Rabu, 26 Oktober 2011

iklan0
Cakupan Pemberian Vitamin A Pada Ibu Nifas Di BPS Wilayah Kerja Puskesmas

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa nifas adalah masa yang dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, yang lamanya kira-kira 6 minggu (Maternal Neonatal, 2002)
Dalam masa nifas diperlukan suatu asuhan yang bertujuan untuk menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis serta memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. Pada asuhan masa nifas yang berhubungan dengan nutrisi, ibu nifas mempunyai kebutuhan dasar yaitu minum vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI.
Vitamin A adalah suatu vitamin yang berfungsi dalam sistem penglihatan, fungsi pembentukan kekebalan dan fungsi reproduksi (Depkes RI, 2007). Vitamin A perlu diberikan dan penting bagi ibu selama dalam masa nifas. Pemberian kapsul vitamin A bagi ibu nifas dapat menaikkan jumlah kandungan vitamin A dalam ASI, sehingga meningkatkan status vitamin A pada ibu yang disusuinya.
Pada tahun 1998, badan kesehatan dunia WHO menyatakan bahwa ibu dan bayi yang disusuinya akan mendapatkan manfaat dari pemberian satu kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 IU) yang diberikan paling lambat 60 hari (8 minggu /2 bulan) setelah melahirkan. Berbagai studi menunjukkan bahwa, pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi (200,000 SI) seperti yang direkomendasikan sebelumnya dirasakan kurang memadai. Pada bulan Desember 2002, The International Vitamin A Consultative Goup (IVCG) mengeluarkan rekomendasi bahwa seluruh ibu nifas seharusnya menerima 400,000 SI atau dua kapsul dosis tinggi @ 200,000 SI. Pemberian kapsul pertama dilakukan segera setelah melahirkan, dan kapsul kedua diberikan sedikitnya satu hari setelah pemberian kapsul pertama dan tidak lebih dari 6 minggu kemudian.
Pedoman nasional yang ada saat ini merekomendasikan bahwa 100% ibu nifas menerima satu kapsul vitamin A dosis tinggi 200.000 SI paling lambat 30 hari setelah melahirkan. Walaupun begitu data NSS di beberapa Propinsi menunjukkan bahwa cakupannya hanya berkisar 15 – 25% saat ini, ibu nifas mungkin mendapatkan kapsul vitamin A bila mereka melahirkan di Puskesmas atau rumah sakit. Walaupun begitu tidak tertutup kemungkinan ibu nifas mendapatkan kapsul vitamin A melalui kader atau bidan di desa saat mereka melakukan kunjungan rumah.
Di Indonesia, terutama di daerah pedesaan, mayoritas ibu masih melahirkan dirumah, sering terjadi bahwa bidan ataupun mereka yang membantu kelahiran tidak selalu memiliki akses akan kapsul vitamin A. Selain itu kunjungan rumah oleh kader untuk memberikan kapsul vitamin A jarang dilakukan. Banyak ibu maupun petugas kesehatan yang tidak tahu mengenai adanya program pemerintah mengenai pemberian kapsul vitamin A ibu nifas (Buletin Kesehatan dan Gizi, 2004).
Menurut Data Dinas Kesehatan Metro Januari 2009, cakupan pemberian vitamin A yang paling rendah adalah di Puskesmas Iringmulyo yaitu 212 (30,76%) dari 689 sasaran. Untuk itu peneliti ingin mengetahui cakupan pemberian vitamin A di BPS Wilayah Kerja ............. Tahun 2009.
Berdasarkan pra survai yang peneliti lakukan pada bulan Februari di 3 BPS Wilayah Kerja Puskesmas ............. yaitu BPS D dengan jumlah persalinan 3, BPS F dengan jumlah persalinan 4, dan di BPS M dengan jumlah persalinan 4, ternyata dari ke-3 BPS hanya ada 2 BPS yang memberikan vitamin A pada ibu nifas.
Dari data Dinkes tentang cakupan vitamin A pada ibu nifas dan hasil pra survei pada 3 BPS di Wilayah Kerja Puskesmas ............. peneliti tertarik mengadakan penelitian tentang "Cakupan Pemberian Vitamin A Pada Ibu Nifas di BPS Wilayah Kerja Puskesmas ............. Tahun 2009".

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis merumuskan masalah penelitian yaitu "Bagaimana Cakupan Pemberian Vitamin A Pada Ibu Nifas di BPS Wilayah Kerja Puskesmas ............. Tahun 2009"?

C. Ruang Lingkup
Dalam penelitin ini, ruang lingkup penelitiannya adalah sebagai berikut :
1. Sifat Penelitian : Deskriptif
2. Subjek Penelitian : Ibu Nifas di BPS Wilayah Kerja Puskesmas .............
3. Objek Penelitian : Pemberian vitamin A
4. Lokasi Penelitian : Kecamatan .............
5. Waktu Penelitian : Maret – April 2009
6. Alasan Penelitian : Karena cakupan pemberian vitamin A yang paling rendah adalah di Puskesmas ............. yaitu 212 (30,76%) dari 689 sasaran. Hasil prasurvey dari 3 BPS hanya 2 BPS yang memberikan vitamin A pada ibu nifas.

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui bagaimana cakupan pemberian vitamin A pada ibu nifas di BPS Wilayah Kerja Puskesmas ..............

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Untuk menerapkan ilmu dari perkuliahan, metode penelitian yang didapat di Akademi Kebidanan ..............

