Kamis, 10 November 2011

iklan0
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Asfiksia di RS

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan di Indonesia dalam tiga dekade ini telah cukup berhasil meningkatkan derajat kesehatan. Namun demikian derajat kesehatan di Indonesia masih terhitung rendah apabila dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Permasalahan utama yang dihadapi adalah rendahnya kualitas kesehatan penduduk yang antara lain ditunjukkan dengan masih tingginya angka kematian bayi, anak, balita, dan ibu, serta tingginya proporsi balita yang menderita gizi kurang. Masih tingginya angka kematian tersebut diakibatkan beberapa penyakit menular serta kecenderungan semakin meningkatnya penyakit tidak menular, kesenjangan kualitas kesehatan, dan akses terhadap pelayanan kesehatan yang kurang bermutu antar wilayah/daerah, gender, dan antar kelompok status sosial ekonomi, belum memadainya jumlah tenaga kesehatan, penyebaran, komposisi, dan mutu, serta terbatasnya sumber pembiayaan kesehatan dan belum optimalnya alokasi pembiayaan kesehatan (Departemen Kesehatan RI, 2005).
Untuk dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, banyak hal yang perlu diperhatikan, salah satu diantaranya yang dipandang mempunyai peranan yang cukup penting ialah menyelenggarakan pelayanan kesehatan. Adapun yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan ialah upaya yang diselenggarakan secara mandiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat. (Saifuddin AB, 2006).
Upaya pemerintah yang nyata guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat salah satunya difokuskan pada program kesehatan ibu dan anak di setiap layanan kesehatan. Program kesehatan ibu dan anak yang telah dilaksanakan selama ini bertujuan untuk meningkatkan status derajat kesehatan ibu dan anak serta menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Untuk itu diperlukan upaya pengelolaan program kesehatan ibu dan anak yang bertujuan untuk memanfaatkan dan meningkatkan jangkauan serta mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak secara efektif dan efisien (Departemen Kesehatan RI, 2008).
Kondisi derajat kesehatan masyarakat di Indonesia saat ini masih memprihatinkan, antara lain ditandai dengan masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia tahun 2007, AKI di Indonesia menunjukkan angka 248 per 100.000 kelahiran hidup, AKB menunjukkan angka yang masih tinggi yaitu 34 per 100.000 kelahiran hidup, penyebab kematian bayi baru lahir salah satunya disebabkan oleh asfiksia (27%) (SKRT, 2007) yang merupakan penyebab kedua kematian bayi baru lahir setelah BBLR (Departemen Kesehatan RI, 2008).
Di Provinsi Jawa Barat tahun 2007 Angka Kematian Ibu menunjukkan angka yang cukup tinggi mencapai 98 per 1.000 kelahiran hidup, dengan Angka Kematian Bayi tahun 2008 sedikitnya mencapai 38 per 1.000 kelahiran hidup. Penyebab kematian bayi baru lahir salah satunya akibat hipoksia intra uterus dan asfiksia lahir (29,39 %) (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, 2008).
Angka Kematian Ibu maternal pada tahun 2008 di Kabupaten .............. sebesar 131 per 1000 kelahiran hidup diantaranya disebabkan akibat perdarahan (25%), eklampsi (7,14%), infeksi (7,14%), dan faktor lain (60,71%) . Jumlah kasus kematian bayi mencapai 106 per 1000 kelahiran hidup dengan penyebab utama terbesar akibat Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) (24,5%) dan Intra Uterin Fetal Death (IUFD) (22,9%) dan asfiksia (8,11%) (Dinas Kesehatan Kabupaten .............., 2009).
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur setelah lahir lahir atau beberapa saat setelah lahir dan dapat menimbulkan komplikasi (Bagus I, 2005).
Berdasarkan data hasil rekam medik Di BRSUD Cideres tahun 2009 dari jumlah 607 sebanyak 96 bayi dengan kejadian asfiksia (15,82%). Di RSUD .............. pada tahun 2008 diketahui dari jumlah bayi yang dirawat sebanyak 789 bayi didapatkan dengan kejadian asfiksia sebanyak 136 bayi (17,24%), sedangkan pada tahun 2009 dari jumlah bayi yang dirawat sebanyak 1159 terdapat bayi normal (4,47%), asfiksia (16,31%), BBLR (14,92%), dan faktor lain (67,23%) dengan angka kematian bayi akibat asfiksia sebanyak 36 bayi (19,1%).
Hal ini menunjukkan kejadian asfiksia di RSUD .............. (16,31%) lebih tinggi dibandingkan dengan kejadian asfiksia di BRSUD Cideres (15,82%). Pada penelitian ini diprediksi faktor-faktor yang menyebabkan asfiksia di objek penelitian diantaranya berhubungan dengan berat badan lahir, jenis persalinan, dan jarak rumah ke tempat pelayanan kesehatan dan lain-lain..
Faktor-faktor yang menyebabkan kejadian asfiksia diantaranya faktor ibu, faktor tali pusat, dan faktor bayi Adanya hipoksia dan iskemia jaringan menyebabkan perubahan fungsional dan biokimia pada janin. Faktor ini yang berperan pada kejadian asfiksia (JNPK-KR, 2007).
Berdasarkan hal itu maka peneliti tertarik untuk mengangkat masalah tersebut dalam penelitian yang berjudul “Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Kejadian Asfiksia Di RSUD .............. Tahun 2009”

1.2 Rumusan Masalah
Hasil rekam medik di RSUD .............. tahun 2009 kajadian asfiksia (16,31%) dari jumlah bayi yang dirawat sebanyak 1159 dengan angka kematian bayi akibat asfiksia sebanyak 36 bayi (19,1%). Sehingga rumusan masalahnya adalah “Adakah faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian asfiksia di RSUD .............. tahun 2009?”

1.3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam penelitian ini yang dibatasi pada faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian asfiksia adalah berat badan lahir bayi, jenis persalinan ibu, dan jarak rumah ke tempat pelayanan kesehatan. Data yang diteliti adalah data sekunder berupa data register bayi di RSUD .............. tahun 2009.

1.4 Tujuan
1.4.1 Tujuan Umum
Diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian asfiksia di RSUD .............. tahun 2009.
1.4.2 Tujuan Khusus
1.4.2.1 Diketahuinya gambaran kejadian asfiksia di RSUD .............. tahun 2009.
1.4.2.2 Diketahuinya gambaran faktor yang berhubungan dengan kejadian asfiksia (berat badan lahir bayi, jenis persalinan, dan jarak rumah) di RSUD .............. tahun 2009.
1.4.2.3 Diketahuinya hubungan antara berat badan lahir bayi dengan kejadian asfiksia di RSUD .............. tahun 2009.
1.4.2.4 Diketahuinya hubungan antara jenis persalinan ibu dengan kejadian asfiksia di RSUD .............. tahun 2009.
1.4.2.5 Diketahuinya hubungan antara jarak rumah ke tempat persalinan dengan kejadian asfiksia di RSUD .............. tahun 2009.

1.5 Manfaat
2.1.1 Bagi Institusi Pendidikan
Menambah literature kepustakaan STIKes .............. tentang faktor-faktor yang menyebabkan asfiksia.
2.1.2 Bagi Lahan Praktek
Sebagai bahan informasi untuk lahan penelitian agar dapat menjadi acuan untuk dipedomani dalam meningkatkan program pelayanan kesehatan yang lebih baik.
2.1.3 Bagi Masyarakat
Sebagai tambahan wawasan dan ilmu pengetahuan tentang kesehatan, terutama dalam meningkatkan peran serta masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.120

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Asfiksia di RS
iklan2

iklan0
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pengetahuan Masyarakat Tentang Poskesdes

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pembangunan kesehatan merupakan bagian dari pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pembangunan kesehatan tersebut merupakan upaya seluruh potensi bangsa Indonesia baik masyarakat, swasta, maupun pemerintah. (Depkes RI, 2007 : 1)
Untuk meningkatkan derajat kesehatan yang optimal maka Departemen Kesehatan RI mempunyai target dengan Indonesia Sehat 2010. Tujuan pembangunan Indonesia Sehat 2010 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan secara optimal melalui terciptanya masyarakat, bangsa, dan Negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku sehat dan dalam lingkungan yang sehat, memiliki kemampuan kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata di seluruh wilayah Indonesia (Depkes RI, 2007 :1)
Dalam rangka terciptanya masyarakat dengan derajat kesehatan yang optimal tersebut yaitu masyarakat harus memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, salah satunya adalah pemanfaatan poskesdes di wilayahnya.
Desa Siaga merupakan gambaran masyarakat yang sadar, mau dan mampu untuk mencegah dan mengatasi berbagai ancaman terhadap kesehatan masyarakat seperti kurang gizi, penyakit menular, dan penyakit yang berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa (KLB), bencana, kecelakaan, dan lain-lain dengan memanfaatkan potensi setempat, secara gotong royong. Pengembangan Desa Siaga mencakup upaya untuk lebih mendekatkan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat desa, menyiapsiagakan masyarakat menghadapi masalah-masalah kesehatan, memandirikan masyarakat dalam mengembangkan perilaku hidup bersih dan sehat (Depkes RI, 2007, pedoman : 4)
Di Kabupaten ........ tahun 2008 terdapat 334 desa diantaranya sebanyak 164 desa telah menjadi desa siaga. Sedangkan sisanya sebanyak 170 desa belum menjadi desa siaga. (Dinkes Kab. ........, 2009, lamp.63A)
Salah satu kriteria Desa Siaga adalah apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). Poskesdes merupakan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan atau menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa. Adapun pelayanannya meliputi upaya-upaya promotif, preventif dan kuratif yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan (terutama bidan) dengan melibatkan kader atau tenaga sukarela lainnya (Depkes RI, 2007, pedoman : 9)
Salah satu indicator keberhasilan program poskesdes yang dilaksanakan dapat diukur dengan melihat peran serta masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, khususnya ibu hamil pada cakupan K4. Adapun cakupan kunjungan ibu hamil dari data hasil pencatatan dan pelaporan Dinas Kesehatan Kabupaten ........ tahun 2008 yaitu :
Tabel 1.1 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K4 Kabupaten ........ Tahun 2008

