuhkan tinclakan operasi, sebaiknya operasi dilakukan setelah trimester pertama atau setelah partum.


1. Ginjal Polikistik
Ginjal polikistik merupakan kelainan bawaan (herediter). Kehamilan umumnya tidak empengaruhi perkembangan pembentukan kista pada ginjal, begitu pula sebalik¬ya. Akan tetapi bila fungsi ginjal kurang baik, maka kehamilan akan memperberat atau merusak fungsinya. Sebaliknya wanita yang telah mempunyai kelainan sebaiknya tidak hamil karena kemungkinan timbul komplikasi akibat kehamilan selalu tinggi.

2. Tuberkolosis Ginjal
Jarang dijumpai wanita hamil dengan tuberkulosis ginjal, walaupun dalam literatur disebutkan ada. Kehamilan akan mempengaruhi TBC ginjal tersebut bila tidak diobati. TBC pada ginjal dapat hamil terus, asal fungsi ginjalnya baik. Terapi TBC ginjal sama dengan terapi TBC organ-organ lain. Untuk membuat diagnosis TBC ginjal diperlukan pemeriksaan laboratorium khusus.

lihat artikel selengkapnya - Penyakit-penyakit dalam kehamilan
iklan2

iklan0
Pemeriksaan kehamilan (ANC)

iklan1
Pemeriksaan kehamilan (ANC):
A. Pengertian
  • Pemeriksaan antenatal care (ANC) adalah pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil. Sehingga mampu menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan pemberiaan ASI dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar (Manuaba, 1998).
  • Kunjungan Antenatal Care (ANC) adalah kunjungan ibu hamil ke bidan tahu dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan/asuhan antenatal. Pada stiap kunjungan antenatal (ANC), petugas mengumpulkan dan menganalisis data mengenai kondisi ibu melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk mendapatkan diagnosis kehamilan intrauterine, serta ada tidaknya masalah atau komplikasi (Saifudin, 2002).
  • Pemeriksaan kehamilan (ANC) merupakan pemeriksaan ibu hamil baik fisik dan mental serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas, sehingga keadaan mereka post partum sehat dan normal, tidak hanya fisik tetapi juga mental (Prawiroharjo, 1999).
  • Kunjungan ibu hamil atau ANC adalah pertemuan antara bidan dengan ibu hamil dangan kegiatan mempertukarkan informasi ibu dan bidan. Serta observasi selain pemeriksaan fisik, pemeriksaan umum dan kontak sosial untuk mengkaji kesehatan dan kesejahteraan umumnya (Salmah, 2006).
  • Kunjungan Antental Care (ANC) adalah kontak ibu hamil dengan
  • pemberi perawatan/asuhan dalam hal mengkaji kesehatan dan
  • kesejahteraan bayi serta kesempatan untuk memperoleh informasi dan memberi informasi bagi ibu dan petugas kesehatan (Henderson, 2006).


B. Tujuan
1. Tujuan Umum dari ANC adalah sebagai berikut :
a. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang janin.
b. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, maternal dan sosial ibu dan bayi.
c. Mengenal secara dini adanya komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakti secara umum, kebidanan dan pembedahan.
d. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
e. Mempesiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI Eksklusif.
f. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.
g. Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal.
Menurut Depkes RI(1994) tujuan ANC adalah untuk menjaga agar ibu hamil dapat melalui masa kehamilannya, persalinan dan nifas dengan baik dan selamat, serta menghasilkan bayi yang sehat.
Menurut Rustam Muchtar (1998) adalah :
Tujuan umum adalah menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu dan anak selama dalam kehamilan, persalinan, dan nifas, sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat.

2. Tujuan khusus
a. Mengenali dan menangani penyulit-penyulit yang mungkin dijumpai dalam kehamilan,persalinan,dan nifas.
b. Mengenali dan mengobati penyulit-penyulit yang mungkin diderita sedini mungkin.
c. Menurunkan angka morbilitas ibu dan anak.
d. Memberikan nasihat-nasihat tentang cara hidup sehari-hari dan keluarga berencana, kehamilan, persalinan, nifas dan laktasi.
Menurut Hanifa Wiknjosastro (1999) tujuan ANC adalah menyiapkan wanita hamil sebaik-baiknya fisik dan mental serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan, dan masa nifas, sehingga keadaan mereka pada post partum sehat dan normal, tidak hanya fisik tetapi juga mental.
C. Jadwal Pemeriksaan Kehamilan
Menurut Abdul Bari Saifudin, kunjungan antenatal untuk pemantauan dan pengawasan kesejahteraan ibu dan anak minimal empat kali selama kehamilan dalam waktu sebagai berikut : sampai dengan kehamilan trimester pertama (<14 minggu) satu kali kunjungan, dan kehamilan trimester kedua (14-28 minggu) satu kali kunjungan,dan kehamilan trimester ketiga (28-36 minggu dan sesudah minggu ke-36) dua kali kunjungan.
Walaupun demikian, disarankan kepada ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya dengan jadwal sebagai berikut : sampai dengan kehamilan 28 minggu periksa empat minggu sekali, kehamilan 28-36 minggu perlu pemeriksaan dua minggu sekali, kehamilan 36-40 minggu satu minggu sekali (Salmah, 2006).
Sebaiknya tiap wanita hamil segera memeriksakan diri ketika haidnya terlambat sekurang-kurangnya satu bulan. Pemeriksaan dilakukan tiap 4 minggu sampai kehamilan. sesudah itu, pemeriksaan dilakukan tiap 2 minggu, dan sesudah 36 minggu (Sarwono, 1999).

D. Pemeriksaan Kehamilan
Dalam masa kehamilan ibu harus memeriksakan kehamilan ke tenaga kesehatan paling sedikit 4 kali:
1. Trismester I : 1 kali
2. Trismester II : 1 kali
3. Trismester III : 2 kali
Pertumbuhan Janin Selama Kehamilan Yaitu Umur:
8 minggu 2,5 cm  hidung kuping jari-jari mulai dibentuk kepala membungkuk ke dada
2 minggu 9 cm  daun kuping lebih jelas, kelopak mata masih melekat, leher mulai dibentuk, alat genetalia mulai terbentuk
6 minggu - 18 cm  genetalia mulai terbentuk dan dapat dikenal
20 minggu - 25 cm  kulit lebih tebal opak dengan rambut halus
24 minggu - 30 – 32 cm  kelopak mata terpisah alis dan bulu mata ada kulit keriput
28 minggu - 35 cm  berat 100 gr

E. Pelaksanaan ANC
Hal-Hal yang dilakukan Bidan saat Kunjungan
1. Tinjauan catatan.
Sesaat sebelum menemui wanita, bidan harus kembali meninjau catatan wanita tersebut untuk mengetahui informasi berikut :
1. Nama
2. Usia
3. Paritas
4. Usia kehamilan dalam hitungan minggu berdasarkan tanggal


5. Temuan signifikan dari :
a) Riwayat kebidanan
b) Riwayat perawatan primer dan medis sebelumnya
c) Riwayat keluarga
d) Riwayat kehamilan saat ini
e) Pemeriksaan fisik awal.
f) Pemeriksaan panggul awal.
6. Masalah, penatalaksanaan, dan evaluasi efektivitas terapi yang diidentifikasi sebelumnya.
7. Setiap masalah dan harapan, rencana yang dibuat, dan intruksi yang diberikan.
8. Obat, terapi dan kebutuhan diet tertentu yang merupakan tanggung jawab wanita tersebut saat ini.
9. Hasil laboratorium :
a) Hasil tes: normal atau tidak
b) Apakah tes terlalu perlu diulang
c) Apakah perlu dilakukan penyelidikan dan tes laboratoriu, lebih lanjut.
Tinjauan ulang
Tinjau ulang catatan yang dilakukan secara komprehensif akan membantu bidan :
(1) Mengingat kembali temuan, masalah dan hal tertentu yang memerlukan perhatianm aspek-aspek unik yang berkaitan dengan masing-masing wanita.
(2) Mengevaluasi kelengkapan data-data dasar.
(3) Mengevaluasi efektifitas dan kelengkapan piñatalaksanaan sebelumnya.