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.37

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Cakupan Pemberian Vitamin A Pada Ibu Nifas Di BPS Wilayah Kerja Puskesmas
iklan2

iklan0
Analisis Perbedaan Berat Badan Sebelum Dan Sesudah Menggunakan KB Suntik Di BPS

iklan1
ANALISIS PERBEDAAN BERAT BADAN SEBELUM DAN SESUDAH MENGGUNAKAN KB SUNTIK DI BPS

Laju pertambahan penduduk di Indonesia dimasa ini kurang mengembirakan. Hal ini dapat dilihat dari laju pertumbuhan di Indonesia berdasarkan sensus tahun 2004 mencapai 1,26% sedangkan jumlah kelahiran pertahun 1000 penduduk mencapai 20,02%. Adanya program KB diharapkan ada keikutsertaan dari seluruh pihak dalam mewujudkan keberhasilan KB di Indonesia. Kontrasepsi hormonal seperti suntik memiliki daya kerja yang lama, tidak membutuhkan pemakaian setiap hari tetapi tetap efektif dan tingkat reversibilitasnya tinggi. Namun setiap metode kontrasepsi tentu mempunyai efek samping tersendiri, metode hormonal seperti suntik memiliki efek samping salah satunya adalah perubahan berat badan.
Tujuan untuk mengetahui perbedaan berat badan ibu sebelum dan sesudah menggunakan KB suntik di BPS ........... tahun.
Desain penelitian ini bersifat analisis komparasi dengan pendekatan dua mean dependen (paired sample), teknik sampling yang digunakan adalah accidental sampling dan sampel dalam penelitian ini adalah ibu-ibu yang mengalami kenaikan berat badan setelah menggunakan KB suntik yang ada di BPS ........... yaitu berjumlah 60 orang. Teknik pengumpulan data dengan cara wawancara/langsung, yaitu dengan menggunakan timbangan berat badan. Analisa data univariat dan bivariat, yaitu dengan menggunakan uji-t.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa berat badan responden yang ada di BPS ........... rata-rata (mean) sebelum diberikan suntikan KB adalah 54,77 dan rata-rata (mean) sesudah diberikan suntikan KB adalah 57,08 yang berarti rentang antara sebelum dan sesudah adalah (2,3 2). Ada perbedaan suntikan KB terhadap berat badan ibu di BPS ........... tahun (p value=0,000).
Saran yang dapat penulis sampaikan bagi akseptor KB untuk dapat memanfaatkan fasilitas serta sarana dan prasarana yang diberikan oleh petugas kesehatan dalam menurunkan angka fertilitas dan menjarangkan kelahiran bayi salah satunya adalah dengan rutin melakukan menggunakan KB suntik tanpa harus khawatir secara berlebihan terhadap efek samping yang dapat ditimbulkan dari alat kontrasepsi KB seperti KB suntik.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.36

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Analisis Perbedaan Berat Badan Sebelum Dan Sesudah Menggunakan KB Suntik Di BPS
iklan2

iklan0
Analisa Senam Hamil Pada Ibu Hamil di Kelas Ibu Di Posyandu

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia saat ini masih merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan AKI di negara-negara ASEAN lainnya. Menurut SDKI tahun 2002/2003 AKI sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup, sementara itu di negara tetangga Malyasia sebesar 36 per 100.000 kelahiran hidup, di Singgapura 6 per 100.000 kelahiran hidup, bahkan di Vietnam 160 per 100.000 kelahiran hidup. Berbagai upaya telah dilaksanakan untuk menurunkan AKI termasuk diantaranya program Safe Matherhood yang telah dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 1988 dengan keterlibatan aktif dari berbagai sektor pemerintah, organisasi non-pemerintah dan masyarakat serta dengan dukungan dari berbagai badan internasional, walaupun menunjukkan penurunan yang bermakna, namun target nasional untuk menurunkan AKI menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2010 masih jauh untuk dicapai.
Tiga pesan-pesan kunci MPS “Making Pregnancy Safer” yaitu setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih, setiap komplikasi obstetric dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat dan setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran. Dari pelaksanaan MPS target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2010 adalah angka kematian ibu menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi lahir 15 per 1000 kelahiran hidup. Penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan, infeksi, eklamsi, partus lama dan komplikasi abortus. Sesungguhnya tragedi kematian ibu tidak perlu terjadi karena lebih dari 80% kematian dapat dicegah melalui kegiatan yang efektif, misal pemeriksaan kehamilan pemberian gizi yang memadai dan lain-lain (www. Hanya wanita. Com/2006).
Mengajarkan senam membantu pemulihan fisik mendorong istirahat, dan relaksasi rutinitas fisik kemudian dibuat pada masa antenatal untuk meningkatkan kesehatan fisik dan membantu mencegah masalah. Dalam program penekanan diberikan pada wanita hamil yang belajar rileks dan nafas dalam selama kontraksi. Thomas dan Grantly Dick Read menawarkan program persalinan dan menjadi orang tua mencakup pendidikan relaksasi dan pernapasan, sama halnya dengan bentuk pendidikan lain, telah ada gerakan dari pengajar didaktik authoritarian menjadi pendekatan terpimpin nyeri punggung bawah lazim terjadi pada kehamilan dengan insiden yang dilaporkan bervariasi kira-kira 50% di Inggris (Mantk 1994) sampai mendekati 70% di Australia (Bullock Sasyton 1988) Manhe melaporkan bahwa 16% wanita-wanita yang diteliti mengeluh nyeri punggung yang hebat dan 36%. Dalam kajian Ostgaard et al, tahun 1991 melaporkan nyeri punggung yang signifikan faktor predispasis meliputi penambahan berat badan. Nyeri punggung terdahulu pada kehamilan merupakan predikrar nyeri punggung pada kehamilan berikutnya (McEvoy et al 2001).
Materi persiapan senam untuk menjadi orang tua umumnya dibatasi hanya untuk senam abdanmen dan senam dasar panggul dan banyak ibu meminta bimbingan lanjutan dan senam dasar panggul dan banyak ibu meminta bimbingan lanjutan untuk mendapatkan senam yang bermanfaat, telah tercatat bahwa hampir 45% dari ibu –ibu usia subur mengikuti senam (Sady dan Carpter 1989), 42% dari 1.000 wanita yang melakukan senam yang di survai melanjutkan aktivitas selama mereka hamil. Ibu-ibu yang senam tidak teratur sering menjadi lebih sadar tentang kesehatan ketika hamil dan memutuskan untuk mengikuti program senam untuk memperbaiki kesehatan dan kebugaran (Hammer Etal, 2000)
Sesungguhnya senam bukanlah hal yang aneh dan luar biasa wanita-wanita di negara maju amat menyukai senam dan dalam latihan fisik baik selagi hamil maupun diluar kehamilan untuk menjaga fisik dan mentalnya. Di Indonesia hal ini baru disadari dari kelompok masyarakat kota-kota besar moderen dan maju, demikian pula halnya dengan latihan senam hamil. Latihan senam hamil yang diberikan di rumah sakit dan di rumah dengan waktu –waktu senggang secara teratur, bila tidak ada keadaan yang sangat patologis akan dapat menuntun wanita hamil ke arah persalinan yang fisiologis, perasaan takut, ketegangan jiwa dan fisik dapat menyebabkan otot dan persendian kaku sehingga berjalan tidak wajar, untuk mengatasi hal tersebut di atas agar memperoleh ketenangan dan relaksasi yang sempurna menghadapi peristiwa persalinan diperlukan 3 hal yaitu : kepercayaan pada diri sendiri, kepercayaan pada penolong dan latihan senam hamil (Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH. 1998)
Secara statistik telah tercatat bahwa ada tingkatan kesejahteraan psikologis yang telah tinggi yang lebih tinggi perbaikan citra tubuh dan penurunan ketidak nyamanan fisik pada ibu hamil yang menunjukkan tanda stres selama melahirkan lebih rendah dari ibu yang tidak senam. (Macphail et al 2000) menyimpulkan bahwa penurunan kemungkinan resiko melahirkan sesaria pada wanita senam yang nalipara Eileen Bryashow. 2007).
Dari dari kota Metro pelaksanaan kelas ibu dilaksanakan setiap satu bulan sekali dengan pertemuan kelas ibu 3 kali, pertemuan pertama menjelaskan materi, setelah materi selesai dilakukan evaluasi dan tanya jawab, kemungkinan dilakukan senam hamil.
Sarana kelas itu di wilayah kerja Posyandu ............ 21 ....... ...... adalah lembar kelas ibu, kaset dan tipe, bantal dan tiker untuk senam hamil serta kursi dan meja untuk ibu hamil.
Pelaksanaan kelas ibu, bidan sebagai fasilitator, senam hamil (kelas ibu) merupakan program baru dari Dinas Kesehatan Propinsi Lampung, maka penulis ingin menganalisis pelaksanaan senam hamil di Posyandu ............ 21 ....... .......