No Puskesmas Jml Ibu Hamil K4 %
1 1079 945 87.58
2 694 580 83.57
3 1123 1019 90.74
4 663 671 101.21
5 799 509 63.70
6 449 204 45.43
7 642 391 60.90
8 907 894 98.57
9 622 504 81.03
10 643 357 55.52
11 601 467 77.70
12 529 503 95.09
13 487 278 57.08
14 807 717 88.85
15 575 330 57.39
16 1183 980 82.84
17 910 781 85.82
18 861 745 86.53
19 714 452 63.31
20 886 851 96.05
21 553 439 79.39
22 834 631 75.66
23 452 257 56.86
24 361 230 63.71
25 599 379 63.27
26 396 255 64.39
27 1171 733 62.60
28 1109 723 65.19
29 915 652 71.26
30 839 371 44.22
22403 16848 75.20
(Sumber Seksi KIA dan Usila Dinkes Kab. ........, 2009)

Dari tabel 1.1 menunjukkan cakupan K4 di Kabupaten ........ sebesar 75,20%, sedangkan di Wilayah kerja UPTD Puskesmas ........ merupakan wilayah kerja dengan persentase K4 terendah sebesar 44,22%. Desa ........ merupakan salah satu desa yang ada di wilayah kerja UPTD Pukesmas ........ dengan cakupan K4 terendah (54,8%) diantara desa lain yang sudah memiliki poskesdes.
Berdasarkan data kunjungan tersebut, masyarakat belum sepenuhnya memanfaatkan keberadaan poskesdes di wilayahnya. Salah satu penyebabnya dimungkinkan karena pengetahuan masyarakat tentang poskesdes masih kurang sehingga penulis merasa tertarik untuk meneliti tentang “Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Pengetahuan Masyarakat Tentang Poskesdes Di Desa ........ Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........ Kabupaten ........ Tahun 2010”.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dapat dirumuskan permasalahan penelitian ini yaitu belum diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan masyarakat tentang Poskesdes Di Desa ........ Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........ Kabupaten ........ Tahun 2010.

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan masyarakat tentang Poskesdes Di Desa ........ Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........ Kabupaten ........ Tahun 2010.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Diketahuinya gambaran pengetahuan masyarakat tentang Poskesdes Di Desa ........ Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........ Kabupaten ........ Tahun 2010.
1.3.2.2 Diketahuinya gambaran pendidikan masyarakat Di Desa ........ Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........ Kabupaten ........ Tahun 2010
1.3.2.3 Diketahuinya gambaran pekerjaan masyarakat Di Desa ........ Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........ Kabupaten ........ Tahun 2010
1.3.2.4 Diketahuinya gambaran umur masyarakat Di Desa ........ Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........ Kabupaten ........ Tahun 2010
1.3.2.5 Diketahuinya gambaran pendapatan masyarakat Di Desa ........ Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........ Kabupaten ........ Tahun 2010
1.3.2.6 Diketahuinya hubungan antara pendidikan dengan pengetahuan masyarakat tentang Poskesdes Di Desa ........ Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........ Kabupaten ........ Tahun 2010.
1.3.2.7 Diketahuinya hubungan antara pekerjaan dengan pengetahuan masyarakat tentang Poskesdes Di Desa ........ Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........ Kabupaten ........ Tahun 2010.
1.3.2.8 Diketahuinya hubungan antara umur dengan pengetahuan masyarakat tentang Poskesdes Di Desa ........ Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........ Kabupaten ........ Tahun 2010.
1.3.2.9 Diketahuinya hubungan antara pendapatan dengan pengetahuan masyarakat tentang Poskesdes Di Desa ........ Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........ Kabupaten ........ Tahun 2010.

1.4 Ruang Lingkup
Ruang lingkup permasalahan pada penelitian ini dibatasi pada masalah factor yang mempengaruhi pengetahuan meliputi pendidikan, pekerjaan, umur dan pendapatan. Untuk kemudian factor-faktor tersebut dicari hubungannya dengan pengetahuan masyarakat tentang poskesdes di objek penelitian yaitu di Desa .........

1.5 Manfaat
1.5.1 Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan
Sebagai informasi untuk tenaga kesehatan yang berperan sebagai pemberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat sehingga dapat meningkatkan pelayanannya menjadi lebih optimal.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.119

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pengetahuan Masyarakat Tentang Poskesdes
iklan2

iklan0
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian ISPA Pada Balita di Puskesmas

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pneumonia adalah proses akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Terjadinya Pneumonia pada balita seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut bronkus (Broncho Pneumonia). Gejala penyakit ini berupa nafas cepat dan nafas sesak, karena paru meradang secara mendadak. Batas nafas cepat adalah frekuensi pernafasan sebanyak 50 kali permenit atau lebih pada anak usia 2 buan sampai kurang dari 1 tahun, dan 40 kali permenit atau lebih pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun. Pada anak usia dibawah 2 bulan, tidak dikenal diagnosis Pneumonia.(Afifah Tin,dkk.,2003.)
Program pemberantasan ISPA secara khusus telah dimulai sejak tahun 1984, dengan tujuan berupaya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian khususnya pada bayi dan anak balita yang disebabkan oleh ISPA.
Usaha peningkatan kesehatan masyarakat pada kenyataannya tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan saja, karena masalah ini sangatlah kompleks, di mana penyakit yang terbanyak di derita oleh masyarakat terutama pada yang paling rawan yaitu ibu dan anak, ibu hamil dan ibu meneteki serta anak bawah lima tahun.(Arikunto,s.2006.)
Salah satu penyakit yang diderita oleh masyarakat terutama adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) yaitu meliputi infeksi akut saluran pernafasan bagian atas dan infeksi akut saluran pernafasan bawah. ISPA adalah suatu penyakit yang terbanyak di derita oleh anak-anak, baik di negara berkembang maupun di negara maju dan sudah mampu dan banyak dari mereka perlu masuk Rumah Sakit karena penyakitnya cukup gawat. Penyakit – penyakit saluran pernafasan pada masa bayi dan anak-anak dapat pula memberi kecacatan sampai pada masa dewasa. Di mana ditemukan adanya hubungan dengan terjadinya Chronic Obstructive Pulmonary Disease.(Depkes RI.2000).
ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang terjadi. Setiap anak di perkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya.
Penyakit ISPA, sering terjadi pada anak – anak, bahkan di negara-negara berkembang. Penyakit ISPA ini merupakan salah satu penyebab kematian tersering pada anak. Di sebabkan oleh infeksi saluran pernafasan bawah akut (ISPA) paling sering adalah Pneumonia P2 ISPA balita sebagai target penemuan penderita Pneumonia balita pertahun dihitung dari jumlah penduduk usia balita pada suatu wilayah.
Secara teoritis diperkirakan 10 % penderita pneumonia akan menigggal bila tidak diobati (depkes Ri, 1996) Sebagian besar kematian tersebut di picu oleh ISPA bagian bawah (Pneumonia). Tetapi masyarakat yang masih awam dengan gangguan itu.
Sebagian besar kematian tersebut dipicu oleh ISPA bagian bawah (Pneumonia). Tetapi masyarakat yang masih awam dengan gangguan itu. Penyakit ISPA dapat menyerang jaringan paru-paru dan penderita pun cepat meninggal akibat Pneumonia berat, namun tidak cepat di tolong. Karena memang akibat ketidaktahuan masyarakat tentang kelainan itu.
Pneumonia adalah proses akut yang mengenai jaringan paru-paru (Alveoli). Terjadinya Pneumonia pada balita seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut bronkus (Broncho Pneumonia). Gejala penyakit ini berupa nafas cepat dan nafas sesak, karena paru meradang secara mendadak. Batas nafas cepat adalah frekuensi pernafasan sebanyak 50 kali permenit atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, dan 40 kali permenit atau lebih pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun. Pada anak usia di bawah 2 bulan, tidak di kenal diagnosis Pneumonia.
Mengutip hasil survei kesehatan rumah tangga 1995 yang melaporkan proporsi kematian anak akibat penyakit sistem pernafasan adalah 2,1%, sementara pada balita 38,8%. Berdasarkan Program Pembangunan Nasional (Propenas ) bidang kesehatan, angka kematian bayi dari 5/1.000 pada tahun 2000 akan diturunkan menjadi 3/1.000 pada akhir tahun 2005.
Di .......... ISPA merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien di Sarana Kesehatan. Pasien yang berobat ke Puskesmas sebanyak 40-60 %. Kunjungan di bagian rawat jalan dan rawat inap Rumah Sakit sekitar 15-20 %.
Hidup serumah dengan perokok juga menjadi faktor penyebab penyakit ISPA anak. Hasil penelitian di sumedang jaw barat tahun 2001, menyatakan bahwa 23% penyakit ISPA pada anak balita disebabkan oleh pendeita hidup serumah dengan perokok.
Penyakit ISPA mencakup penyakit saluran napas bagian atas (ISPA) dan saluran nafas bagian bawah (ISPA) beserta adneksanya. ISPA mengakibatkan kematian pada anak dalam jumlah kecil, tetapi dapat menyebabkan kecacatan misalnya stitis media yang merupakan penyebab ketulian. Sedangkan hampir seluruh kematian karena ISPA pada anak kecil disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan bawah akut (ISPA), Paling sering adalah pneumonia (WHO 2003). Kematian akibat pneumonia sebagai penyebab utama ISPA di Indonesia pada akhir tahun 2000 sebanyak lima kasus diantara 1.000 balita (Depkes, 2003).
Kejadian ISPA di wilayah Provinsi .......... masih terhitung tinggi, hal ini terlihat bahwa kasus ISPA sesuai data dari Dinas Kesehatan Provinsi .......... pada tahun 2009 sebanyak 28.322 kasus, dan khususnya di Kabupaten.
Di Kabupaten .......... jelas penderita ISPA tahun 2007 sebanyak 298 kasus, tahun 2008 terdapat 569 balita dan tahun 2009 sebanyak 610 kasus, laporan dari catatan medis di Puskesmas .......... tahun 2007 terdapat 198 kasus penyakit ISPA, Pada tahun 2008 terdapat 489 kasus penyakit ISPA dan tahun 2009 terdapat 551kasus penyakit ISPA pada balita di wilayah kerja Puskemas .......... Kabupaten .......... Tahun 2009