2. Riwayat
Riwayat kunjungan ulang mendasar dirancang untuk mendeteksi setiap gejala atau hal subyektif tertentu yang mengidikasi komplikasi atau rasa tidak nyaman yang dialami setiap wanita sejak kunjungan terakhirnya anda harus mengajukan pertanyaan tentang hal-hal berikut :
1) Setiap masalah, keluhan, pertanyaan atau masalah yang ia miliki
2) Nyeri kepala
3) Gangguan penglihatan
4) Pusing
5) Demam / menggigil
6) Mual/ Muntah-muntah
7) Pergerakkan janin
8) Nyeri abdomen/kontraksi
9) Nyeri punggung
10) Disuria
11) Rebas vagina / cairan yang keluar
12) Pendarahan pervagina
13) Konstipasi/ hemoroid
14) Varises/nyeri pada tungkai
15) Kram pada tungkai
16) Edema (pada pergelangan kaki, pretibia, wajah, tangan)
17) Pajanan penyakit menular
18) Penggunaan obat-obatan selain yang diresepkan (mis. Aspirin)
19) Setiap perubahan dalam hubungan, misalnya wanita tersebut mulai dianiaya atau penganiayaan yang dialami meningkat.
20) Setiap perawatan medis yang diterima sejak kunjungan terakhir (missal. Oleh dokter, perawat diruang gawat darurat) alasanya, diagnosa, terapi, perawatan lanjutan.

Selain itu wanita tersebut ditanyai tentang kemungkinan ia mengalami ketidak nyamanan, masalah,dan keinginan untuk mengetahui informasi tentang usia kehamilan pada saat kunjungan ulang (missal ketidak nyamanan dan masalag yang sering muncul pada saat trimester ini, perkembangan bayi selama bulan ini), serta setiap rencana yang mungkin ia miliki untuk menghadiri kelas persiapan persalinan dan persiapan menjadi orang tua (termasuk menyusui). Bidan juga perlu memasukkan setiap temuan signifikan yang di identifikasi selama meninjau kembali catatan wanita tersebut.
3. Pemeriksa Fisik
Pada setiap kunjungan ulang antepartum, pemeriksaaan fisik berikut harus dilakukan untuk mendeteksi setiap tanda komplikasi dan mengevaluasi kesejahteraan janin :
a) Tekanan darah (bandingkan dengan ukuran darah dasar yang diperoleh pada kunjungan pertama. Catat hasil tekanan darah sepanjang masa hamil hingga saat ini )
b) Badan (bandingkan berat badn sebelum hamil, catat julah pon kenaikan berat setiap minggu sejak kunjungan terakhir, perhatikan pola kenaikan berat badan)
c) Pemeriksaan abdomen untuk mengetahui :
1. Letak, presentasi, posisi, dan jumlah
2. penancapan (engagement)
3. Pengukuran tinggi fundus (bandingkan dengan ukuran pada kunjungan sebelumnya, catat pola pertumbuhan uterus)
4. Evaluasi kasar volume cairan amnion
5. Observasi atau palpasi gerakan janin.
6. Perkiraan berat badan janin (bandingkan dengan perkiraan berat badan pada kinjungan sebelumnya)
7. Denyut jantung janin (catat frekuemsi dam lokasinya )
d) Nyeri tekan CVA
e) Pemeriksaan ekstremitas atas untuk melihat adanya edema pada jari (perhatikan apakah cincin menjadi terlalu sempit dan tanyakan apakah lebih sempit dari biasanya, tanyakan juga apakah ia tidak mengenakan cincin yang biasa ia kenakan karena sudah terlalu sempit, atau apakah ia memindahkan cinicin tersebut ke jari yang lain)
f) Pemeriksaan ekstremitas bawah untuk meilhat adanya :
1. Edema pada pergelangan kaki dan pretibia
2. Refleks tendon dalam pada kuadrisep (kedutan-lutut (knet-jerk)
3. Varises dan tanda humans, jika ada indikasi.
Setelah pemeriksaan fisik awal, bidan perlu melakukan pemeriksaan payudara kurang lebih sekali sebulan. Pemeriksaan fisik ini dilakukan untuk mengetahui apakah payudara mendapat topangan yang adekuat dan melihat adanya pergerakan akhibat kebocoran pada ujung putting. Apabila wanita tersebut berencana menyusui bayinya, maka putting ayudaranya harus kembali diperiksa pada usia kehamilan 36 minggu untuk memastikan perlunya tindakan untuk mengeluarkan puting yang datar atau masuk kedalam.
4. Pemeriksaan Panggul
Setelah pemeriksaan awal, bidan harus melakukan beberapa atau semua komponen pemeriksaan panggul berikut sesuai indikasi, yakni:
a) Pemeriksaan dengan speculum jika wanita tersebut mengeluh terdapat rabas pervagina.
1. Perhatikan adanya tanda-tanda infeksi vagima yang muncul dan ambil materi untuk pemeriksaan diagnostic dengan menggunakan preparat apusan basah; ambil specimen gonokokus dan klamidia untuk tes diagnostic.
2. Evaluasi terapi yang telah dilakukan untuk mengatasi infeksi vagina (tes penyembuhan ) jika muncul gejala; evaluasi tidak perlu dilakukan bila wanita tidak menunjukkan gejala
3. Ulangi pap smear, jika diperlukan
4. Ulangi tes diagnostic gonokokus dan klamidia pada trimester ke tiga.
5. Konfirmasi atau singkirkan kemungkinan pecah ketuban dini
b) Pelvimetri klinis pada akhir trimester ketiga jika panggul perlu dievaluasi ulang atau jika tidak memungkinkan untuk memperoleh informasi ini pada pemeriksaan awal karena wanita tersebut menolak diperiksa
c) Pemeriksaan dalam jika wanita menunjukkan tanda/ gejala persalinan premature untuk mengkaji:
1. Konsistensi serviks
2. Penipisan (effacement)
3. Pembukaan
4. Kondisi membrane
5. Penancapan / stasiun
6. Bagian presentasi
Beberapa bidan juga melakukan pemeriksaan pervaginan secara rutin pada kehamilan 40 minggu menurut penanggalan dan setelahnya guna menentukan “kematangan” (kesiapan)seviks untuk menghadapi persalinan.
Banyak bidan, meski tidak semua, yakin bahwa mereka harus melakukan pemeriksaan panggul pada kehamilan 36 minggu termasuk mengulangipelvimetri klinis, mengambil specimen untuk tes diagnostic gonokokus, klamidia dan GBS dan mengevaluasi kondisi serviks. Para bidan memandang hal ini sebagai bagian evaluasi ulang total pada seorang wanita pada saat tersebut. Evaluasi ulang total ini juga mencakup setiap tes laboratorium.

5. Tes Laboratorium dan tes penunjang
Spesimen urine diambil pada setiap kunjungan ulang untuk digunakan pada tes dipstick guna mengetahui kandungan protein atau glukosa didalamnya. Tes laboratorium dan tes penunjang lain yang diprogramkan selama pemeriksaan antepartum awal ditinjau kembali untuk dipelajari hasilnya. Semua wanita harus menjalani penapisan diabetes pada minggu ke 28 dan penapisan streptokokus B pada minggu ke-35 hingga ke-37. kebijakan praktik institusi bervariasi dalam hal pengulangan tes laboratorium rutin yang diperoleh pada kunjungan awal. Beberapa kebijakan menetapkan tes diulang hanya jika ada indikasi menurut riwayat, temuan pada pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan panggul. Temuan ini meliputi hemoglobin dan hematokrit, VDRL, gonorea, klamidia dan titer antibody pada wanita dengan Rh negative sebelum menerima RhoGAM profilaksis pada usia kehamilan 28 minggu. Tes laboratorium dan tes penunjang lainnya dilakukan jika temuan yang diperoleh pada pengkajian riwayat, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan panggul serta tes laboratorium sebelumnya mengindikasikan pemeriksaan diagnostic lebih lanjut.

6. Memberikan Konseling
Gizi, peningkatan konsumsi makanan hingga 300 kalori per hari, mengonsumsi makanan yang mengandung protein, zat besi, minum cukup cairan (menu seimbang)
Latihan, normal tidak berlebihan, istirahat jika lelah.
Perubahan Fisiologi : tambah berat badan, perubahan pada payudara, tingkat tenaga yang bisa menurun, mual selama triwulan pertama, rasa panas dan atau varises, hubungan suami istri boleh dilanjutkan selama kehamilan (dianjurkan memakai kondom)
Menasehati ibu untuk mencari pertolongan segera jika ia mendapati tanda-tanda bahaya berikut :
1) Pendarahan pervagina
2) Sakit kepala lebih dari biasa
3) Gangguan penglihatan
4) Pembekakan pada wajah/tangan
5) Nyeri abdomen (epigastrik)
6) Janin tidak bergerak sebanyak biasanya.