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka rumusan masalah pada karya tulis ilmiah ini yaitu "Analisa Senam Hamil Pada Ibu Hamil di Kelas Ibu di Posyandu ............ 21 ....... ...... Tahun 2008".

C. Ruang Lingkup
Dalam penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup yang diteliti sebagai berikut :
1. Sifat peneliti : Analitik
2. Subyekt Peneliti : Ibu yang melaksanakan senam hamil
3. Obyek Peneliti : Pelaksanaan senam hamil
4. Tempat Penelitian : Posyandu ............ 21 ....... ......
5. Waktu : April – Mei 2008
6. Alasan Penelitian : Dalam Pelaksanaan Senam Hamil Ada Tingkat Kesejahteraan Psokologis, dan Penurunan Ketidaknyamanan Fisik Pada Ibu Hamil yang Menjalani Rutin Dibandingkan dengan yang Baik.

D. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan pelaksanaan senam hamil di kelas ibu di Posyandu ............ 21 ....... .......

E. Manfaat
Hasil penelitian diharapkan memberi manfaat:
1. Untuk Ibu
Untuk menambah pengetahuan bagi ibu tentang pentingnya manfaat senam hamil
2. Bagi Petugas Kesehatan
Untuk dapat meningkatkan program yang sudah berjalan
3. Bagi Peneliti
Dapat menambah wawasan penerapan hasil studi


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan dan Kedokteran No.35

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Analisa Senam Hamil Pada Ibu Hamil di Kelas Ibu Di Posyandu
iklan2

Senin, 17 Oktober 2011

iklan0
Gambaran pengetahuan ibu hamil tentang gizi selama kehamilan di Kelurahan

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ibu hamil memiliki kebutuhan makanan yang berbeda dengan ibu yang tidak hamil, karena ada janin yang tumbuh dirahimnya. Kebutuhan makanan dilihat bukan hanya dalam porsi tetapi harus ditentukan pada mutu zat-zat gizi yang terkandung dalam makanan yang dikonsumsi (Derek, 2005). Untuk pertumbuhan maupun aktivitas janin memerlukan makanan yang disalurkan melalui plasenta. Untuk itu ibu hamil harus mendapat gizi yang cukup untuk dirinya sendiri maupun bagi janinnya. Maka bagi ibu hamil, kualitas maupun jumlah makanan yang biasanya cukup untuk kesehatannya harus ditambah dengan zat-zat gizi dan energi agar pertumbuhan janin berjalan dengan baik. Selama hamil ibu akan mengalami banyak perubahan dalam tubuhnya agar siap membesarkan janin yang dikandungnya, memudahkan kelahiran, dan untuk memproduksi ASI bagi bayi yang akan dilahirkannya (Francin, 2005).
Bila ibu mengalami kekurangan gizi selama hamil akan menimbulkan masalah, baik pada ibu maupun janin yang dikandungnya, antara lain : anemia, perdarahan dan berat badan ibu tidak bertambah secara normal, kurang gizi juga dapat mempengaruhi proses persalinan dimana dapat mengakibatkan persalinan sulit dan lama, premature, perdarahan setelah
persalinan, kurang gizi juga dapat mempengaruhi pertumbuhan janin dan dapat menimbulkan keguguran, abortus, cacat bawaan dan berat janin bayi lahir rendah (Zulhaida, 2005).
WHO melaporkan bahwa setengah ibu hamil mengalami anemia, secara global 55% dimana secara bermakna trimester III lebih tinggi mengalami anemia dibandingkan dengan trimester I dan II. Masalah ini disebabkan kurangnya defesiensi zat besi dengan defisiensi zat gizi lainnya (Mc Carthy dan Maine, 1992).
Di negara yang berkembang termasuk Indonesia masalah gizi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama dan merupakan penyebab kematian wanita. Tidak dapat dipungkiri lagi dari masa kehamilan menjadi saat yang paling berbahaya bagi wanita dalam hidupnya (Nurn, 2002).
Di Indonesia prevalensi anemia tahun 1970-an, wanita hamil sekitar 46,5-70% pada Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1992 dengan angka anemia ibu hamil sebesar 63,5% sedangkan data SKRT turun menjadi 50,9%. Pada tahun 1999 didapatkan anemia gizi pada ibu hamil sebesar 39,5%, tahun 2001, didapatkan anemia zat gizi pada ibu hamil mencapai 40,1%, banyak faktor yang terkait dengan status anemia ibu hamil yaitu status sosial ekonomi, serta perolehan tablet zat besi (Fe) (Pasaribu, 2006).
Di Sumatera Utara tahun 2001 terdapat 77,9% ibu hamil yang tidak memenuhi asupan gizi yang benar terutama dalam mengkonsumsi zat besi (Fe), sehingga menyebabkan ibu menderita anemia (Amiruddin, 2007).
Selain itu di daerah pedesaan banyak dijumpai ibu hamil dengan malnutrisi atau kekurangan gizi sekitar 33%. Secara umum penyebab kekurangan gizi pada ibu hamil ini adalah konsumsi makanan yang tidak memenuhi syarat gizi yang dianjurkan. Jarak kehamilan dan persalinan yang berdekatan dengan ibu hamil dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah, sehingga menyebabkan ibu tidak mengerti cara pemenuhan nutrisi yang dibutuhkan si ibu selama kehamilannya (Depkes RI, 2002). Dari data yang didapatkan di Kantor Dinas Kesehatan Sibolga jumlah ibu hamil selama tahun 2008 sebanyak 2224 orang orang dan ibu hamil yang mengalami anemia sebanyak 325 orang.
Berdasarkan hasil survey, data yang didapatkan bahwa jumlah ibu hamil di Kelurahan Aek Muara Pinang pada bulan Maret-Juni sebanyak 40 orang yang mengalami anemia 15 orang (26,7%) mengalami anemia.
Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas penulis tertarik untuk mengetahui “Gambaran pengetahuan ibu hamil tentang gizi selama kehamilan di Kelurahan Aek Muara Pinang Sibolga Selatan Tahun 2008”.