B. Perumusan Masalah
Bagaimana hubungan kejadian ISPA pada balita berdasarkan status Imunsasi, pemberian ASI eklusif dan faktor lingkungan di wilayah Kerja Puskesmas .......... Kabupaten .......... Tahun 2009.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor – faktor yang berhubugan dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah Kerja Puskesmas .......... Kabupaten .......... Tahun 2009.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui hubungan status Imunisasi dengan kejadian ISPA pada balita.
b. Untuk mengetahui hubungan pemberian ASI Ekslusif dengan kejadian ISPA pada balita.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Institusi
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan dan informasi bagi Instansi terkait.
2. Manfaat Ilmiah
Sebagai bahan masukan dan informasi bagi pihak – pihak yang ingin mengadakan penelitian lebih lanjut terhadap persoalan yang sama.
3. Manfaat Praktis
Penelitian ini merupakan pengalaman yang sangat berharga dalam memperluas wawasan keilmuwan dan menetapkan upaya pencegahan.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.118

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian ISPA Pada Balita di Puskesmas
iklan2

iklan0
Faktor Risiko kejadian Gizi Kurang Pada Balita Di Tinjau Dari Pola Makan, Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu dan Penyakit Infeksi

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembangunan di bidang kesehatan pada hakikatnya merupakan bagian integral dari pembangunan kesejahteraan bangsa secara berkesinambungan, terus menerus dilakukan bangsa Indonesia untuk menggapai cita-cita luhur, yakni terciptanya masyarakat yang adil dan makmur, baik spiritual maupun material. GBHN 1999 mengamanatkan perlunya meningkatkan mutu sumber daya manusia dan lingkungan yang saling mendukung melalui pendekatan paradigma sehat, dengan memberikan prioritas pada upaya peningkatan kesehatan, pencegahan, penyembuhan , pemulihan, dan rehabilitasi (Aditama dan Hastuti, 2006).
Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat, kesehatan yang prima, serta cerdas. Bukti empiris menunjukkan bahwa hal ini sangat ditentukan oleh status gizi yang baik. Status gizi yang baik ditentukan oleh jumlah asupan pangan yang dikonsumsi. Masalah gizi kurang dan buruk dipengaruhi langsung oleh faktor konsumsi pangan dan penyakit infeksi. Secara tidak langsung dipengaruhi oleh pola asuh, ketersediaan pangan, faktor sosial ekonomi, budaya dan politik. Apabila gizi kurang dan gizi buruk terus terjadi dapat menjadi faktor penghambat dalam pembangunan nasional. Secara perlahan kekurangan gizi akan berdampak pada tingginya angka kematian ibu, bayi, dan balita, serta rendahnya umur harapan hidup. Selain itu, dampak kekurangan gizi terlihat juga pada rendahnya partisipasi sekolah, rendahnya pendidikan, serta lambatnya pertumbuhan ekonomi (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2007 ).
Kesepakatan global berupa Millenium Development Goals (MDGS) yang terdiri dari 8 tujuan, 18 target dan 48 indikator, menegaskan bahwa pada tahun 2015 setiap negara menurunkan kemiskinan dan kelaparan separuh dari kondisi pada tahun 1990. Untuk Indonesia, indikator yang digunakan adalah peresentase anak berusia di bawah 5 tahun (balita) yang mengalami gizi buruk (severe underweight) dan persentase anak-anak berusia 5 tahun (balita) yang mengalami gizi kurang (moderate underweight) (Ariani, 2007).
Salah satu masalah pokok kesehatan di negara sedang berkembang adalah masalah gangguan terhadap kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh kekurangan gizi. Masalah gizi di Indonesia masih didominasi oleh masalah Kurang Energi Protein (KEP), Anemia zat Besi, Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), dan kurang Vitamin A (KVA). Penyakit kekurangan gizi banyak ditemui pada masyarakat golongan rentan, yaitu golongan yang mudah sekali menderita akibat kurang giuzi dan juga kekurangan zat makanan. Penyakit gizi kurang banyak ditemui pada masyarakat golongan rentan, yaitu golongan yang mudah sekali menderita akibat kurang gizi dan juga kekurangan zat makanan (Syahmien Moehji, 2005).
Kebutuhan setiap orang akan makanan tidak sama, karena kebutuhan akan berbagai zat gizi juga berbeda. Umur, Jenis kelamin, macam pekerjaan dan faktor-faktor lain menentukan kebutuhan masing-masing orang akan zat gizi. Anak balita (bawah lima tahun) merupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan badan yang pesat, sehingga memerlukan zat-zat gizi yang tinggi setiap kilogram berat badannya. Anak balita ini justru merupakan kelompok umur yang paling sering dan sangat rawan menderita akibat kekurangan gizi yaitu KEP.
Kurang gizi atau gizi buruk dinyatakan sebagai penyebab tewasnya 3,5 juta anak di bawah usia lima tahun (balita) di dunia. Mayoritas kasus fatal gizi buruk berada di 20 negara, yang merupakan negara target bantuan untuk masalah pangan dan nutrisi. Negara tersebut meliputi wilayah Afrika, Asia Selatan, Myanmar, Korea Utara, dan Indonesia. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan Inggris The Lanchet ini mengungkapkan, kebanyakan kasus fatal tersebut secara tidak langsung menimpa keluarga miskin yang tidak mampu atau lambat untuk berobat, kekurangan vitamin A dan Zinc selama ibu mengandung balita, serta menimpa anak pada usia dua tahun pertama. Angka kematian balita karena gizi buruk ini terhitung lebih dari sepertiga kasus kematian anak di seluruh dunia (Malik, 2008).
Kekurangan gizi merupakan salah satu penyebab tingginya kematian pada bayi dan anak. Apabila anak kekurangan gizi dalam hal zat karbohidrat (zat tenaga) dan protein (zat pembangun) akan berakibat anak menderita kekurangan gizi yang disebut KEP tingkat ringan dan sedang, apabila hal ini berlanjut lama maka akan berakibat terganggunya pertumbuhan, terganggunya perkembangan mental, menyebabkan terganggunya sistem pertahanan tubuh, hingga menjadikan penderita KEP tingkat berat sehingga sangat mudah terserang penyakit dan dapat berakibat kematian (Syahmien Moehji, 2005).
Berbagai penelitian membuktikan lebih dari separuh kematian bayi dan balita disebabkan oleh keadaan gizi yang jelek. Risiko meninggal dari anak yang bergizi buruk 13 kali lebih besar dibandingkan anak yang normal. WHO memperkirakan bahwa 54% penyebab kematian bayi dan balita didasari oleh keadaan gizi anak yang jelek (Irwandy, 2007).
Faktor penyebab langsung terjadinya kekurangan gizi adalah ketidakseimbangan gizi dalam makanan yang dikonsumsi dan terjangkitnya penyakit infeksi. Penyebab tidak langsung adalah ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak dan pelayanan kesehatan. Ketiga faktor tersebut berkaitan dengan tingkat pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan keluarga serta tingkat pendapatan keluarga (I Dewa Nyoman Supariasa, 2007).