F. Penatalaksanaan
Pengumpulan data dasar melalui pengkajian riwayat pemeriksaan fisik dan panggul, tes laboratorium dan tes penunjang lain merupakan langkah pertama pada proses penatalaksanaan. Langkah-langkah berikutnya pada proses penatalaksanaan ini bergantung pada data dasar yang diperoleh dan intepretasi data tersebut. Intepretasi terhadap pada data dasar tersebut (langkah 2 pada proses penatalaksanaan)mencakup hal-hal di bawah ini:
1. Menentukan normal tidaknya kondisi kehamilan dari data yang diperoleh.
2. Membedakan antara ketidaknyamanan yang umum dialami pada saat hamil dan komplikasi yang mungkin terjadi.
3. mengindentifikasi tanda dan gejala penyimpangan yang mungkin dari kondisi normal atau komplikasi
4. Mengidentifikasi area tertentu yang erlu dipelajari.
Antisipasi masalah potensial terkait (langkah 3)adalah hal yang penting pada pengembangan rencana perawatan yang komprehensif. Evaluasi terhadap kebutuhan akan intervensi yang segera oleh bidan atau dokter dan atau untuk konsultasi atau penatalaksanaan kolaboratif dengan anggota tim perawat kesehatan (langkah 4) penting hanya jika terdapat penyimpangan dari nilai normal, dengan atau tanpa situasi kedaruratan.
Poin-poin dalam pemeriksaan Antenatal :
1. Tanggal
2. Keluhan Ibu
3. Berat badan
Mulai kehamilan 3-4 bulan, kenaikan berat badan kurang lebih 0.5 kg seminggu. Bila dalam trimester 3 berat badan naik lebih 0.5 kg seminggu harus waspada kemungkinan terjadi pre eklampsia.
4. Tinggi Dasar Rahim
Diperhatikan apakah tinggi dasar rahim sesuai dengan umur kehamilan yang diperkirakan dari tanggal haid terakhir.
5. Usia kehamilan
6. Letak janin dan turunnya kepala
Bila ada kelainan letak pada kehamilan 34-36 minggu diusahakan memperbaiki letak janin. Pada kelainan letak kemungkinan disproporsi panggul janin harus diperhatikan.
7. Detak jantung janin
Bila tidak terdengar, raba atau lihatlah adanya gerakan janin, atau ditanya pada penderita merasa atau tidak gerak janin.



8. Tekanan darah
Tekanan darah diatas 140/90 mmHg atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih, atau kenaikan diastolic 15 mmHg atau lebih mencurigakan adanya pre eklampsia.
9. Edema
Bila jelas ada edema pada kaki, kemungkinan pre eklampsia harus dipikirkan, lebihy-lebih bila terdapat edema pada wajah dan tangan.
10. Refleks
11. Pendarahan
12. Albumin
13. Reduksi
14. Hb
15. Diagnosa
16. Pengobatan dan nasehat
Selain di beri pengobatan rutin, bila ditemukan kelainan penderita di beri pengobatan khusus atau bila perlu dirujuk.
17. Tanggal kunjungan ulang berikutnya

G. Nasehat Kehamilan
Makan makanan bergizi dengan menu seimbang dan porsinya 2 kali lebih banyak dari biasanya (pada saat tidak hamil)
Periksa setiap bulan agar diketahui apabila terdapat gangguan pada ibu hamil dan bayi yang dikandung dan dapat segera ditolong oleh tenaga kesehatan
Imunisasi TT 2 kali selama kehamilan untuk mencegah tetanus pada bayi baru lahir
Minum obat tablet darah 1 kali sehari sekurang-kurangnya 90 tablet selama kehamilan sampai 40 hari setelah melahirkan untuk mencegah (1 tablet/ hari)
Perawatan payudara untuk produksi air susu lebih banyak/lancar
Jaga kebersihan diri
Cukup istirahat

lihat artikel selengkapnya - Pemeriksaan kehamilan (ANC)
iklan2

iklan0
Konsep Dasar Mutu Pelayanan Kesehatan

iklan1

rumah-sakit


Mutu” adalah tingkat dimana pelayanan kesehatan pasen ditingkatkan mendekati hasil yang diharapkan dan mengurangi faktor-faktor yang tidak diinginkan (JCAHO 1993). Definisi tersebut semula melahirkan 12 faktor-faktor yang menentukan mutu pelayanan kesehatan, belakangan dikonversi menjadi dimensi ‘mutu kinerja’ (performance) yang dituangkan dengan spesifikasi seperti dibawah ini :
1. Kelayakan  adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan yang dilakukan relevan terhadap kebutuhan klinis pasen dan memperoleh pengetahuan yang berhubungan dengan keadaannya.
2. Kesiapan  adalah tingkat dimana kesiapan perawatan atau tindakan yang layak dapat memenuhi kebutuhan pasen sesuai keperluannya.
3. Kesinambungan  adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan bagi pasen terkoordinasi dengan baik setiap saat, diantara tim kesehatan dalam organisasi .
4. Efektifitas  adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan terhadap pasen dilakukan dengan benar, serta mendapat penjelasan dan pengetahuan sesuai dengan keadaannya, dalam rangka memenuhi harapan pasen.

5. Kemanjuran  adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan yang diterima pasen dapat diwujudkan atau ditunjukkan untuk menyempurnakan hasil sesuai harapan pasen.
6. Efisiensi  adalah ratio hasil pelayanan atau tindakan bagi pasen terhadap sumber-sumber yang dipergunakan dalam memberikan layanan bagi pasen..
7. Penghormatan dan perhatian  adalah tingkat dimana pasen dilibatkan dalam pengambilan keputusan tentang perawatan dirinya. Berkaitan dengan hal tersebut perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan pasen serta harapan-harapannya dihargai.
8. Keamanan  adalah tingkat dimana bahaya lingkungan perawatan diminimalisasi untuk melindungi pasen dan orang lain, termasuk petugas kesehatan.
9. Ketepatan waktu  adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan diberikan kepada pasen tepat waktu sangat penting dan bermanfaat.

Upaya pencarian terhadap hal-hal penting yang dicakup dalam definisi tentang “MUTU” telah banyak dibahas dalam literatur. Donabedian menyatakan bahwa, tidak satupun definisi dapat memenuhi persyaratan dengan tepat tentang arti “mutu”, dan untuk mengatasi hal tersebut ada tiga pengertian yang diberikan yaitu:
(1) Definisi absolutis  mutu adalah pertimbangan atas kemungkinan adanya keuntungan dan kerugian terhadap kesehatan sebagai dasar tata nilai praktisi kesehatan tanpa memperhatikan biaya.
(2) Definisi individualistis  berfokus pada keuntungan dan kerugian dari harapan pasen dan konsekwensi lain yang tidak diharapkan.
(3) Definisi sosial  mutu meliputi beaya pelayanan, kontinum dari keuntungan atau kerugian, serta distribusi pelayanan sebagai rata nilai masyarakat secara umum.

Tantangan yang dihadapi oleh praktisi adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara nilai-¬nilai kemanusiaan, sumber-sumber teknologi, kualitas hidup, inovasi dan kenyataan ekonomi, yang memungkinkan untuk memberikan pelayanan terbaik. Hal tersebut tidak berarti menghilangkan pengertian universal dari mutu untuk memperoleh pengakuan. Ketiadaan definisi formal tentang mutu, bukan berarti pasen atau provider tidak akan dapat mengidentifikasi ketiadaan mutu itu sendiri, atau mutu yang berada dibawah standar, misalnya: makanan disajikan dingin, penusukan vena dalam kondisi normal 3-4 kali, terjadi decubitus atau infeksi post operatif, pasen jatuh, salah pemberian obat semua itu menunjukkan mutu yang rendah. Pengertian mutu kinerja diukur melalui dimensi pengukuran yang tegas yaitu standar tertulis yang jelas. Standar menentukan mutu atau kinerja dan diberikan secara langsung serta hasilnya dapat dilihat dari pelayanan tersebut. Standar adalah patokan untuk menentukan tingkat mutu. Standar merupakan pernyataan tertulis dari tata nilai peraturan-¬peraturan, kondisi dan tindakan pada pasen, staf, atau sistem yang disahkan oleh pihak berwenang

lihat artikel selengkapnya - Konsep Dasar Mutu Pelayanan Kesehatan
iklan2

iklan0
Otot dan Fasia

iklan1
Otot dan Fasia:
1. Otot
Otot merupakan alat gerak aktif. Pada umumnya individu mempunyai kemampuan untuk bergerak. Gerakan tersebut disebabkan karena kerja sama antara otot dan tulang. Tulang tidak dapat berfungsi sebagai alat gerak jika tidak digerakan oleh otot. Otot mampu menggerakan tulang karena mempunyai kemampuan berkontraksi. Kerangka manusia merupakan kerangka dalam, yang tersusun dari tulang keras (osteon) dan tulang rawan (kartilago). Sistem otot adalah sistem tubuh yang memiliki fugnsi seperti untuk alat gerak, menyimpan glikogen dan menentukan postur tubuh. Terdiri atas otot polos, otot jantung dan otot rangka.
Jaringan otot tersusun atas sel-sel otot yang fungsinya menggerakkan organ-organ tubuh. Kemampuan tersebut disebabkan karena jaringan otot mampu berkontraksi. Kontraksi otot dapat berlangsung karena molekul-molekul protein yang membangun sel otot dapat memanjang dan memendek.