lihat artikel selengkapnya - Gambaran pengetahuan ibu hamil tentang gizi selama kehamilan di Kelurahan
iklan2

iklan0
Gambaran Pengetahuaan Kepala Keluarga Tentang Katarak Di Kelurahan

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Katarak merupakan masalah nasional yang perlu ditanggulangi. katarak dapat menyebabkan penurunan aktivitas dimana katarak merupakan penyebab umum kehilangan pandangan secara bertahap. Berdasarkan peneletian tahun 1989-1999, lebih dari separuh (54%) kebutuhan disebabkan katarak (Bougman, 2000).
Katarak merupakan kelainan mata yang terjadi akibat adanya perubahan lensa yang jernih dan tembus cahaya, sehingga keruh. Akibatnya mengalami gangguan penglihatan karena obyek menjadi kabur. Ganguan penglihatan yang terjadi tidak secara spontan. Melainkan secara perlahan dan dapat menimbulkan kebutaan. Meski tidak menular, namun katarak dapat terjadi di kedua mata secara bersama (Rahmi, 2008).
Menurut data organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) dapat 50 juta kebutaan di dunia akibat katarak dan yang paling banyak adalah mereka yang tinggal di negara miskin dan berkembang yaitu Asia dan Afrika. Penduduk yang tinggal dinegara berkembanag beresiko 10 kali lipat mengalami kebutaan dibandingkan penduduk negara maju. Sedangkan menurut Institute Kesehatan Nasional atau National Institute of Health (NIH) di negara maju seperti Amerika Serikat terdapat 4 juta orang beresiko menjadi buta karena proses kemunduran mascular (titik kuning retina) yang berhubungan dengan faktor usia sehingga pada akhirnya menyebabkan kebutaan, sebagai perbandingan di Banglades angka kebutaan mencapai 1%, di India 0,1 -0,3%.
Tingkat kebutaan yang diakibatkan katarak di Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara, yaitu sebesar 1,5% sedangkan dalam catatan WHO, tingkat kebutaan di Indonesia berada diurutan ketiga di dunia yaitu sebesar 1,47%. Tingginya katarak di Indonesia dipengaruhi oleh letak geografis yang berada di daerah garis khatulistiwa sehingga berdasarkan penelitan menilai resiko 15 tahun lebih cepat terkena katarak dibanding penduduk di Eropa (Rahmi,2008).
Katarak tidak dapat dicegah kecuali pada kebutaannya yaitu dengan tindakan operasi. Katarak merupakan penyakit degenaratif namun saat ini katarak juga telah ditemukan pada usia muda (35-40 tahun). Selama ini katarak dijumpai pada orang yang berusia diatas 55 tahun sehingga sering diremehkan kaum muda. Hal ini disebabkan kurangnya asupan Gizi dan nutrisi yang dibutuhkan tubuh (Irawan, 2008).
Kebutaan yang terjadi akibat katarak akan terus meningkat karena penderita katarak tidak menyadarinya, daya penglihatan baru terpengaruh setalah katarak berkembang sekitar 3-5 tahun dan menyadari penyakitnya setelah memasuki stadium kritis. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan mengenai gejala katarak. Salah satu penyebab tingginya kasus kebutaan yang diakibatkan oleh katarak karena kurangnya perhatian masyarakat terhadap kesehatan mata.
Dari data yang diperoleh dipoliklinik mata RSU Dr. F.L Tobing Sibolga pada tahun 2008/2009 penderita katarak berjumlah 72 orang, yang telah dioperasi berjumlah 27 orang sedangkan yang tidak dioperasi 45 orang dikarenakan oleh faktor ekonomi (RSU F.L Tobing Sibolga)
Berdasarkan hasil survey yang didapatkan dari dokumentasi dan arsip Lurah Aek Manis Sibolga bahwa jumlah KK 1139 dan yang menderita katarak 34 orang (Profil Kelurahan Aek Manis, 2009).
Dari uraian diatas penulis tertarik untuk mengetahui “Bagaimana Gambaran Pengetahuaan Kepala Keluarga Tentang Katarak Di Kelurahan Aek Manis Kota Sibolga tahun 2009 “

lihat artikel selengkapnya - Gambaran Pengetahuaan Kepala Keluarga Tentang Katarak Di Kelurahan
iklan2

iklan0
Gambaran Pengetahuan Wanita Usia Subur (WUS) Tentang PAP Smear Di Kelurahan