Faktor ibu memegang peranan penting dalam menyediakan dan menyajikan makanan yang bergizi dalam keluarga, sehingga berpengaruh terhadap status gizi anak (I Dewa Nyoman Supariasa, 2007).
Prevalensi nasional Gizi Buruk pada Balita adalah 5,4%, dan Gizi Kurang pada Balita adalah 13,0%. Keduanya menunjukkan bahwa baik target Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi (20%), maupun target Millenium Development Goals pada 2015 (18,5%) telah tercapai pada 2007. Namun demikian, sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang diatas prevalensi nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat,
Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, .........., Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI, 2008).
Masalah kurang gizi merupakan akibat dari interaksi antara berbagai faktor, akan tetapi yang paling utama adalah dua faktor yaitu konsumsi pangan dan infeksi, adanya ketidakseimbangan antara konsumsi zat energi dan zat protein melalui makanan, baik dari segi kuantitatif dan kualitatif. Dideritanya panyakit infeksi, yang umumnya infeksi saluran pernafasan dan infeksi saluran pencernaan, maka keadaan kurang gizi akan bertambah parah. Namun sebaliknya penyakit-penyakit tersebut dapat bertindak sebagai pemula terjadinya kurang gizi sebagai akibat menurunnya nafsu makan, adanya gangguan penyerapan dalam saluran pencernaan serta meningkatnya kebutuhan gizi akibat adanya penyakit (Syahmien Moehji, 2005).
Selain dari penyebab utama tersebut banyak sekali faktor yang menyebabkan terjadinya masalah kurang gizi yaitu ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga, pola pengasuhan anak, kondisi lingkungan atau penyediaan air bersih serta pelayanan kesehatan yang tidak memadai serta faktor sosial budaya dan ekonomi seperti tingkat pendapatan keluarga, besar anggota keluarga, pantangan atau tabu dalam hal makanan dan adat kebiasaan yang merugikan (Syahmien Moehji, 2005).
Di provinsi .......... angka penderita gizi kurang yaitu sebesar 12,75% dari 336.111 balita yang di ukur menurut dinas kesehatan .......... tahun 2008.
Berdasarkan data yang diperoleh dari survey Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2008 bahwa jumlah balita di kabupaten ........ yaitu 11.657 jiwa, dimana penderita gizi buruk sebanyak 628 (5,4 %) jiwa dan jumlah penderita gizi kurang sebanyak 2.493 (21,4 %) jiwa.
Data mengenai status gizi balita di Puskesmas ........ Kecamatan ........ tahun 2009 menunjukkan dari sejumlah 823 balita terdapat 426 balita gizi baik, 136 balita gizi kurang (16,16%) dan 11 balita gizi buruk (1,33%). Dari data di atas dapat dilihat bahwa masih tingginya jumlah kasus, baik kasus gizi kurang maupun kasus gizi buruk pada tahun 2009 di wilayah kerja Puskesmas ......... Dari jumlah penderita gizi buruk diatas, dapat dikategorikan masih tinggi dibanding jumlah standar nasional yang ditetapkan yaitu <1% dan untuk kejadian gizi kurang <15%.
Penyebab gizi buruk dan gizi kurang di Indonesia sesuai hasil penelitian bermula dari krisis ekonomi, politik dan sosial menimbulkan dampak negatif seperti kemiskinan, pendidikan dan pengetahuan rendah, kesempatan kerja kurang, pola makan, ketersediaan bahan pangan pada tingkat rumah tangga rendah, pola asuh anak yang tidak memadai, pendapatan keluarga yang rendah, sanitasi dan air bersih serta pelayanan kesehatan dasar yang tidak memadai (Unicef, 1999 dalam Khomsan, dkk 2005).
Dari latar belakang inilah maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Faktor Risiko kejadian Gizi Kurang Pada Balita Di Tinjau Dari Pola Makan, Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu Dan Penyakit Infeksi. Di Wilayah Kerja Puskesmas ........ Kecamatan ........ Kabupaten ........ tahun 2009.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, penelitian ini diharapkan dapat menjawab pertanyaan sebagai berikut:
1. Berapa besar faktor risiko pola makan terhadap kejadian gizi kurang pada balita di wilayah kerja Puskesmas ........ Kabupaten ........ tahun 2009?
2. Berapa besar faktor risiko tingkat pengetahuan gizi ibu dengan kejadian gizi kurang pada balita di wilayah kerja Puskesmas ........ Kabupaten ........ tahun 2009?
3. Berapa besar faktor risiko tingkat penyakit infeksi dengan kejadian gizi kurang pada balita di wilayah kerja Puskesmas ........ Kabupaten ........ tahun 2009?
4. Berapa besar faktor risiko tingkat pekerjaan orang tua dengan kejadian gizi kurang pada balita di wilayah kerja Puskesmas ........ Kabupaten ........ tahun 2009?
5. Berapa besar faktor risiko tingkat pendapatan dengan kejadian gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas ........ Kabupaten ........ tahun 2009?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor risiko kejadian gizi kurang pada balita di wilayah kerja Puskesmas ........ Kecamatan ........ Kabupaten ........ tahun 2009.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui faktor risiko pola makan terhadap kejadian gizi kurang pada balita di wilayah kerja Puskesmas ........ Kabupaten ........ tahun 2009.
b. Untuk mengetahui faktor risiko tingkat pengetahuan gizi ibu terhadap kejadian gizi kurang pada balita di wilayah kerja Puskesmas ........ Kabupaten ........ tahun 2009.
c. Untuk mengetahui faktor risiko penyakit infeksi terhadap kejadian gizi kurang pada balita di wilayah kerja Puskesmas ........ Kabupaten ........ tahun 2009.
d. Untuk mengetahui faktor risiko tingkat pekerjaan orang tua terhadap kejadian gizi kurang pada balita di wilayah kerja Puskesmas ........ Kabupaten ........ tahun 2009.
e. Untuk mengetahui faktor risiko pendapatan terhadap kejadian gizi kurang pada balita di wilayah kerja Puskesmas ........ Kabupaten ........ tahun 2009.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Ilmiah
Hasil penelitian ini dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan menjadi salah satu sumber bacaan bagi para peneliti dimasa yang akan datang.
2. Manfaat Institusi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan masukan bagi Dinas Kesehatan ........ khususnya bagi Puskesmas
........ serta pihak lain dalam menentukan kebijakan untuk menekan dan menangani kasus gizi buruk dan gizi kurang pada bayi/anak balita.
3. Manfaat Praktis
Untuk mengetahui dan mendapatkan pengalaman yang nyata dalam melakukan penelitian khususnya mengenai beberapa faktor risiko kejadian gizi kurang pada balita.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.116

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Faktor Risiko kejadian Gizi Kurang Pada Balita Di Tinjau Dari Pola Makan, Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu dan Penyakit Infeksi
iklan2

iklan0
Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian KEP Ringan dan Sedang di Puskesmas