2. Fasia

Selaput jaringan ikat tipis yg membungkus otot dan memisahkan kelompok satu dng yg lain serta meliputi atau menutupi struktur lainnya atau jaringan ikat berbentuk lembaran yang menyelimuti otot. Nama lainnya jaringan ikat serabut putih, karena terbuat dari serabut kolagen yang berwarna putih.

B. Jenis-jenis Otot
Jaringan otot dapat dibedakan menjadi 3 macam :
Otot Polos
Jaringan otot polos mempunyai serabut-serabut (fibril) yang homogen sehingga bila diamati di bawah mikroskop tampak polos atau tidak bergaris-garis. Otot polos berkontraksi secara refleks dan di bawah
pengaruh saraf otonom. Bila otot polos dirangsang, reaksinya lambat. Otot polos terdapat pada saluran pencernaan, dinding pembuluh darah, saluran pernafasan.





Gambar struktur otot polos


Otot Lurik/otot rangka
Nama lainnya adalah jaringan otot kerangka karena sebagian besar jenis otot ini melekat pada kerangka tubule. Kontraksinya menurut kehendak kita dan di bawah pengaruh saraf sadar. Dinamakan otot lurik karena bila dilihat di bawah mikroskop tampak adanya garis gelap dan terang berselang-seling melintang di sepanjang serabut otot. Oleh sebab itu nama lain dari otot lurik adalah otot bergaris melintang.
Kontraksi otot lurik berlangsung cepat bila menerima rangsangan, berkontraksi sesuai dengan kehendak dan di bawah pengaruh saraf sadar.
Fungsi otot lurik untuk menggerakkan tulang dan melindungi kerangka dari benturan keras.




Gambar struktur otot lurik

Otot Jantung (miokardium)
Jaringan otot ini hanya terdapat pada lapisan tengah dinding jantung. Strukturnya menyerupai otot lurik, meskipun begitu kontraksi otot jantung secara refleks serta reaksi terhadap rangsang lambat. Fungsi otot jantung adalah untuk memompa darah ke luar jantung.





Gambart struktur otot Jantung
Otot itu beraneka ragam, ada yang ceper, ada yang berbentuk kumparan dan ada pula yang berbentuk kipas. Menurut susunannya, otot terdiri atas :
Otot berserabut sejajar dan
Otot bersirip.



Sedangkan menurut letaknya, otot dibedakan menjadi otot-otot batang badan, otot-otot anggota gerak dan otot-otot kepala. Otot-otot batang badan terdiri dari otot-otot perut, otot-otot punggung, otot-otot dada dan otot-otot leher. Otot punggung tidak terlihat dari permukaan tubuh. Otot punggung berfungsi untuk gerak-gerik tulang belakang. Otot perut terentang antara gelang panggul dan rangka dada. Otot-otot tersebut dapat memendek secara aktif.
Sedangkan Menurut jenis dasarnya otot terdiri dari :
1. Otot Licin (Otot Polos)
Bergaris-garis tak beraturan.

2. Otot Kardia (Otot Jantung)
3. Otot Rangka
Bergaris-garis teratur. Otot ini berfungsi menggerakkan rangka.
Fungsi Otot Rangka
Menggerakkan tulang pada artikulasinya (kontraksi dan relaksasi).
Mempertahankan sikap tubuh.
Menstabilkan sendi
Mengekalkan postur

Pada anggota gerak atas kita terdapat otot bahu, otot lengan atas, otot lengan bawah dan otot tangan. Sedangkan otot-otot anggota gerak bawah dapat dibedakan atas otot pangkal paha, otot tungkai atas, otot tungkai bawah dan otot kaki.
Otot kepala terdiri dari otot-otot wajah dan otot kunyah. Otot wajah pada satu atau kedua ujungnya menempel pada kulit sehingga kita dapat menggerakkan kulit wajah (muka) kita. Otot ini disebut juga otot mimik.
Otot mimik terkumpul di sekitar mulut, hidung, mata dan telinga, sebagian ke daerah leher dan ke daerah kepala. Otot kunyah melekat pada rahang bawah, diantaranya yaitu otot lidah yang berpangkal pada tulang lidah, rahang bawah dan tengkorak. Otot ini menentukan gerakan lidah kita.

C. Cara Kerja Otot
Dengan adanya protein khusus aktin dan miosin, otot bekerja dengan memendek (berkontraksi) dan mengendur (relaksasi).
Cara kerja otot dapat dibedakan :
Secara antagonis atau berlawanan; yaitu cara kerja dari dua otot yang satu berkontraksi dan yang lain relaksasi.
Contoh: Otot trisep dan bisep pada lengan atas.
Secara sinergis atau bersamaan; yaitu cara kerja dari dua otot atau lebih yang sama berkontraksi dan sama-sama berelaksasi.
Contoh :
- otot-otot pronator yang terletak pada lengan bawah
- otot-otot dada
- otot-otot perut

D. Mekanisme Kontraksi Otot
ATP muncul & mengikatkan diri pada kepala myosin sehingga celah aktin terbuka. Sebagai akibatnya kepala myosin melepaskan ikatannya pada aktin.
Celah aktin akan menutup kembali bersamaan dengan hidrolisis ATP yang menyebabkan tegaknya posisi kepala myosin (keadaan energi tinggi).
Kepala myosin mengikatkan diri pada monomer aktin yang posisinya lebih dekat dengan disk Z dibandingkan monomer aktin sebelumnya
Kepala myosin melepaskan Pi yang mengakibatkan tertutupnya celah aktin sehingga afinitas kepala myosin terhadap aktin membesar ( keadaan transien ).
Terjadi geseran konformosional yang turut menarik ekor kepala myosin sepanjang 60 Aº menuju disk Z
ADP dilepaskan oleh kepala myosin dan siklus berlangsung lengkap.

E. Jenis kontraksi otot
a. Isotonik
Konsentrik ketegangan otot= gaya eksternal dan otot memendek
Eksentrik ketegangan otot= gaya eksternal dan otot memanjang
b. Isometrik
Isokinetik kecepatan gerak sendi tetap, menghasilkan moment maksimal pada otot
isoinertial gaya eksternal tetap, menghasilkan moment submaksimal pada otot

F. Energi kontraksi otot
Merupakan hasil dari metabolisme dari tubuh secara:
Aerobik
Yaitu dari oksidasi lemak, karbohidrat, protein yang menghasilkan ATP+CO2+H2O

An aerob
Yaitu yang dihasilkan langsung dari ATP
Penghasil energi tambahan berasal dari glikogen

G. Jenis Dan Macam Gangguan Pada Otot Manusia
Pada manusia terdapat beberapa masalah atau gangguan kesehatan pada otot yang terdapat pada tubuh yaitu :
1. Kelelahan Otot
Kelelahan otot adalah suatu keadaan di mana otot tidak mampu lagi melakukan kontraksi sehingga mengakibatkan terjadinya kram otot atau kejang-kejang otot.
2. Astrofi Otot
Astrofi otot adalah penurunan fungsi otot akibat dari otot yang menjadi kecil dan kehilangan fungsi kontraksi. Biasanya disebabkan oleh penyakit poliomielitis.
3. Distrofi Otot
Distrofi otot adalah suatu kelainan otot yang biasanya terjadi pada anak-anak karena adanya penyakit kronis atau cacat bawaan sejak lahir.
4. Kaku Leher / Leher Kaku / Stiff
Kaku leher adalah suatu kelainan yang terjadi karena otot yang radang / peradangan otot trapesius leher karena salah gerakan atau adanya hentakan pada leher serta menyebabkan rasa nyeri dan kaku pada leher seseorang.
5. Hipotrofit Otot
Hipotrofit otot adalah suatu jenis kelainan pada otot yang menyebabkan otot menjadi lebih besar dan tampak kuat disebabkan karena aktivitas otot yang berlebihan yang umumnya karena kerja dan olahraga berlebih.
6. Hernis Abdominal
Hernis abdominal adalah kelainan pada dinding otot perut yang mengakibatkan penyakit hernia atau turun berok, yaitu penurunan usus yang masuk ke dalam rongga perut.