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kanker leher rahim merupakan jenis penyakit kanker yang paling banyak diderita wanita diatas usia 18 tahun. Kanker leher rahim ini menduduki urutan nomor dua penyakit kanker didunia bahkan sekitar 500.000 wanita di seluruh dunia di diagnosa menderita kanker leher rahim dan rata-rata 270.000 meninggal tiap tahun (Depkes RI, 2008).
Diperkirakan pada tahun 2010 kanker leher rahim menjadi penyebab utama mortalitas diseluruh dunia dan pada tahun 2030 diperkirakan terjadi kasus kanker baru sebanyak 20 hingga 26 juta jiwa dan 13 hingga 17 juta jiwa meninggal akibat kanker leher rahim. Peningkatan angka kejadian kanker diperkirakan sebesar 1% per tahun. Pada tahun 2008 disampaikan dalam world cancer report bahwa terjadi 12 juta jiwa pasien yang baru didiagnosis kanker leher rahim.
World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa sekitar sepertiga kanker dapat disembuhkan jika didiagnosis dan ditangani pada stadium dini, untuk itu perlunya skrining kanker seperti melakukan papsmear untuk mendeteksi kelainan sel-sel pada leher rahim (Nofa, 2003).
Kini pap smear telah dikenal sebagai suatu pemeriksaan yang aman, murah dan telah dipakai bertahun-tahun untuk mendeteksi kelainan sel-sel leher rahim. Semakin dini sel-sel abnormal terdeteksi semakin rendah resiko seseorang menderita kanker leher rahim (Wim De Jong, 2004).
Sekitar 80% kasus kanker leher rahim terjadi pada wanita yang hidup berkembang. Di Indonesia terdapat 90-100 kasus kanker leher rahim per 100.000 penduduk. Kanker leher rahim adalah kematian nomor satu yang sering terjadi pada wanita Indonesia. Setiap wanita tanpa memandang usia dan latar belakang beresiko terkena kanker leher rahim.
Tingginya kasus di negara berkembang ini disebabkan terbatasnya akses screening dan pengobatan. Masih banyak wanita dinegara berkembang, termasuk Indonesia kurang mendapat informasi dan pelayanan terhadap penyakit kanker leher rahim. Ini disebabkan karena tingkat ekonomi rendah dan tingkat pengetahuan wanita yang kurang tentang papsmear (Meutia, 2008).
Kanker leher rahim disebabkan oleh Human Papiloma Virus (HPV). Menurut Bambang (2008) mengatakan kaum lelaki berperan sangat bersar dalam penularan HPV. Laki-laki yang suka berganti-ganti pasangan beresiko besar menularkan virus Papiloma dari pasangannya yang menderita kanker leher rahim ke pasangannya yang baru (Andreas, 2008).
Pada umumnya penderita Ca serviks adalah umur 30-60 tahun tapi sangat rentan terjadi pada wanita usia 35-55 tahun. Saat ini usia remaja juga beresiko terkena kanker leher rahim, ini disebabkan karena remaja mulai berhubungan seksual pada usia dibawah 18 tahun serta sering berganti pasangan, ini akan beresiko tinggi teerkena infeksi virus HPV. Semua wanita yang berusia 18 tahun atau lebih dan telah aktif secara seksual harus melakukan papanicolaou (papsmear). Semakin dini sel-sel abnormal dideteksi semakin rendah resiko wanita menderita kanker leher rahim (Bobak, 2004).
Berdasarkan data rekam medik yang dilakukan oleh penulis, diperoleh jumlah Wanita Usia Subur (WUS) pada bulan Januari sampai Desember 2008 di Kelurahan Aek Muara Pinang 108 orang, yang melakukan pap smear sebanyak 47 orang, sedangkan yang tidak melakukan papsmear 61 orang.
Dari uraian di atas peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai gambaran pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang pap semar di Kelurahan Aek Muara Pinang Tahun 2009.

lihat artikel selengkapnya - Gambaran Pengetahuan Wanita Usia Subur (WUS) Tentang PAP Smear Di Kelurahan
iklan2

iklan0
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Ibu Balita Dalam Pemanfaatan Posyandu Di Desa