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam era moderenisasi sekarang ini, Sumber Daya Manusia yang berkualitas dan professional merupakan kunci utama dalam tumbuh kembangnya sebuah organisasi. Karena itu, sumber daya manusia perlu di manajemen secara optimal sehingga kuantitas SDM yang ada dalam organisasi benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan bisa menjadi asset organisasi dalam memenangkan persaingan bisinis.(Sondang P. Siagian, 2008)
Memahami perencanaan Sumber Daya Manusia sebagai rangkaian beberapa perkataan diperlukan pemahaman mengenai kata “perencanaan” sebagai kata kunci lepas dari perkataan Sumber Daya Manusia. Pemahaman ini sangat penting karena sejak penghujung abad XX hingga memasuki awal abad XXI “perencanaan” telah dikembangkan menjadi bidang ilmu yang lepas dari manajemen dengan bidang gerapan atau objek formal yang berdiri sendiri. (Marihot, 2002)
Untuk memahami kegiatan Sumber Daya Manusia perlu dibedakan antara pengertian secara makro dan mikro. Pengertian SDM secara makro adalah semua manusia sebagai penduduk atau warga Negara suatu Negara atau dalam suatu batas wilayah tertentu yang sudah memasuki usia angkatan kerja, baik yang sudah maupun belum memperoleh pekerjaan. Disamping itu SDM secara makro berarti juga penduduk yang sudah berada dalam usia produktif, meskipun karena berbagai sebab dan masalah masih terdapat yang belum produktif karena belum memasuki lapangan kerja yang terdapat di masyarakatnya. SDM dalam arti mikro secara sederhana adalah manusia atau orang ytang bekerja atau yang menjadi anggota suatu organisasi yang disebut personil, pegawai, karyawan, pekerja, tenaga kerja dan lain-lain. (Marihot, 2002).
Adapun Visi dari sumber daya kesehatan professional dan merata dalam mewujudkan Indonesia 2010. sedangkan misi dari Sumber Daya Kesehatan sebagai berikut
Merumuskan kebijakan pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia kesehatan. Kebijakan-kebijakan yang tepat dikembangkan adalah pengaturan pembinaan dan pengawasan SDM kesehatan, dalam hal perencanaan, produksi, distribusi, kewenangan profesi,, kompetensi, SDM kesehatan dan pengembangan karir.
1. Meningkatkan manajemen SDM kesehatan. Keberhasilan badan PPSDM kesehatan menjalankan tugas fungsinya tergantung dari efektivitas dan efesiensi manajemen yang dijalankan, termasuk perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan/pengendalian.
2. Memelihara dan meningkatkan mutu sumber daya manusia kesehatan. Badan PPSDM kesehatan berupaya agar SDM kesehatan dapat memiliki mutu yang baik, sehingga mempunyai kemandirian, akuntabilitas, memiliki, sifat kewirausahaan dan daya saing yang tinggi baik di dalam maupun di luar negeri.
3. Mendorong kemandirian profesi kesehatan. Badan PPSDM kesehatan medndorong dan menetapkan kewenangan profesi melalui berbagai upaya seperti mendorong keberadaan profesi kesehatan, pemberlakuan legilisasi melalui registrasi, sertifikasi dan lisensi dalam rangka melindungi masyarakat untuk memperoleh pelayanan yang bermutu.
Usaha peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam bidang kesehatan mutlak diperhatikan khususnya dalam mendukung pelaksanaan otonomi daerah dalam menciptakan tenaga-tenaga kesehatan yang mempunyai kualitas serta mempunyai dedikasi yang tinggi dalam mengabdikan dirinya sebagai agen-agen kesehatan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.
Perubahan manajemen SDM kesehatan diera desentralisasi sekarang ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas kinerja sector kesehatan yang pada akhirnya meningkatkan derajat kesehatan penduduk. Hal ini hanya dapat dicapai dengan memberikan otoritas kepada daerah untuk menentukan prioritas dan kebijakan yang seterusnya merancang bentuk struktur dan pembiayaan kesehatan yang cocok dengan perubahan yang di tuntut. Untuk menghadapi era desentralisasi, seluruh manajer kesehatan harus mampu, tegar dan meyakinkan bahwa mereka dapat mengelola SDM yang baik dari aspek kualitas dan kuantitas untuk menjalankan program kesehatan setelah desentralisasi.
Sistem untuk menilai, memberikan pengembangan SDM sebagai jantung manajemen SDM. Evaluasi kinerja telah digunakan sebagai unsur yang esensial bagi efektivitas manajemen sumber daya manusia (MSDM) dalam organisasi. (Surya Dharma, 2009)
Meningkatnya pengakuan secara luas atas penggunaan evaluasi kinerja telah dilaporkan oleh berbagai studi di negara maju, misalnya di inggris 3 (tiga) survey terbesar tentang praktik evaluasi kinerja dilaksanakan oleh Institute of Personnel Management. Dari 360 organisasi yang disurvey di inggris meliputi organisasi industri, bisnis, dan publik terdapat 74% organisasi menggunakan sistem evaluasi kinerja dan 26 tidak menggunakannya. Sementara survey terdapat 244 organisasi di Amerika menunjukkan sekitar 91% menggunakan sistem evaluasi kinerja secara formal (Anderson, 1993).
Rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia dapat dilihat dari Human Development Indonesia (HDI) jauh tertinggal dengan Negara lainnya. Indonesia menempati urutan 102 sedangkan Negara ASEAN lainnya berada pada peringkat 34 hingga 53 dengan indeks 0,66 ( Abbas,2000). Masih tertinggalnya kualitas SDM tercermin pula pada sarjana sains dan teknologi kurang lebih 0,5% penduduk selama 22 tahun sedang Taiwan, Korea Selatan dan Jepang pada tahun 1990 telah mencapai 4,2% sampai 6,0% (Soekirman, 1995).
Melihat kondisi tersebut maka tenaga yang lebih diberdayakan menngingat tenaga kesehatan merupakan unsur masukan (input dari system pembangunan kesehatan) karena keberhasilan pembangunan di tentukan oleh tersedianya Sumber Daya Manusia berupa tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan kompetensi dan profesionalisme yang tinggi. (Depkes. 2000).
Dalam upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia maka perlu dilakukan pendidikan dan pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM), alasannya adalah karena munculnya paradigma baru manajemen yang memperlakukan SDM sebagai factor utama produktivitas dan keunggulan organisasi. Alasan praktis adalah persaingan global kian meningkat, menuju kepasar bebas, kinerja bangsa yang relative rendah dibandingkan dengan kinerja bangsa-bangsa lainnya termasuk keluarga ASEAN, Kinerja organisasi baik bisnis maupun public yang rendah yang menyumbangkan rendahnya kinerja bangsa, Kinerja individu yang rendah di dalam masing-masing organisasi.
Sistem informasi perencanaan SDM merupakan sebuah metode organisasi untuk mengumpulkan, memelihara, menganalisa, dan melaporkan informasi tenaga kerja dan pekerjaannya. Manajer perusahaan membutuhkan data yang akurat, relevan, dan terkini dalam membuat suatu keputusan, informasi yang disajikan harus sesuai dengan kebutuhan manajemen untuk mengambil keputusan strategi maupun opersioanal. Kegunaan sistem informasi perencanaan SDM adalah untuk pengembangan inventaris SDM untuk perencanaan SDM (Anwar Prabu, 2003).
Penggunaan sumber-sumber daya manusia di indonesia dicirikan oleh hal-hal sebagai berikut (Basir Barthos, 2001) :
a. Sumber-sumber daya manusia masih menjadi penghambat pertumbuhan perekonomian nasional. Dengan makin baiknya produktivitas tenaga kerja, maka kesempatan kerja akan makin berkurang, sedangkan angkatan kerja tetap meningkat. Tendensi yang demikian disatu pihak akan menguntungkan konsumen dengan adanya barang-barang produksi yang lebih murah tetapi dilain pihak tambahan angkatan kerja baru akan mengalami kesukaran didalam mencari pekerjaan.
b. Terdapat perubahan dildalam sumber pertambahan angkatan kerja di sebabkan oleh meningkatnya parsitipasi angkatan kerja disebabkan oleh meningkatnya partisipasi angkatan kerja wanita.
c. Terjadinya perubahan-perubahan yang berarti di dalam komposisi profesi dan kualifikasi tenaga kerja.
d. Penggunaan sumber daya manusia di dalam pembangunan nasional sekarang ini menuntut adanya suatu mekanisme yang memberi dorongan ekonomi bagi tenaga kerja untuk bekerja didaerah-daerah dan sektor-sektor yang diperlukan.
Berikut ini adalah sebuah contoh dari daftar kompotensi yang dipergunakan oleh Standard Chartered (Amstrong, 1994) dalam manajemen kinerja organisasinya :
a. Pengetahuan kerja dan profesional
b. Kesadaran organisasi / konsumen
c. Komunikasi
d. Kerja sama tim
e. Kemampuan beradaptasi
f. Kualitas
g. Manajemen
h. kepemimpinan

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana studi pelaksanaan Sumber Daya Manusia di Puskesmas .......... Kabupaten ...........

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk memperoleh informasi tentang pelaksanaan pengembangan sumber daya manusia di Puskesmas .......... Kabupaten ...........
2. Tujuan Khusus
a. Untuk memperoleh informasi pelaksanaan pengembangan sumber daya manusia di Puskesmas .......... Kabupaten .......... melalui pendidikan.
b. Untuk memperoleh informasi pelaksanaan pengembangan sumber daya manusia di Puskesmas .......... Kabupaten .......... melalui pelatihan.
c. Untuk memperoleh informasi mengenai pelaksanaan pengembangan Kepegawaian diPuskesmas .......... Kabupaten .......... melalui motivasi.
d. Untuk memperoleh informasi mengenai pelaksanaan pengembangan pegawai di Puskesmas .......... Kabupaten .......... Melaui Poromosi.