lihat artikel selengkapnya - Otot dan Fasia
iklan2

iklan0
Program Keluarga Berencana

iklan1
Program Keluarga Berencana:
Tujuan Program KB
• Tujuan umum adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekutan sosial ekonomi suatu keluarga dengan cara pengaturan kelahiran anak, agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
• Tujuan lain meliputi pengaturan kelahiran, pendewasaan usia perkawinan, peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.
• Kesimpulan dari tujuan program KB adalah: Memperbaiki kesehatan dan kesejahteraan ibu, anak, keluarga dan bangsa; Mengurangi angka kelahiran untuk menaikkan taraf hidup rakyat dan bangsa; Memenuhi permintaan masyarakat akan pelayanan KB dan KR yang berkualitas, termasuk upaya-upaya menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan anak serta penanggulangan masalah kesehatan reproduksi.
Tujuan KB berdasar RENSTRA 2005-2009 meliputi:
1. Keluarga dengan anak ideal
2. Keluarga sehat
3. Keluarga berpendidikan
4. Keluarga sejahtera
5. Keluarga berketahanan
6. Keluarga yang terpenuhi hak-hak reproduksinya
7. Penduduk tumbuh seimbang (PTS)

Sasaran Program KB
Sasaran program KB tertuang dalam RPJMN 2004-2009 yang meliputi:
1. Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk menjadi sekitar 1,14 persen per tahun.
2. Menurunnya angka kelahiran total (TFR) menjadi sekitar 2,2 per perempuan.
3. Menurunnya PUS yang tidak ingin punya anak lagi dan ingin menjarangkan kelahiran berikutnya, tetapi tidak memakai alat/cara kontrasepsi (unmet need) menjadi 6 persen.
4. Meningkatnya pesertaKB laki-laki menjadi 4,5persen.
5. Meningkatnya penggunaan metode kontrasepsi yang rasional, efektif, dan efisien.
6. Meningkatnya rata-rata usia perkawinan pertama perempuan menjadi 21 tahun.
7. Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembang anak.
8. Meningkatnya jumlah keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera-1 yang aktif dalam usaha ekonomi produktif.
9. Meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan Program KB Nasional.

Ruang Lingkup KB
Ruang lingkup KB antara lain: Keluarga berencana; Kesehatan reproduksi remaja; Ketahanan dan pemberdayaan keluarga; Penguatan pelembagaan keluarga kecil berkualitas; Keserasian kebijakan kependudukan; Pengelolaan SDM aparatur; Penyelenggaran pimpinan kenegaraan dan kepemerintahan; Peningkatan pengawasan dan akuntabilitas aparatur negara.

Strategi Program KB
Strategi program KB terbagi dalam dua hal yaitu:
1. Strategi dasar
2. Strategi operasional

Strategi dasar
• Meneguhkan kembali program di daerah
• Menjamin kesinambungan program

Strategi operasional
• Peningkatan kapasitas sistem pelayanan Program KB Nasional
• Peningkatan kualitas dan prioritas program
• Penggalangan dan pemantapan komitmen
• Dukungan regulasi dan kebijakan
• Pemantauan, evaluasi, dan akuntabilitas pelayanan

Dampak Program KB
Program keluarga berencana memberikan dampak, yaitu penurunan angka kematian ibu dan anak; Penanggulangan masalah kesehatan reproduksi; Peningkatan kesejahteraan keluarga; Peningkatan derajat kesehatan; Peningkatan mutu dan layanan KB-KR; Peningkatan sistem pengelolaan dan kapasitas SDM; Pelaksanaan tugas pimpinan dan fungsi manajemen dalam penyelenggaraan kenegaraan dan pemerintahan berjalan lancar.

lihat artikel selengkapnya - Program Keluarga Berencana
iklan2

iklan0
Hipoglikemia

iklan1
Hipoglikemia:
A. Definisi
Hipoglikemia adalah suatu keadaan dimana kadar gula darah (glukosa) secara abnormal rendah. Dalam keadaan normal, tubuh mempertahankan kadar gula darah antara 70-110 mg/dL. Pada diabetes, kadar gula darah terlalu tinggi; pada hipoglikemia, kadar gula darah terlalu rendah. Kadar gula darah yang rendah menyebabkan berbagai sistem organ tubuh mengalami kelainan fungsi. Hypoglikemi adalah konsentrasi glukose darah di bawah 40mg/100ml. Hypoglikemi merupakan keadaan yang serius dan keadaan semakin gawat jika anak semakin muda. 
Sel otak tidak mampu hidup jika kekurangan glukose. Hypoglikemi dapat terjadi berkaitan dengan banyak penyakit, misalnya pada neonatus dengan ibu diabetes dan mengalami Hyperglikemi in utero, atau sebagai komplikasi cidera dingin. Selama masa menggigil simpanan glikogen tubuh tidak mencukupi, tetapi jika dihangatkan terjadi peningkatan kebutuhan glikogen. Simpanan glikogen menurun dan cadangan tidak dapat memenuhi kebutuhan pada pemanasan (Rosa M Sacharin, 1986).
Otak merupakan organ yang sangat peka terhdap kadar gula darah yang rendah karena glukosa merupakan sumber energi otak yang utama.
Otak memberikan respon terhadap kadar gula darah yang rendah dan melalui sistem saraf, merangsang kelenjar adrenal untuk melepaskan epinefrin (adrenalin). Hal in akan merangsang hari untuk melepaskan gula agar kadarnya dalam darah tetap terjaga. Jika kadarnya menurun, maka akan terjadi gangguan fungsi otak.

B. Etiologi
Etiologi Hypoglikemi pada diabetes militus (DM) 
1. Hypoglikemi pada DM stadium dini 
2. Hypoglikemi dalam rangka pengobatan DM
a. Penggunaan insulin 
b. Penggunaan sulfonilura 
c. Bayi yang lahir dari ibu pasien DM 
3. Hypoglikemi yang tidak berkaitan dengan DM 
a. Hiperinsulinisme alimeter pascagastrektomi 
b. Insulinoma 
c. Penyakit hati berat 
d. Tumor ekstrapankreatik.: fibrosarkoma, karsinoma ginjal 
e. Hipopituitarisme 


B. Faktor Predisposisi (Arif Masjoer, 2001)
Faktor predisposisi terjadi hipoglikemia pada pasien yang mendapat pengobatan insulin atau sulfonilurea: 
1. Faktor-faktor yang berkaitan dengan pasien 
a. Pengurangan / keterlambatan makan 
b. Kesalahan dosis obat 
c. Latihan jasmani yang berlebihan 
d. Perubahan tempat suntikan insulin 
e. Penurunan kebutuhan insulin 
1) Penyembuhan dari penyakit 
2) Nefropati diabetik
3) Penyakit Addison 
4) Hipotirodisme 
5) Hipopituitarisme 
f. Hari-hari pertama persalinan 
g. Penyakit hati berat 
h. Gastroparesis diabetik
2. Faktor-faktor yang berkaitan dengan dokter 
a. Pengendalian glukosa darah yang ketat 
b. Pemberian obat-obat yang mempunyai potensi hipogliklemik 
c. Penggantian jenis insulin  

C. Patogenesis (Arif Masjoer, 2001)
Pada waktu makan cukup tersedia sumber energi yang diserap dari usus. Kelebihan energi disimpan sebagai makromolekul dan dinamakan fase anabotik. 60% dari glukosa yang di serap usus dengan pengaruh insulin akan di simpan di hati sebagai glikogen, sebagian dari sisanya akan disimpan di jaringan lemak dan otot sebagai glikogen juga. Sebagian lagi dari glukosa akan mengalami metabolisme anaerob maupun aerob untuk energi seluruh jaringan tubuh terutama otak sekitar 70% pemakaian glukosa berlangsung di otak tidak dapat menggunakan asam lemak bebas sebagai sumber energi. 