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian
Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk atau individu agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Posyandu merupakan salah satu bentuk kesehatan bersumber daya manusia guna memberdayakan masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar, utamanya untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi.1 Menurut data Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 2010 Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia pada tahun 2009 mencapai 34 /1000 kelahiran hidup dan angka kematian ibu (AKI) mencapai kisaran 228/100.0000 kelahiran hidup 2. Adapun penyebab langsung kematian ibu di Indonesia seperti halnya di negara lain terdiri dari perdarahan, infeksi dan eklampsia3, data tersebut menunjukkan masih rendahnya status kesehatan ibu dan bayi baru lahir, rendahnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak khususnya pada masa persalinan dan segera sesudahnya, serta perilaku (baik yang bersifat preventif maupun kuratif) ibu hamil dan keluarga serta masyarakat yang bersifat negatif bagi perkembangan kehamilan sehat, persalinan yang aman dan perkembangan dini anak 4.
Upaya yang dilakukan baik yang bersifat preventif maupun kuratif adalah posyandu yang merupakan tempat atau media yang paling dekat dengan masyarakat dalam pemantauan gizi pada balita. Masyarakat secara langsung dapat memantau pertumbuhan dan perkembangan status gizi balitanya. Oleh karena itu dalam rangka menurunkan angka kematian anak adalah pengembangan upaya kesehatan bersumber masyarakat seperti pos pelayanan terpadu (posyandu), penanggulangan kurang energi protein, pendidikan gizi, penyediaan sarana air bersih dan sanitasi dasar, serta pencegahan dan pemberantasan penyakit melalui survilans dan imunisasi. Upaya menggerakkan masyarakat dalam keterpaduan ini digunakan pendekatan Pos pelayanan terpadu ini merupakan wadah titik temu antara pelayanan profesional dari petugas kesehatan dan peran serta masyarakat5. Partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu merupakan proses keadaan ketika individu, keluarga maupun masyarakat umum ikut serta bertanggung jawab terhadap kesehatan keluarga atau kesehatan masyarakat lingkungannya. Namun berbagai hambatan dalam memelihara kesehatan diri dan keluarganya perlu mendapatkan perhatian 1.
Sebagai indikator pencapaian dalam program Posyandu yang yang kekuatannya terletak pada pelayanan kesehatan dasar, kerjasama lintas sektoral dan peran serta masyarakat. Pada masa krisis ekonomi keberadaanya kurang mengembirakan, hal ini ditandai dengan rendahnya cakupan kegiatan Posyandu. Cakupan partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu adalah Jumlah Balita yang ditimbang di Posyandu (D) dibagi dengan jumlah balita yang ada (S) di wilayah kerja Posyandu kemudian dikali 100%. Persentase D/S disini, menggambarkan berapa besar jumlah partisipasi masyarakat di dareah tersebut yang telah tercapai. Cakupan D/S dalam kegiatan Posyandu di Indonesia tahun 2008 85%, Jawa Barat salah satu provinsi yang memiliki cakupan rendah yaitu 79% masih dibawah target Dinas Kesehatan sebesar 90%. 6
Menurut laporan hasil kegiatan tahunan program KIA-KB kesehatan Puskesmas Singaparna tahun 2009, pencapaian target D/S (jumlah bayi dan anak Balita yang datang dan ditimbang di Posyandu dibanding dengan semua bayi dan anak Balita yang ada) sebesar 67,34%. Adapun cakupan per desa yakni desa Cikunir mencapai 81.93%, Cikadongdong 70,82%, Singasari 45.03%, Singaparna 47,59%, Sukamulya 83.49%, Ciparay 59.70%, Suka asih 93.26 dan Singajaya 63.93%. 7
Kunjungan ibu balita ke Posyandu erat kaitannya dengan perilaku kesehatan, perilaku kesehatan hakikatnya adalah hal-hal yang berkaitan dengan tindakan atau kegiatan ibu dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan balitanya. Kesehatan seseorang dipengaruhi atau terbentuk dari beberapa faktor. Green menjelaskan bahwa perilaku itu dilatar belakangi atau dipengaruhi oleh tiga faktor pokok yaitu faktor predisposisi (predisposing factors), faktor pendukung (enabling factors) dan faktor pendorong (reinforcing factors).7
Melihat paparan tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut yaitu mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku ibu balita dalam pemanfaatkan posyandu di Desa Singaparna Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2010.

lihat artikel selengkapnya - Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Ibu Balita Dalam Pemanfaatan Posyandu Di Desa
iklan2

iklan0
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Status Gizi Balita Di Puskesmas

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan merupakan bagian dari pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pembangunan kesehatan tersebut merupakan upaya seluruh potensi bangsa Indonesia baik masyarakat, swasta, maupun pemerintah. (Depkes RI, 2007)
Pembangunan kesehatan diarahkan untuk mempertinggi derajat kesehatan. Upaya mewujudkan derajat kesehatan masyarakat adalah untuk meningkatkan keadaan kesehatan yang lebih baik dari sebelumnya. Derajat kesehatan yang optimal adalah tingkat kesehatan yang tinggi dan mungkin dapat dicapai suatu saat sesuai dengan kondisi dan situasi serta kemampuan yang nyata dari setiap orang atau masyarakat dan harus diusahakan peningkatannya secara terus-menerus. (UU Kes. No. 23, 1992)
Program kesehatan ibu dan anak yang telah dilaksanakan selama ini bertujuan untuk meningkatkan status derajat kesehatan ibu dan anak serta menurunkan AKI dan AKB. Untuk itu diperlukan upaya pengelolaan program kesehatan ibu dan anak yang bertujuan untuk memanfaatkan dan meningkatkan jangkauan serta mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak secara efektif dan efisien. (Depkes RI, 2008)
Badan Pusat Statistik mengestimasikan Angka Kematian Bayi (AKB) tahun 2007 di Indonesia sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini sedikit menurun jika dibandingkan dengan AKB tahun 2002-2003 sebesar 35per 1.000 kelahiran hidup. (Depkes RI, 2008)
Di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2008 Angka Kematian Bayi sedikitnya mencapai 38 per 1.000 kelahiran hidup dari 1.000 kelahiran di Jawa Barat, sementara itu, di Negara-negara Asia lainnya, dari 1.000 kelahiran yang meningggal di bawah 20 bayi. Ini membuktikan bahwa angka kematian bayi saat dilahirkan di wilayah Jawa Barat tergolong tinggi. (Dinkes Jabar, 2009)
Sedangkan di Kabupaten Majalengka pada tahun 2008 jumlah kematian bayi mencapai 385 dari 18.873 bayi yaitu sebesar 21 per 1.000 kelahiran hidup (Dinkes Majalengka, 2009)

lihat artikel selengkapnya - Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Status Gizi Balita Di Puskesmas
iklan2

iklan0
Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Rendahnya Kunjungan Ibu Dalam Memeriksakan Kehamilannya Pada Trimester I