E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Bagi pengembangan ilmu pengetahuan
Hasil penelitian ini di harapkan dapat menambah ilmu pengetahuan terutama berkaitan dengan pelaksanaan pengembangan Sumber Daya Manusia.
2. Manfaat bagi program pelayanan kesehatan
Hasil penelitian ini diharapakan menjadi salah satu bahan masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten ...........
3. Manfaat bagi peneliti
Merupakan pengalaman yang sangat berharga dalam rangka memperluas wawasan keilmuan.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.117

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian KEP Ringan dan Sedang di Puskesmas
iklan2

iklan0
Faktor Resiko Kejadian ISPA Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas

iklan1
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tujuan pembangunan kesehatan yang telah tercantum pada Sistem Kesehatan Nasional adalah suatu upaya penyelenggaraan kesehatan yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia guna mendapatkan kemampuan hidup sehat bagi setiap masyarakat agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal yang mana dikatakan bahwa peningkatan derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu lingkungan, pelayanan kesehatan, tindakan serta bawaan (congenital). Hidup sehat merupakan hak yang dimilki oleh setiap manusia yang ada didunia ini, akan tetapi diperlukan berbagai cara untuk mendapatkannya (Anonim, 2007).
Sebagai upaya untuk mewujudkan visi Indonesia sehat 2010, pemerintah telah menyusun berbagai program pembangunan dalam bidang kesehatan antara lain kegiatan pemberantasan Penyakit Menular (P2M) baik yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif di semua aspek lingkungan kegiatan pelayanan kesehatan.
Untuk dapat mengukur derajat kesehatan masyarakat digunakan beberapa indikator, salah satunya adalah angka kesakitan dan kematian balita. Angka kematian balita yang telah berhasil diturunkan dari 45 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2003 menjadi 44 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (Anonim, 2008).
World Health Organization (WHO) memperkirakan insidens Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di negara berkembang dengan angka kematian balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20% pertahun pada golongan usia balita. Menurut WHO  13 juta anak balita di dunia meninggal setiap tahun dan sebagian besar kematian tersebut terdapat di Negara berkembang, dimana pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kematian dengan membunuh  4 juta anak balita setiap tahun (Depkes, 2000 dalam Asrun, 2006).
Di Indonesia, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selalu menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Selain itu ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit terbanyak di rumah sakit. Survei mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2005 menempatkan ISPA/Pneumonia sebagai penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia dengan persentase 22,30% dari seluruh kematian balita (Anonim, 2008).
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah proses infeksi akut berlangsung selama 14 hari, yang disebabkan oleh mikroorganisme dan menyerang salah satu bagian, dan atau lebih dari saluran napas, mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah), termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura (Anonim, 2007).
Gejala awal yang timbul biasanya berupa batuk pilek, yang kemudian diikuti dengan napas cepat dan napas sesak. Pada tingkat yang lebih berat terjadi kesukaran bernapas, tidak dapat minum, kejang, kesadaran menurun dan meninggal bila tidak segera diobati. Usia Balita adalah kelompok yang paling rentan dengan infeksi saluran pernapasan. Kenyataannya bahwa angka morbiditas dan mortalitas akibat ISPA, masih tinggi pada balita di negara berkembang.
Penemuan penderita ISPA pada balita di Sulawesi Tenggara, sejak tahun 2006 hingga 2008, berturut–turut adalah 74.278 kasus (36,26 %), 62.126 kasus (31,45%), 72.537 kasus (35,94%) (Anonim, 2008). Sedangkan penemuan penderita ISPA pada balita di Kabupaten .......... dari tahun 2006 hingga 2008, berturut-turut adalah 8.291 kasus (23,63%), 7.671 kasus (28,09%) dan 7.289 kasus (24,63%). Data kesakitan yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten .......... tiga tahun terakhir (tahun 2006 sampai dengan tahun 2008), Puskesmas .......... menduduki urutan kedua tertinggi ISPA dari 24 Puskesmas di Wilayah Kabupaten ........... Atas dasar tersebut maka penulis memilih Puskesmas .......... sebagai lokasi penelitian (Anonim, 2008).
Di Wilayah Kerja Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) .........., penemuan penderita ISPA pada balita tahun 2006 sebanyak 1.471 kasus (20,29%) dan sebanyak 415 (28,2%) kasus peneumonia. Tahun 2007 sebanyak 1.059 kasus (24,62%) dengan 258 (24,4%) kasus pneumonia. Kasus ISPA pada balita di Puskesmas .......... pada tahun 2008 ditemukan sebanyak 1.149 dengan 383 (33,3%) kasus pneumonia (Anonim, 2007).
Berdasarkan uraian di atas, penyakit ISPA merupakan salah satu penyakit dengan angka kesakitan dan angka kematian yang cukup tinggi, sehingga dalam penanganannya diperlukan kesadaran yang tinggi baik dari masyarakat maupun petugas, terutama tentang beberapa faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan. Menurut Hendrik Blum dalam Notoatmodjo, 1996, faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan antara lain faktor lingkungan seperti asap dapur, faktor prilaku seperti kebiasaan merokok keluarga dalam rumah, faktor pelayanan kesehatan seperti status imunisasi, ASI Ekslusif dan BBLR dan faktor keturunan.
Asap dapur dan faktor prilaku seperti kebiasaan merokok keluarga dalam rumah sangat berpengaruh karena semakin banyak penderita gangguan kesehatan akibat merokok ataupun menghirup asap rokok (bagi perokok pasif) yang umumnya adalah perempuan dan anak-anak, sedangkan faktor pelayanan kesehatan seperti status imunisasi, ASI Ekslusif dan BBLR merupakan faktor yang dapat membantu mencegah terjadinya penyakit infeksi seperti gangguan pernapasan sehingga tidak mudah menjadi parah (Anonim, 2007).
Banyak faktor yang berpengaruh terhadap kejadian ISPA, yang dapat meningkatkan angka kesakitan dan angka kematian akibat pneumonia. Hal inilah yang mendasari penulis untuk meneliti faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas .......... Kabupaten ...........

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
Bagaimanakah faktor resiko kejadian ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas .......... Kabupaten .......... Tahun 2009 ?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor resiko kejadian ISPA pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas .......... Kabupaten ...........
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui hubungan asap dapur dengan kejadian ISPA pada balita.
b. Untuk mengetahui hubungan kebiasaan merokok dalam rumah dengan kejadian ISPA pada balita.
c. Untuk mengetahui hubungan ASI Ekslusif dengan kejadian ISPA pada balita.
d. Untuk mengetahui hubungan status imunisasi dengan kejadian ISPA pada balita.
e. Untuk mengetahui hubungan BBLR dengan kejadian ISPA pada balita.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.115

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Faktor Resiko Kejadian ISPA Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas
iklan2

iklan0
Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Periksa Payudara Sendiri (Sadari) di SMU