Pencernaan dan penyerapan protein akan menimbulkan peningkatan asam amino di dalam darah yang dengan bantuan insulin akan disimpan di hati dan otak sebagai protein. Lemak diserap dari usus melalui saluran limfe dalam bentuk kilomikron yang kemudian akan dihidrolasi oleh lipoprotein lipase menjadi asam lemak. Asam lemak akan mengalami esterifikasi dengan gliserol membentuk trigliserida, yang akan disimpan di jaringan lemak. Proses tersebut berlangsung dengan bantuan insulin. 
Pada waktu sesudah makan atau sesudah puasa 5-6 jam, kadar glukosa darah mulai turun keadaan ini menyebabkan sekresi insulin juga menurun, sedangkan hormon kontraregulator yaitu glukagon, epinefrin, kartisol, dan hormon pertumbuhan akan meningkat. Terjadilah keadaan kortison sebaliknya (katabolik) yaitu sintetis glikogen, protein dan trigliserida menurun sedangkan pemecahan zat-zat tersebut akan meningkat. 
Pada keadaan penurunan glukosa darah yang mendadak: glukogen dan epinefrilah yang sangat berperan. Kedua hormon tersebut akan memacu glikogenolisis, glukoneogenisis, dan proteolisis di otot dan lipolisis di jaringan lemak. Dengan demikian tersedia bahan untuk glukoneogenesis yaitu asam amino terutama alanin, asam laktat, piruvat, sedangkan hormon, kontraregulator yang lain berpengaruh sinergistk glukogen dan adrenalin tetapi perannya sangat lambat. Secara singkat dapat dikatakan dalam keadaan puasa terjadi penurunan insulin dan kenaikan hormon kontraregulator. Keadaan tersebut akan menyebabkan penggunaan glukosa hanya di jaringan insulin yang sensitif dan dengan demikian glukosa yang jumlahnya terbatas hanya disediakan untuk jaringan otak.
Walaupun metabolik rantai pendek asam lemak bebas, yaitu asam asetoasetat dan asam β hidroksi butiran (benda keton) dapat digunakan oleh otak untuk memperoleh energi tetapi pembentukan benda-benda keton tersebut memerlulan waktu beberapa jam pada manusia. Karena itu ketogenesis bukan merupakan mekanisme protektif terhadap terjadinya hipoglikemia yang mendadak. 
Selama homeostatis glukosa tersebut di atas berjalan, hipoglikemia tidak akan terjadi. Hipoglikemia terjadi jika hati tidak mampu memproduksi glukosa karena penurunan bahan pembentukan glukosa, penyakit hati atau ketidakseimbangan hormonal. 

D. Manifestasi klinis (Arif Masjoer 2001)
Gejala-gejala hipoglikemia terjadi dari dua fase, yaitu:
1. fase I gejala-gejala akibat aktifitas pusat autonom di hipotalomus sehingga hormon epinefrin dilepaskan. Gejala awal ini merupakan peringatan karena saat itu pasien masih sadar sehingga dapat diambil tindakan yang perlu untuk mengatasi hipoglikemia lanjutan. 
2. fase II, gejala-gejala yang terjadi akibat mulai terganggunya fungsi otak, karena itu dinamakan gejala neurologis. 

Penelitian pada orang bukan diabetes menunjukkan adanya gangguan fungsi otak yang lebih awal dari fase I dan dinamakan gangguan fungsi otak subliminal. Di samping gejala peringatan dan neurologist, kadang-kadang hipoglikemia, menunjukan gejala yang tidak khas. Peringatan kadang-kadang gejala fase adrienergik tidak muncul dan pasien langsung jatuh pada fase gangguan fungsi otak. Terdapat dua jenis hilangnya kewaspadaan yaitu akut dan kronik. 

C. Penyebab
Hipoglikemia bisa disebabkan oleh: 
Pelepasan insulin yang berlebihan oelh pankreas 
Dosis insulin atau obat lainnya yang terlalu tinggi, yang diberikan kepada penderita diabetes untuk menurunkan kadar gula darahnya 
Kelainan pada kelenjar hipofisa atau kelenjar adrenal 
Kelaiana pada penyimpanan karbohidra atau pembentukan glukosa di hati.
Secara umum, hipogklikemia dapat dikategorikan sebagai yang berhubungan dengan obat dan yang tidak berhubungan dengan obat. Sebagian besar kasus hipoglikemia terjadi pada penderita diabetes dan berhubungan dengan obat.
Hipoglikemia yang tidak berhubungan dengan obat lebih jauh dapat dibagi lagi menjadi:
- Hipoglikemia karena puasa, dimana hipoglikemia terjadi setelah berpuasa
- Hipoglikemia reaktif, dimana hipoglikemia terjadi sebagai reaksi terhadap makan, biasanya karbohidrat.
Hipoglikemia paling sering disebabkan oleh insulin atau obat lain (sulfonilurea) yang diberikan kepada penderita diabetes untuk menurunkan kadar gula darahnya. Jika dosisnya lebih tinggi dari makanan yang dimakan maka obat ini bisa terlalu banyak menurunkan kadar gula darah.
Penderita diabetes berat menahun sangat peka terhadap hipoglikemia berat.
Hal ini terjadi karena sel-sel pulau pankreasnya tidak membentuk glukagon secara normal dan kelanjar adrenalnya tidak menghasilkan epinefrin secara normal. Padahal kedua hal tersebut merupakan mekanisme utama tubuh untuk mengatasi kadar gula darah yang rendah.
Pentamidin yang digunakan untuk mengobati pneumonia akibat AIDS juga bisa menyebabkan hipoglikemia. Hipoglikemia kadang terjadi pada penderita kelainan psikis yang secara diam-diam menggunakan insulin atau obat hipoglikemik untuk dirinya.
Pemakaian alkohol dalam jumlah banyak tanpa makan dalam waktu yang lama bisa menyebabkan hipoglikemia yang cukup berat sehingga menyebabkan stupor. Olah raga berat dalam waktu yang lama pada orang yang sehat jarang menyebabkan hipoglikemia. Puasa yang lama bisa menyebabkan hipoglikemia hanya jika terdapat penyakit lain (terutama penyakit kelenjar hipofisa atau kelenjar adrenal) atau mengkonsumsi sejumlah besar alkohol. Cadangan karbohidrat di hati bisa menurun secara perlahan sehingga tubuh tidak dapat mempertahankan kadar gula darah yang adekuat.
Pada orang-orang yang memiliki kelainan hati, beberapa jam berpuasa bisa menyebabkan hipoglikemia. Bayi dan anak-anak yang memiliki kelainan sistem enzim hati yang memetabolisir gula bisa mengalami hipoglikemia diantara jam-jam makannya.
Seseorang yang telah menjalani pembedahan lambung bisa mengalami hipoglikemia diantara jam-jam makannya (hipoglikemia alimenter, salah satu jenis hipoglikemia reaktif). Hipoglikemia terjadi karena gula sangat cepat diserap sehingga merangsang pembentukan insulin yang berlebihan. Kadar insulin yang tinggi menyebabkan penurunan kadar gula darah yang cepat.
Hipoglikemia alimentari kadang terjadi pada seseorang yang tidak menjalani pembedahan. Keadaan ini disebut hipoglikemia alimentari idiopatik.
Jenis hipoglikemia reaktif lainnya terjadi pada bayi dan anak-anak karena memakan makanan yang mengandung gula fruktosa dan galaktosa atau asam amino leusin. Fruktosa dan galaktosa menghalangi pelepasan glukosa dari hati; leusin merangsang pembentukan insulin yang berlebihan oleh pankreas.
Akibatnya terjadi kadar gula darah yang rendah beberapa saat setelah memakan makanan yang mengandung zat-zat tersebut.
Hipoglikemia reaktif pada dewasa bisa terjadi setelah mengkonsumsi alkohol yang dicampur dengan gula (misalnya gin dan tonik). Pembentukan insulin yang berlebihan juga bisa menyebakan hipoglikemia. Hal ini bisa terjadi pada tumor sel penghasil insulin di pankreas (insulinoma). Kadang tumor diluar pankreas yang menghasilkan hormon yang menyerupai insulin bisa menyebabkan hipoglikemia.
Penyebab lainnya adalah penyakti autoimun, dimana tubuh membentuk antibodi yang menyerang insulin. Kadar insulin dalam darah naik-turun secara abnormal karena pankreas menghasilkan sejumlah insulin untuk melawan antibodi tersebut. Hal ini bisa terjadi pada penderita atau bukan penderita diabetes. Hipoglikemia juga bisa terjadi akibat gagal ginjal atau gagal jantung, kanker, kekurangan gizi, kelainan fungsi hipofisa atau adrenal, syok dan infeksi yang berat. Penyakit hati yang berat (misalnya hepatitis virus, sirosis atau kanker) juga bisa menyebabkan hipoglikemia.

D. Gejala
Pada awalnya tubuh memberikan respon terhadap rendahnya kadar gula darh dengan melepasakan epinefrin (adrenalin) dari kelenjar adrenal dan beberapa ujung saraf. Epinefrin merangsang pelepasan gula dari cadangan tubuh tetapi jugamenyebabkan gejala yang menyerupai serangan kecemasan (berkeringat, kegelisahan, gemetaran, pingsan, jantung berdebar-debar dan kadang rasa lapar) tiba-tiba.
Hal ini paling sering terjadi pada orang yang memakai insulin atau obat hipoglikemik per-oral. Pada penderita tumor pankreas penghasil insulin, gejalanya terjadi pada pagi hari setelah puasa semalaman, terutama jika cadangan gula darah habis karena melakukan olah raga sebelum sarapan pagi. Pada mulanya hanya terjadi serangan hipoglikemia sewaktu-waktu, tetapi lama-lama serangan lebih sering terjadi dan lebih berat.