iklan1
BAB I
PENDAHUALUAN

1.1 Latar belakang
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal (Undang-undang kesehatan No.25 tahun 1992).
Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masarakat diselenggarakan upaya kesehatan dengan pendidikan pemeliharaan kesehatan (promotif), pencegahan secara menyeluruh, terarah, dan berkesinambungan (Undang-undang kesehatan No. 23 tahun 1992).
Pelayanan kesehatan diperkirakan dapat menurunkan angka kematian ibu sampai 20% namun dengan sistem rujukan yang efektif, angka kematian dapat ditekan sampai 80%. Menurut UNICEF 80% kematian ibu dan perinatal terjadi di rumah sakit rujukan. Dengan demikian maka upaya peningkatan derajat kesehatan ibu mendapat perhatian serius (Sastro ASmoro, 2000).
Pelayanan kesehatan tersebut merupakan bagian integral dari pelayanan dasar yang terjangkau oleh seluruh rakyat. Didalamnya termasuk pelayanan kesehatan ibu yang berupaya agar setiap ibu hamil dapat melalui kehamilan dan persalinannya dengan selamat. Upaya dapat tercapai bila dalam memberikan pelayanannya bermutu dan berkesinambungan atau komprehensif.
Pengelolaan program KIA pada prinsipnya bertujuan menetapkan peningkatan jangkauan serta mutu pemeriksaan KIA secara efektif dan efisien. Pemantapan pemeriksaan KIA dewasa ini diutamakan pada keinginan pokok yaitu peningkatan pemeriksaan antenatal di semua fasilitas pemeriksaan dengan mutu yang baik serta jangkauan yang setinggi-tingginya (Departemen Kesehatan RI, 1995).
Di Kabupaten Majalengka yaitu cakupan ibu hamil yang memeriksakan kehamilanya ke Puskesmas untuk pertama kalinya (K1) pada tahun 2007 adalah 14,68 % dari target 100 % dan cakupan ANC lengkapnya (K4) sebanyak 12,53 % sedangkan target cakupan adalah 95% ( Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka, 2007).
Di Puskesmas Kadipaten cakupan ibu hamil yang memeriksakan kehamilanya ke puskesmas untuk pertama kalinya ( K1) pada tahun 2007 yaitu sebanyak 92,15 %. dari target 100%. Sedangakan cakupan ANC lengkapnya atau (K4) sebanyak 79,74 % dari target 95% ( Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka, 2007)
Dengan memperhatikan kejadian di atas, maka penulis merasa tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang Faktor-faktor yang berhubungan dengan rendahnya kunjungan ibu dalam memeriksakan kehamilanya pada trimeseter I di Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2008.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas rumusan masalahnya adalah “Belum Diketahuinya Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Rendahnya Kunjungan Ibu Dalam Memeriksakan Kehamilannya Pada Trimester I di UPTD Puskesmas Dawuan Kabupaten Majalengka Tahun 2008 ”.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan rendahnya kunjungan ibu dalam memeriksakan kehamilanya pada trimester I di UPTD Puskesmas Dawuan Kabupaten Majalengka Tahun 2008.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan rendahnya kunjungan ibu dalam memeriksakan kehamilanya pada trimester I di UPTD Puskesmas Dawuan Kabupaten Majalengka Tahun 2008.
b. Diketahuinya hubungan pendapatan dengan rendahnya kunjungan ibu dalam memeriksakan kehamilanya pada Trimester I di UPTD Puskesmas Dawuan Kabupaten Majalengka Tahun 2008
c. Diketahuinya hubungan pendidikan dengan rendahnya kunjungan ibu dalam memeriksakan kehamilanya pada trimester I di UPTD Puskesmas Dawuan Kabupaten Majalengka Tahun 2008.
d. Diketahuinya hubungan jarak dengan rendahnya kunjungan ibu dalam memeriksakan kehamilanya pada Trimester I di Puskesmas Kadipaten tahun 2008.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Puskesmas
Diharapkan dapat memberikan informasi secara objektif tentang Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Rendahnya Kunjungan Ibu Dalam Memeriksakan Kehamilanya Pada Trimester I dapat dijadikan pedoman dalam memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu hamil diwilayah kerjanya khususnya di bagian KIA, memberikan pendidikan kesehatan untuk kunjungan ANC dalam menurunkan angka morbilitas dan moralitas pada wanita hamil.
1.4.2 Bagi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai dokumentasi pada perpustakaan Program Studi Kebidanan YPIB Majalengka serta dapat dikembangkan lebih luas dalam penelitian selanjutnya.
1.4.3 Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi peneliti terutama untuk menambah wawasan dalam hal mengetahui Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Rendahnya Kunjungan Ibu Dalam Memeriksakan Kehamilanya Pada Trimester I serta menjadi suatu kesempatan yang berharga bagi peneliti untuk dapat mengaplikasikanya ilmu-ilmu yang telah diperoleh selama masa kuliah.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini meliputi faktor-faktor yang berhubungan dengan rendahnya kunjungan ibu dalam memeriksakan kehamilanya pada trimester I yang terdiri dari faktor pendapatan, pendidikan dan jarak yang dilakukan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kadipaten Kabupaten Majalengka tahun 2008 dengan populasi yaitu ibu hamil yang berkunjung pada trimester I.

lihat artikel selengkapnya - Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Rendahnya Kunjungan Ibu Dalam Memeriksakan Kehamilannya Pada Trimester I
iklan2

iklan0
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Robekan Perineum Ibu Bersalin Di BPS