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Masa remaja merupakan suatu periode rentan kehidupan manusia yang sangat kritis karena merupakan tahap transisi dari masa kanak-kanak kemasa dewasa. Pada tahap ini sering kali remaja tidak menyadari bahwa suatu tahap perkembangan sudah dimulai, namun yang pasti setiap remaja akan mengalami suatu perubahan baik fisik, emosional maupun sosial (Dianawati, 2003: 25).
Pada masa remaja berlangsung proses-proses perubahan fisik maupun perubahan biologis yang dalam perkembangan selanjutnya berada dibawah kontrol hormon-hormon khusus. Pada wanita, hormon-hormon ini bertanggung jawab atas permulaan proses ovulasi dan menstruasi, juga pertumbuhan payudara. Pada masa ini sudah seharusnya para remaja putri mulai memperhatikan perubahan yang ada pada dirinya, juga halnya dengan payudara dan kesehatanya. Maka tidak aneh jika dikatakan bahwa kitalah orang pertama yang paling mungkin menemukan benjolan pada payudara kita, bagaimanapun juga, kitalah satu-satunya yang paling mengenal tubuh kita. Payudara merupakan estetika kaum wanita dan daya tarik seksual yang utama sejak dahulu kala didalam bermacam-macam masyarakat, payudara wanita merupakan fokus obyek seni. Tetapi dijaman dan kebudayaan beberapa tahun belakangan ini ada sambutan hangat terhadap pemberian ASI dengan segala keuntunganya bagi ibu maupun bayinya. Dengan seluruh aktifitas didalam payudara sehubungan dengan perkembangan dalam kehidupan seorang wanita dan juga perubahan siklus yang biasa disebabkan oleh periode menstruasi teratur, sebaiknya semua wanita bermawas diri terhadap masalah yang mungkin timbul pada payudara mereka, sebaiknya pemeriksaan dapat dimulai dari waktu remaja dan pemeriksaan yang rutin dan teratur untuk mendeteksi tanda-tanda dini persoalan payudara merupakan kebiasaan yang sangat baik yang harus dilakukan sejak dini. Seorang remaja putri dapat memeriksa payudara sendiri (SADARI) pada saat mandi dengan menggunakan jari-jari tangan sehingga dapat menentukan benjolan pada lekukan halus payudaranya. Bagi banyak wanita kejadian sangat mengejutkan pada waktu sebuah benjolan sudah nampak dengan jelas, kemungkinanya adalah bahwa benjolan tersebut adalah kanker, maka seseorang mungkin telah kehilangan waktu yang berharga untuk memulai pengobatan sedini mungkin. Jadi jalan yang paling bijaksana adalah memeriksa payudara kira secara teratur pada selang waktu yang tertentu pula. Dengan cara ini, kelainan yang terkecil sekalipun dapat ditemukan dan langkah-langkah aktif untuk perngobatan dapat dimulai sedini mungkin (Gilbert, 1996: 41).
Di dunia, kematian akibat kanker diperkirakan sekitar 4,3 juta pertahun 2,3 juta diantaranya ditemukan dinegara berkembang, sedangkan jumlah penderita baru sekitar 3,9 juta pertahun dan terdapat dinegara berkembang sekitar 3 juta (Hidayati, 2001: 195).
Di negara maju insiden kanker payudara 87 per 100.000, angka kematianya kira-kira 27 per 100.000 (Tambunan 1995 : 26). Diantara tumor ganas ginekologi kanker payudara menduduki tempat nomor 2 dari insiden semua tipe kanker di Indonesia. Data terbaru berdasarkan penelitian pada 13 laboratorium patologi anatomi di Indonesia menempatkan kanker serviks diurutan pertama dengan per evaluasi 18,62% disusul kanker payudara 11,22% dan kanker kulit 8,03% (Hidayati 2001 : 197). Secara statistik di Amerika dan juga di Indonesia 95% dari semua tumor / kanker payudara ditemukan oleh penderita itu sendiri (Ramli, 2000 : 75).
Dewasa ini di Indonesia penyakit kanker dirasakan semakin menonjol, hal ini dapat dilihat dari sebagai laporan rumah sakit yang menyebutkan penyakit kanker cenderung menjadi salah satu penyebab utama kematian pada usia produktif. Survei kesehatan rumah tangga (SKRT) menunjukan proporsi penyebab kematian karena kanker semakin meningkat dari 1,3% pada tahun 1976 menjadi 3,4% pada tahun 1980, 4,3% pada tahun 1986 dan 4,8% pada tahun 1992.
Kira-kira sepertiga dari penyakit kanker dapat ditemukan cukup dini untuk dapat disembuhkan. Di bagian bedah FKUI/RSCM selama tahun 1971 – 1978 dari 735 kasus penderita payudara 267 (40%) masih merupakan kasus yang dapat dioperasi. Selama tahun 1988 sampai dengan 1996 dari 566 kasus kanker payudara 185 (32,6%) masih menunjukan kasus-kasus yang operable. Berdasarkan data pra survei berupa pertanyaan lisan yang dilakukan oleh peneliti dengan 20 siswa perempuan di SMUN1 ............ tentang masalah SADARI terdapat 18 orang siswi perempuan yang belum mengetahuinya. Persoalanya adalah bagaimana cara memasyarakatkan SADARI sejak mulai remaja untuk mendetekasi segala kelainan/keganasan pada payudara. Oleh sebab itu penulis berminat untuk mengukur sejauh mana pengetahuan siswi SMU ini yang mempunyai jumlah siswa 610 orang yang terdiri dari siswi perempuan 402 orang dan siswa laki-laki 208 orang dari kelas I sampai kelas III (Data TU SMUN 1 ............, 2009)

1.2 Identifikasi Masalah
Masalah yang teridentifikasi dari prasurvei tesebut diatas adalah :
1.2.1 Dinegara maju insiden kanker payudara 87 per 100.000, angka kematianya kira-kira 27 per 100.000 (Tambuan 1995 : 26). Diantara tumor ganas ginekologi kanker payudara menduduki tempat nomor dua dari insiden semua tipe kanker di Indonesia. (Ramli, 2000 : 75).
1.2.2 Kira-kira sepertiga dari penyakit kanker payudara dapat ditemukan cukup dini untuk dapat disembuhkan. Dibagian bedah FKUI/RSCM selama tahun 1971-1978 dari 735 kasus penderita kanker payudara 267 (40%) masih merupakan kasus yang dapat dioperasi.
1.2.3 Dari 20 siswa perempuan di SMU N 1 ............ terdapat 18 siswi perempuan yang belim mengetahui tentang masalah SADARI.

1.3 Rumusan Masalah
Dari uraian di atas, maka peneliti membuat rumusan masalah sebagai berikut : “Bagaimana tingkat pengetahuan remaja putri tentang SADARI di SMU N 1 ............ ............ tahun 2009 ”

1.4 Pertanyaan Penelitian
Bagaimana tingkat pengetahuan remaja putri tentang periksa payudara sendiri (SADARI) di SMU N 1 ............ ............, 2009.

1.5 Tujuan Penelitian
Dalam penelitian ini penulis mempunyai beberapa tujuan yaitu :
1.5.1 Tujuan Umum
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja putri tengang SADARI di SMU Nenegri 1 ............ ............ tahun 2009.
1.5.2 Tujuan Khusus
1. Diketahuinya tingkat pengetahuan remaja putri tentang pengertian SADARI di SMU Negeri 1 ............ ............ tahun 2009.
2. Diketahuinya tingkat pengetahuan remaja putri tentang tujuan SADARI di SMU Negeri 1 ............ .............
3. Diketahuinya tingkat pengetahuan remaja putri tengang kapan waktu melakukan SADARI di SMU Negeri 1 ............ ............ tahun 2009.
4. Diketahuinya tingkat pengetahuan remaja putri tentang cara melakukan SADARI di SMU Negeri 1 ............ ............ tahun 2009.
5. Diketahuinya tingkat pengetahuan remaja putri tentang hasil pemeriksaan SADARI di SMU Negeri 1 ............ ............ tahun 2009.

1.6 Manfaat Penelitian
1.6.1 Bagi Akademi Kebidanan Wira Buana Metro
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan untuk memperluas wawasan mahasiswa khususnya Program Studi Kebidanan Wira Buana Metro.
1.6.2 Bagi Staf Pengajar SMU Negeri 1 ............
Hasil penelitan diharapkan dapat memberikan masukan bagi pengelola pendidikan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan di SMU Negeri 1 ............ dengan cara memberikan materi SADARI pada pelajaran biologi.
1.6.3 Bagi siswi perempuan di SMU Negeri 1 ............
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan dan tambahan pengetahuan bagi siswi SMU Negeri 1 ............ agar dapat melakukan SADARI untuk mendeteksi dini segala kelainan yang ada pada payudara.
1.6.4 Bagi Peneliti
Untuk menambah pengalaman peneliti dan untuk mengetahui pengetahuan remaja putri tentang SADARI di SMU Negeri 1 ............ ............ sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan serta sebagai penerapan ilmu yang didapat selama pendidikan.

1.7 Ruang Lingkup Penelitian
Di dalam penelitian akan membatasi ruang lingkup yang diteliti, yaitu :
1. Subjek
Subjek yang akan diteliti adalah siswi SMU Negeri 1 ............ ............ tahun 2009
2. Obyek
Obyek penelitian tentang tingkat pengetahuan siswi / remaja putri SMU Negeri I ............ ............ Tahun 2009 tentang SADARI.
3. Lokasi
Lokasi penelitian di SMU Negeri 1 ............ ............
4. Waktu
Waktu penelitian mulai bulan Januari sampai dengan …………

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.113

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Periksa Payudara Sendiri (Sadari) di SMU
iklan2

iklan0
Tinjauan Pelaksanaan Manajemen Terpadu Balita Sakit Umur 2 Bulan Sampai 5 Tahun di Puskesmas