E. Diagnosa
Gejala hipoglikemia jarang terjadi sebelum kadar gula darah mencapai 50 mg/dL. Diagnosis hipoglikemia ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya dan hasil pemeriksaan kadar gula darah. Penyebabnya bisa ditentukan berdasarkan riwayat kesehatan penderita, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium sederhana. Jika dicurigai suatu hipoglikemia autoimun, maka dilakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui adanya antibodi terhadap insulin.
Untuk mengetahui adanya tumor penghasil insulin, dilakukan pengukuran kadar insulin dalam darah selama berpuasa (kadang sampai 72 jam).
Pemeriksaan CT scan, MRI atau USG sebelum pembedahan, dilakukan untuk menentukan lokasi tumor.

F. Pengobatan
Gejala hipoglikemia akan menghilang dalam beberapa menit setelah penderita mengkonsumsi gula (dalam bentuk permen atau tablet glukosa) maupun minum jus buah, air gula atau segelas susu. Seseorang yang sering mengalami hipoglikemia (terutama penderita diabetes), hendaknya selalu membawa tablet glukosa karena efeknya cepat timbul dan memberikan sejumlah gula yang konsisten.
Baik penderita diabetes maupun bukan, sebaiknya sesudah makan gula diikuti dengan makanan yang mengandung karbohidrat yang bertahan lama (misalnya roti atau biskuit). Jika hipoglikemianya berat dan berlangsung lama serta tidak mungkin untuk memasukkan gula melalui mulut penderita, maka diberikan glukosa intravena untuk mencegah kerusakan otak yang serius.

Seseorang yang memiliki resiko mengalami episode hipoglikemia berat sebaiknya selalu membawa glukagon. Glukagon adalah hormon yang dihasilkan oleh sel pulau pankreas, yang merangsang pembentukan sejumlah besar glukosa dari cadangan karbohidrat di dalam hati. Glukagon tersedia dalam bentuk suntikan dan biasanya mengembalikan gula darah dalam waktu 5-15 menit. Tumor penghasil insulin harus diangkat melalui pembedahan.
Sebelum pembedahan, diberikan obat untuk menghambat pelepasan insulin oleh tumor (misalnya diazoksid). Bukan penderita diabetes yang sering mengalami hipoglikemia dapat menghindari serangan hipoglikemia dengan sering makan dalam porsi kecil

lihat artikel selengkapnya - Hipoglikemia
iklan2

iklan0
Nefrolitiasis

iklan1
NEFROLITIASIS:
A.Pengertian
Nefrolitiasis adalah adanya batu pada atau kalkulus dalam velvis renal, sedangkan urolitiasis adalah adanya batu atau kalkulus dalam sistem urinarius. Urolithiasis mengacu pada adanya batu (kalkuli) ditraktus urinarius. Batu terbentuk dari traktus urinarius ketika konsentrasi subtansi tertentu seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, dan asam urat meningkat.

B.Etiologi
Batu terbentuk dari traktus urinarius ketika konsentrasi subtansi tertentu seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, dan asam urat meningkat. Batu juga dapat terbentuk ketika terdapat defisiensi subtansi tertentu, seperti sitrat yang secara normal mencegah kristalisasi dalam urine. Kondisi lain yang mempengaruhi laju pembentukan batu mencakup pH urin dan status cairan pasien (batu cenderung terjadi pada pasien dehidrasi).

C.Patofisiologi
Batu dapat ditemukan disetiap bagian ginjal sampai kekandung kemih dan ukuran bervariasi dari defosit granuler yang kecil, yang disebut pasir atau kerikil, sampai batu sebesar kandung kemih yang berwarna oranye. Factor tertentu yang mempengaruhi pembentukan batu, mencakup infeksi, statis urine, periode immobilitas. Factor-faktor yang mencetuskan peningkatan konsentrasi kalsium dalam darah dan urine, menyebabkan pembentukan batu kalsium.

D.Manifestasi klinik
Adanya batu dalam traktius urinarius tergantung pada adanya obstruksi, infeksi, dan edema. Ketika betu menghambat aliran urin, terjadi obstruksi, menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala ginjal serta ureter proksimal. Infeksi dan sistisis yang disertai menggigil, demam, dan disuria dapat terjadi dari iritasi batu yang terus menerus. Beberapa batu, jika ada, menyebabkan sedikit gejala namun secara perlahan merusak unit fungsional ginjal. Sedangkan yang lain menyebabkan nyeri yang luar biasa dan menyebabkan ketidaknyamanan. Batu di piala ginjal mungkin berkaitan dengan sakit yang dalam dan terus menerus diarea konstovertebral. Hematuria dan piuria dapat dijumpai. Batu yang terjebak diureter menyebabkan gelombang nyeri yang luar biasa, akut, kolik, yang menyebar kepaha dan genitalia. Pasien merasa selalu ingin berkemih, namun hanya sedikit urin yang keluar dan biasanya mengandung darah akibat aksi abrasive batu. Batu yang terjebak dikandung kemih biasanya menyebabkan gejala iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus urinarius dan hematuria.

E.Evaluasi diagnostic
Diagnosis ditegakkan dengan studi ginjal, ureter, kandung kemih (GUK), uregrafi intravena, atau pielografi retrograde. Uji kimia darahdan urine 24 jam untuk mengukur kadar kalsium, asam urat, kreatinin, natrium, pH, dan volume total merupkan bagian dari upaya diagnostic. Riwayat diet dan medikasi serta riwayat adanya batu ginjal dalam keluarga didapatkan untuk mengidentifikasi factor yang mencetuskan terbentuknya batu pada pasien.

F.Penatalaksanaan
Tujuan dasar penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan batu, menentukan jenis batu, mencegah kerusakan nefron, mengendalikan infeksi, dan mengurangi obstruksi yang terjadi.


PROSES KEPERAWATAN
A.Pengkajian
Aktivitas istirahat
Gejala : pekerjaan monoton, pekerjaan dimana pasien terpajang pada lingkungan bersuhu tinggi. Keterbatasan aktivitas/immobilisasi sehubungan dengan kondisi sebelumnya.
Sirkulasi
Tanda : peningkatan TD/nadi (nyeri, ansietas, gagal jantung). Kulit hangat dan kemerahan, pucat.

Eliminasi
Gejala : riwayat adanya ISK kronis, obstruksi sebelumnya (kalkulus), penurunan haluaran urine, kandung kemih penuh, rasa terbakar, dorongan berkemih, diare.
Tanda : oliguria, hematuria, piuria, dan perubahan pola berkemih.
Makanan/cairan
Gejala : mual/muntah, nyeri tekan abdomen, diet tinggi purin, kalsium oksalat, dan atau fosfat, ketidakcukupan pemasukan cairan, tidak minum air dengan cukup.
Tanda : distensi abdominal, penurunan atau takadanya bising usus, dan muntah.

B.Diagnosa keperawatan
1)Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan frekuensi/dorongan kontraksi ureteral.
2)Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal atau ureteral.
3)Resiko tinggi terhadap kekuranganm volume cairanberhubungan dengan mual/muntah
4)Kurangnya pemngetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajang/mengingat, salah interpretasi informasi.

C.Intervensi dan perencanaan
1)Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan frekuensi/dorongan kontraksi ureteral.
a)Catat lokasi lamanya intensitas, dan penyebarannya
R/ membantu mengevaluasi tempat obstruksi dan kemajuan gerakan kalkulus

b)Jelaskan penyebab nyeri dan pentingnya melaporkan kestaff terhadap perubahan kejadian/karakteristik nyeri
R/ memberikan kesempatan terhadap pemberian analgesi sesuai waktu

c)Berikan tindakan nyaman, contoh pijatan punggung dan lingkungan istirahat.
R/ Meningkatkan relaksasi, menurungkan tegangan otot dan meningkatkan koping.
d)Berikan obat anti nyeri
R/ untuk menurungkan rasa nyeri

2)Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal atau ureteral.
a)Awasi pemasukan dan pengeluaran serta karakteristik urine
R/ memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi
b)Tentukan pola berkemih pasien dan perhatikan variasi
R/ kalkulus dapat menyebabkan eksitabilitas saraf, yang menyebabkan sensasi kebutuhan berkemih segera.
c)Dorong meningkatkan pemmasukan cairan
R/ peningkatan hidrasi dapat membilas bakteri, darah, dan debris dan dapat membantu lewatnya batu
d)Awasi pemeriksaan laboratorium
R/ peninggian BUN, kreatinin, dan elektrolit mengindikasikan disfungsi ginjal.