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Indonesia membuat rencana strategi nasional Making Pregnancy Safer (MPS) untuk tahun 2001 - 2010, dalam konteks rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 adalah dengan visi 'Kehamilan dan Persalinan di Indonesia Berlangsung Aman, serta yang Dilahirkan Hidup dan Sehat,' dengan misinya adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian maternal dan neonatal melalui pemantapan sistem kesehatan. Salah satu sasaran yang ditetapkan untuk tahun 2010 adalah menurunkan angka kematian maternal menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup (Saifuddin dkk, 2002).
Salah satu sasaran yang ditetapkan untuk tahun 2010 adalah menurunkan Angka Kematian Maternal menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Neonatal menjadi 16 per 1000 kelahiran hidup. Untuk mencapai sasaran tersebut ditetapkan 4 strategi utama dan azas-azas pedoman operasionalisasi strategi antara lain bahwa Making Pregenancy Safer (MPS) memusatkan perhatiannya pada pelayanan kesehatan maternal dan neonatal yang baku, cost effective, dan berdasarkan bukti (evidence based), pada semua tingkat pelayanan dan rujukan kesehatan, baik di sektor pemerintah maupun swasta. Keluaran yang diharapkan dari strategi ini adalah terselenggaranya pelayanan kesehatan maternal dan neonatal dasar berkualitas di Polindes dan Puskesmas, Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED) di Puskesmas dengan tempat tidur, di Rumah Sakit Kabupaten/Kodya dan Rumah Sakit Propinsi. (Prawirohardjo, 2002).
Perdarahan post partum menjadi penyebab utama 40% kematian ibu di Indonesia. Jalan lahir merupakan penyebab kedua perdarahan setelah atonia uteri yang terjadi pada hampir persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Pada seorang primipara atau orang yang baru pertama kali melahirkan ketika terjadi peristiwa “kepala keluar pintu”. Pada saat ini seorang primipara biasanya tidak dapat tegangan yang kuat ini sehingga robek pada pinggir depannya. Luka-luka biasanya ringan tetapi kadang-kadang terjadi juga luka yang luas dan berbahaya. Sebagai akibat persalinan terutama pada seorang primipara, biasa timbul luka pada vulva disekitar introitus vagina yang biasanya tidak dalam akan tetapi kadang-kadang bisa timbul perdarahan banyak. (Prawirohardjo, 2002)
DI Kabupaten Majalengka penyebab utama kematian ibu adalah karena perdarahan (25%), eklampsi (7,14%), infeksi (7,14%), dan faktor lain (60,71%). (Dinkes Kab. Majalengka, 2009).
Robekan jalan lahir merupakan penyebab kedua tersering dari perdarahan pasca persalinan. Robekan dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri. Perdarahan pasca persalinan dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh robekan serviks atau vagina. Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya, kesalahan pada tekhnik mengejan juga bisa berdampak terjadinya robekan perineum yaitu bilamana ibu bersalin mengejan sambil mengangkat bokong, selain itu membuat proses mengejan tidak maksimal, juga bisa memperparah robekan perineum (daerah antara vagina dan anus). (Cunningham, dkk., 2006)
Berdasarkan hasil data prasurvey, angka kejadian Ruptur Perineum Spontan yang dialami ibu bersalin di BPS Y tahun 2009 masih sangat tinggi yaitu sebanyak 68 orang dari 98 persalinan normal. Sedangkan yang tidak mengalami Ruptur Perineum berjumlah 30 orang. Diantara ibu yang mengalami ruptur perineum terdapat jumlah ibu yang berusia < 20 tahun mengalami ruptur perineum sebanyak 35 orang,usia 20-35 tahun yang mengalami ruptur perineum sebanyak 10 orang dan usia > 35 tahun mengalami ruptur perineum sebanyak 23 orang, sedangkan ibu yang sudah melahirkan anak > 3 kejadian robekan perineum sebanyak 15 orang dan ibu yang melahirkan dengan berat bayi > 4000 gram sebanyak 4 orang dan 2 diantaranya mengalami robekan perineum.
Robekan perineum adalah salah satu robekan jalan lahir yang merupakan penyebab kedua tersering dari perdarahan pasca persalinan yang berakibat terhadap kematian ibu post partum (Saifuddin dkk, 2002)
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti “Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Robekan Perineum Ibu Bersalin Di BPS Y Salagedang Kecamatan Sukahaji Kabupaten Majalengka Periode Februari - April Tahun 2010”.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian robekan perineum ibu bersalin di BPS Y Salagedang Kecamatan Sukahaji Kabupaten Majalengka Periode Februari - April Tahun 2010.

1.3 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini terbatas pada variabel bebas yaitu umur, paritas dan berat bayi lahir. Sedangkan variabel terikatnya adalah robekan perineum di BPS Y Salagedang Kecamatan Sukahaji Kabupaten Majalengka tahun 2010. Subyek penelitian ini adalah ibu bersalin yang ada di BPS Y, penelitian ini akan dilaksanakan periode bulan Februari - April Tahun 2010, lokasi penelitian ini akan dilaksanakan di BPS Y Salagedang Kecamatan Sukahaji. Penelitian ini menggunakan data primer dengan observasi kepada ibu bersalin. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional.

1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian robekan perineum ibu bersalin di BPS Y Salagedang Kecamatan Sukahaji Kabupaten Majalengka Periode Februari - April tahun 2010.
1.4.2 Tujuan Khusus
1.4.2.1 Diketahuinya gambaran kejadian robekan perineum di BPS Y Salagedang Kecamatan Sukahaji Kabupaten Majalengka Periode Februari - April tahun 2010.
1.4.2.2 Diketahuinya gambaran umur ibu bersalin di BPS Y Salagedang Kecamatan Sukahaji Kabupaten Majalengka Periode Februari - April tahun 2010.
1.4.2.3 Diketahuinya gambaran paritas ibu bersalin di BPS Y Salagedang Kecamatan Sukahaji Kabupaten Majalengka Periode Februari - April tahun 2010.
1.4.2.4 Diketahuinya gambaran berat badan lahir di BPS Y Salagedang Kecamatan Sukahaji Kabupaten Majalengka Periode Februari - April tahun 2010.
1.4.2.5 Diketahuinya hubungan umur dengan kejadian robekan perineum ibu bersalin di BPS Y Salagedang Kecamatan Sukahaji Kabupaten Majalengka Periode Februari - April tahun 2010.
1.4.2.6 Diketahuinya hubungan paritas dengan kejadian robekan perineum ibu bersalin di BPS Y Salagedang Kecamatan Sukahaji Kabupaten Majalengka Periode Februari - April tahun 2010.
1.4.2.7 Diketahuinya hubungan berat badan lahir dengan kejadian robekan perineum ibu bersalin di BPS Y Salagedang Kecamatan Sukahaji Kabupaten Majalengka Periode Februari - April tahun 2010.

1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi Institusi Lahan Penelitian
Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan tentang langkah-langkah yang dilakukan untuk meningkatkan pelayanan dalam persalinan dimasa yang akan datang.
1.5.2 Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai dokumentasi pada Perpustakaan Program Studi DIII Kebidanan STIKes YPIB Majalengka serta dapat dikembangkan lebih luas dalam penelitian selanjutnya.
1.5.3 Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi peneliti terutama untuk menambah wawasan dalam hal mengetahui hubungan teknik mengejan ibu bersalin dan faktor lainnya robekan perineum, serta menjadi suatu kesempatan yang berharga bagi peneliti untuk dapat mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah diperoleh selama masa kuliah.

lihat artikel selengkapnya - Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Robekan Perineum Ibu Bersalin Di BPS
iklan2
kti