3)Resiko tinggi terhadap kekuranganm volume cairanberhubungan dengan mual/muntah
a)Awasi pemasukan dan pengeluaran cairan
R/ membandingkan keluaran aktual dan yang diantisipasi membanu dalam evaluasi adanya kerusakan ginjal
b)Catat insiden muntah
R/ Mual/muntah secara umum berhubungan dengan kolik ginjal karena sartaf ganglion seliaka pada kedua ginjal dan lambung
c)Tingkatkan pemasukan cairan 3-4 liter/hari dalam toleransi jantung
R/ Mempertahankan keseimbangan cairan untuk homeostatis
d)Awasi tanda vital
R/ indikator hidrasi/volume sirkulasi dan kebutuhan intervensi
e)Berikan cairan IV
R/ mempertahankan volume sirkulasi meningkatkan fungsi ginjal

4)Kurangnya pemngetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajang/mengingat, salah interpretasi informasi.
a)Kaji ulang proses pemnyakit dan harapan masa depan
R/ memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi
b)Tekankan pentingnya pemasukan cairan
R/ pembilasan sistem ginjal menurungkan kesempatan statis ginjal dan pembentukan batu
c)Diaskusikan program pengobatan
R/ obat-obatan diberikan untuk mengasamkan atau mengalkalikan urine
D.Evaluasi
Dari intervensi yang dilakukan beberapa hasil yang kitaharapkan adalah sebagai berikut :
1)Nyeri hilang/terkontrol
2)Keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan
3)Mencegah Komplikasi
4)Proses penyekit/prognosis dan program terapi dipahami
Sumber : http://dastodebelto.blogspot.com/2010/02/askep-nefrolitiasis-dan-urolitiasis.html



ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN NEFROLITIASIS
November 17, 2008 by ismailskep
Pengertian
Nefrolitiasis adalah Pembentukan deposit mineral yang kebanyakan adalah kalsium oksalat dan kalsium phospat meskipun juga yang lain urid acid dan kristal, juga membentuk kalkulus ( batu ginjal ).

Etiologi
Banyak faktor yang sering menjadi predisposisi timbulnya batu :
1. Faktor Endogen
a. Faktor genetik familial pada hiper sistinuria
Suatu kelainan herediter yang resesif autosomal dari pengangkutan asam amino di membran batas sikat tubuli proksimal.
b. Faktor hiperkalsiuria primer dan hiper oksaluria primer.
2. Faktor eksogen
a. Infeksi
Infeksi oleh bakteri yang memecahkan ureum dan membentuk amonium akan mengubah pH uriun menjadi alkali dan akan mengendapkan garam-garam fosfat sehinggga akan mempercepat pembentukan batu yang telah ada.
b. Obstruksi dan statis urin
Mempermudah terjadinya infeksi
c. Jenis kelamin
Lebih banyak ditemukan pada laki-laki
d. Ras
e. Keturunan
f. Air minum
g. Pekerjaan
h. Makanan
i. Suhu

Patofisiologi
Sebagian besar batu saluran kemih adalah idiopatik dan dapat bersifat simptomatik ataupun asimptomatik .
Teori terbentuknya batu antara lain :
1. Teori inti matriks
a. Terbentuknya batu saluran kemih memerlukan adanya substansi organik sebagai inti
b. Terdiri dari muko polisakarida dan muko protein A yang mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentuk batu.
2. Teori Supersaturasi
Terjadinya kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urin seperti : sistin , Xantin, asam urat dan Kalsium.
3. Teori Presipitasi – kristalisasi
a. Terjadi pH urin yang mempengaruhi solubilitas substansi dalam urin.
b. Urin yang bersipat asam akan mengendap sistin, Xantin dan asam urat
c. Urin yang bersifat alkali akan mengendap garam fospat
4. Teori berkurangnya faktor penghambat.
Jenis batu
5. Batu Kalsium
Disebabkan oleh :
a. Hiperkalsiuria : Kalsium => kelebihan alkali . Misalnya Sindroma susu, Kelebihan Vit. B, Imobilisasi, Asidosis Tubular Renalis, Penyakit Paget, Sarkoidosis, Hipertiroiditis, Syndroma cushing, Yang paling sering Hyperkalsiuria Idiopatik.
b. Hiperurikosuria. Hal ini 20 % inti batu dari kristal asam urat karena kemasukan purin berlebihan, misal : ikan, unggas, daging (coto)
c. Hiperoksaluria. Penyebaran oksalat di jaringan ginjal, susunan makanan yang mengandung oksalat yang berlebihan misal : teh, sayuran.
6. Batu Struvite ( Batu campuran )
a. Tripel posfat , magnesium posfat, amonium fosfat, kalsium karbonat = > pH urin yang tinggi.
b. Infeksi sistem urinarius.
7. Batu Asam Urat
a. PH Urin yang rendah, tirah baring yang lama, penderita ileustomi/kolostomi
b. Faktor asupan makanan = > sayur bayam dll.
8. Batu Sistin
Kelainan herediter yang resesif autosomal dari pengangkutan asam amino dimembran batas sikat tubulus proksimal meliputi sistim, arginin, ornitin, sitrulin dan lisin.
9. Batu Xantin
Resesif autosomal dengan defesiensi santin oksidase terjadi peningkatan xantin plasma .

Gambaran Klinik
Keluhan yang sering ditemukan adalah sebagai berikut :
1. Hematuria
2. Piuria
3. Polakisuria/fregnancy
4. Urgency
5. Nyeri pinggang menjalar ke daerah pingggul, bersifat terus menerus pada daerah pinggang.
6. Kolik ginjal yang terjadi tiba-tiba dan menghilang secara perlahan-lahan.
7. Rasa nyeri pada daerah pinggang, menjalar ke perut tengah bawah, selanjutnya ke arah penis atau vulva.
8. Anorexia, muntah dan perut kembung
9. Hasil pemeriksaan laboratorium, dinyatakan urine tidak ditemukan adanya batu leukosit meningkat.
Komplikasi
Batu yang terlelak pada piala ginjal atau ureter dapat memberikan komplikasi obstruksi baik sebagian atau total.
Hal tersebut diatas dipengaruhi oleh :
1. Sempurnanya obstruksi
2. Lamanya obstruksi
3. Lokasi obstruksi
4. Ada tidaknya infeksi
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan terjadinya infeksi pada obstruksi antara lain:
1. Statis urin meningkatkan pertumbuhan bakteri sehingga mendorong pertumbuhan organisme maupun pembentukan kristal khususnya magnesium amonium fosfat atau struvita
2. Meningkatkan tekanan intra luminal menyebabkan pertumbuhan mukosa saluran kemih berkurangnya, sehingga menurunkan daya tahan tubuh.
3. Kerusakan jaringan dapat menimbulkan penurunan daya tahan tubuh.

Diagnostik Test
1. Klinik
a. Jumlah batu yang sebelumnya keluar atau dikeluarkan
b. Derajat kerusakan ginjal
c. Riwayat keluarga
d. Analisa batu
e. Tanda dan gejala penyakit penyebab :
1) Hiperparatiroidisme ; keluhan batu, penyakit tulang, ulkus, pankreatitis.
2) Asidosis Tubuler Renalis ; langkah terhuyung – huyung, sakit pada tulang.
3) Sarkoidosis ; limphadenopati, eritemanodosum.
4) Sebab lain : Infeksi traktus urinarius yang berulang kali, penyakit paget, imobilisasi, kelebihan vitamin-D, pemasukan purin berlebihan, kelebihan alkali dan penyakit khusus.
2. Pemeriksaan Laboratorium
a. Urinalisis
b. Hematuria
c. Piuria
d. Kristalisasi
e. bakteriologi
f. Kerangka kerja metabolic
g. Darah
h. Urine
i. Analisa batu untuk unsur kimia dan bakteriologi
j. Status batu
3. Pemeriksaan Radiologi
a. Pielografi ( IVP)
b. Pieolgrafi retrograd
c. U S G
d. Tomografi
e. CT- Scan

Penatalaksanaan
1. Terapik medik dan simtomatik
a. Terapik medik => mengeluarkan batu ginjal atau melarutkan batu
b. Pengobatan Simtomatik = > mengusahakan agar nyeri khususnya koli ginjal yang terjadi menghilang dengan pemberian simpatolitik selain itu dapat diberikan minum berlebihan disertai diuretikum bendofluezida 5 – 10 mg/hr.
2. Terapi mekanik
E S W L = > Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy
3. Terapi pembedahan
Jika tidak tersedia alat litotriptor

Pencegahan
Untuk mencegah terbentuknya kembali batu saluran kemih perlu disiplin yang tinggi dalam melaksanakan perawatan dan pengobatan.
Maka perlu adanya pencegahan atau program sepanjang hidup, seperti :
1. Masalah yang mendasari untuk mempermudah terbentuknya batu saluran kemih harus dikoreksi
2. Infeksi harus dihindari atau pengobatan secara intensif untuk semua jenis type batu

lihat artikel selengkapnya - Nefrolitiasis
iklan2
kti