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Derajat kesehatan merupakan pecerminan kesehatan perorangan, kelompok, maupun masyarakat yang digambarkan dengan umur harapan hidup, mortalitas, morbiditas, dan status gizi masyarakat. Sehat dapat mencakup pengertian yang sangat luas, yakni bukan saja bebas dari penyakit tetapi juga tercapainya keadaan kesejahteraan baik fisik, sosial dan mental (Profil Kesehatan Propinsi Lampung, 2005).
Derajat kesehatan yang optimal akan dilihat dari unsur kualitas hidup serta unsur-unsur mortalitas yang memengaruhinya, yaitu morbiditas dan status gizi. Untuk kualitas hidup, yang digunakan sebagai indikator adalah angka harapan hidup waktu lahir (Lo). Sedangkan untuk mortalitas telah disepakati lima indikator yaitu angka kematian bayi (AKB) per 1000 kelahiran hidup, angka kematian balita (AKABA) per 1000 kelahiran hidup, angka kematian pneumonia pada balita per 1000 balita, angka kematian diare pada balita per 1000 balita per 1000 balita dan Angka Kematian Ibu melahirkan (AKI) per 1000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Propinsi Lampung, 2005).
Menurut Susenas 2001 Angka Kematian Balita di Indonesia sebesar 68 per 1000 kelahiran hidup, maka 340 ribu anak meninggal pertahun sebelum usia lima tahun dan diantaranya 155 ribu adalah bayi sebelum berusia satu tahun. Dari seluruh kematian tersebut sebagian besar disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan akut, diare dan gangguan perinatal/neonatal (Manajemen Terpadu Balita Sakit Modul-1 Depkes RI, 2004).
Angka Kematian Bayi di propinsi Lampung periode tahun 1995-2000 di perkirakan 65 per 1000 kelahiran hidup. Pada tahun 2000 berdasarkan Proyeksi Penduduk BPS menjadi 49 per 1000 kelahiran hidup. Kemudian pada tahun 2001 menjadi 41 per 1000 kelahiran hidup. Tetapi pada tahun 2003 angka kematian bayi meningkat menjadi 55 per seribu kelahiran hidup. Hal ini menunjukan bahwa sistem pencatatan dan pelaporan sudah mengalami peningkatan/tercovernya kasus baik secara aktif maupun pasif. Hasil ini belum mencapai target 2003 yaitu 42 per 1000 kelahiran hidup dan target lampung sehat 2010 dan Indonesia sehat 2010 40 per 1000 KH (Profil Kesehatan Propinsi Lampung, 2005).
Penyebab kematian bayi adalah pneumonia sebesar 34%, diare 15% dan lain-lain 51%.
Grafik 1.1 Kasus kematian bayi per 1000 KH menurut Kab./Kota di Propinsi Lampung tahun 2005.
Sumber : Profil Kesehatan Kab./Kota Tahun 2006
Berdasarkan grafik 1.1 di atas terlihat bahwa Kota Metro pada kasus kematian bayi per 1000 kelahiran hidup lebih besar jika dibandingkan dengan Kab./Kota lainnya.
Angka kematian balita (0-<5 tahun) menggambarkan tingkat permasalahan anak dan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kesehatan anak balita seperti gizi, sanitasi penyakit infeksi dan kecelakaan. Hasil SDKI 2002-2003 Angka Kematian Balita: 64 angka ini belum mencapai target 58 per 1000 Kelahiran hidup. Jumlah balita mati di propinsi pada tahun 2003 sejumlah 130 kasus, terbesar di Kabupaten Tulang Bawang (57 kasus dari 13.640 kelahiran) dan terendah di Kabupaten Tanggamus dan Kota Metro (0 kasus). Pada tahun 2004 sejumlah 109 kasus, terbesar di Kota Metro (40 kasus) dan terendah di Kabupaten Lampung Barat (1 kasus). Pada tahun 2005 jumlah kasusnya 224 kasus per 165.347 KH. (Profil Kesehatan Propinsi Lampung, 2005).
Berdasarkan data pra survei yang terdapat dalam hasil kegiatan program penanggulangan penyakit di Kota Metro tahun 2005 didapatkan:

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.114

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Tinjauan Pelaksanaan Manajemen Terpadu Balita Sakit Umur 2 Bulan Sampai 5 Tahun di Puskesmas
iklan2

iklan0
Pengetahuan Tentang Bahaya Merokok Pada Siswa Kelas II SMA Negeri

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Negara maju seperti Amerika Serikat kebiasaan merokok ada kecenderungan menurun, karena sejak beberapa tahun lalu di negara tersebut telah ada gerakan yang menyatakan bahwa merokok merupakan perilaku buruk, tidak berpendidikan, lain halnya di negara berkembang ada kecenderungan meningkat untuk merokok. Dewasa ini di negara berkembang telah menjadi sasaran reklame rokok guna memasarkannya. Negara maju pun di kalangan remaja dan dewasa muda cenderung meningkat dalam kebiasaan merokok (Departemen Kesehatan RI, 1992).
Laporan (World Health Organization) WHO juga menyebutkan jumlah perokok meningkat 2,1% pertahun di negara berkembang. Negara maju angka ini menurun sekitar 1,1 % pertahun. Penelitian di Jakarta menunjukkan bahwa 64,8% pria dan 9,8% wanita dengan usia diatas 13 tahun adalah perokok. Bahkan pada kelompok remaja, 49% pelajar pria dan 8,8% pelajar wanita di Jakarta sudah merokok (www.kompas.com, 2003)
Mengacu pada data Bank Dunia pada tahun 1999 perolehan cukai rokok di Indonesia hanya Rp 2,6 triliun dan kerugian masyarakat akibat rokok mencapai sekitar Rp 14,5 triliun yaitu berupa beban biaya pengobatan, kecacatan dan penurunan produktivitas. Aspek perilaku merokok di Indonesia jauh melampaui perilaku kesehatan masyarakat. Jadi dapat dikatakan masyarakat Indonesia lebih suka mengkonsumsi rokok dibandingkan dengan mengutamakan aspek kesehatan. Pernyataan ini didasarkan pada realitas bahwa belanja rokok di Indonesia mencapai Rp 100 triliun, sedangkan belanja obatnya hanya Rp 20 triliun. (www.republikonline. com, 2003).
Data dari rumah sakit di Indonesia menunjukkan bahwa merokok menunjukkan faktor resiko pertama dan tertinggi bagi serangan jantung. Usia muda di bawah 40 tahun, merokok merupakan faktor resiko pertama bagi penyakit jantung koroner dan ditemukan pula bahwa sebagian besar (62-83%) yang terkena serangan jantung di bawah umur 40 tahun adalah perokok berat dan sedang (Dep.Kes. RI, 1992).
Berbagai penelitian tentang bahaya merokok sudah banyak dilakukan, diantaranya kebiasaan merokok mempengaruhi peningkatan kolesterol dan trigliserida secara bermakna dibandingkan dengan yang bukan perokok. Akhir-akhir ini beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara radikal bebas dengan terjadinya kanker yang disebabkan oleh rokok. (Bina Didik Tenaga Kesehatan, 2001). Asap rokok yang dihirup seorang perokok mengandung komponen gas dan partikel. Komponen gas terdiri dari karbon monoksida, karbon dioksida, hidrogen sianida, amoniak, oksida dari niterogen dan senyawa hidrokarbon. Adapun komponen partikel terdiri dari tar, nikotin, benzopiren, fenol, dan kadmium.
Umumnya fokus penelitian ditujukkan pada peranan nikotin dan karbon monoksida (CO). Kedua bahan ini, selain meningkatkan kebutuhan oksigen juga mengganggu suplai oksigen keotot jantung. Merokok menjadi faktor utama penyebab penyakit pembuluh darah jantung. Bukan hanya menyebabkan penyakit jantung koroner, merokok juga berakibat buruk bagi pembuluh darah ke otak (www.kompas.com, 2003).
Banyak penelitian dilakukan, bahwa merokok mengganggu kesehatan tubuh. Merokok terutama dapat menimbulkan penyakit kardiovaskuler dan kanker, baik kanker paru-paru, oesophagus, laryng dan rongga mulut. Merokok juga dapat menimbulkan kelainan-kelainan rongga mulut, misalnya pada lidah, gusi, mukosa mulut, gigi dan langit-langit. Asap rokok mengandung komponen-komponen dan zat¬zat yang berbahaya bagi tubuh, seperti nikotin, tar dan karbon monoksida. (www.depkes.ri.com, 2004)
Kini makin banyak diteliti dan dilaporkan pengaruh buruk merokok pada ibu hamil, impotensi, menurunnya kekebalan tubuh, termasuk pada pengidap virus hepatitis, kanker saluran cerna dan lain-lain. Penurunan kekebalan tubuh pada perokok menjadi pencetus lebih mudahnya terlCena Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS).
Asap rokok rnerupakan polutan bagi manusia dan lingkun-an sekitarnya. Bukan hanya bagi kesehatan, merokok menimbulkan pula problem dibidang ekonomi. Sudut ekonomi kesehatan, menyatakan bahwa dampak penyakit yang timbul akibat merokok jelas akan menambah biaya yang dikeluarkan, baik bagi individu, keluarga, perusahaan bahkan negara (www.kompas.com, 2003).

Hasil pengamatan yang dilakukan di SMA Negeri 2 ............... selama 3 hari ternyata pada saat pulang sekolah terdapat siswa laki laki yang merokok. Data yang diperoleh tersebut sesuai dengan pernyataan bahwa yang menyebutkan bahwa pada kelompok remaja ada 49% pelajar pria dan pelajar wanita sudah merokok (www.kompas.com,2003).
Berdasarkan data di atas penulis ingin mengetahui pengetahuan siswa kelas II mengenai bahaya rokok di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 ................ Mengingat bahwa bahaya rokok sangat banyak dan fatal akibatnya apalagi bila sudah dimulai sejak usia dini.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang maka penulis membuat rumusan masalah "Bagaimana pengetahuan siswa kelas II mengenai bahaya rokok di SMA Negeri 2 ...............".

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengetahuan siswa kelas II mengenai bahaya rokok di SMA Negeri 2 ................
2. Tujuan khusus
a. Diketahui pengetahuan siswa kelas II mengenai pengertian rokok
b. diketahui pengetahuan siswa kelas II mengenai zat-zat yang berbahaya dalam rokok.
c. Diketahui pengetahuan siswa kelas II mengenai bahaya rokok terhadap kesehatan

D. Ruang Lingkup
Penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup penelitian :
1. Jenis penelitian adalah deskriptif.
2. Objek penelitian adalah pengetahuan siswa kelas II Mengenai bahaya rokok di SMA Negeri 2 ................
3. Subjek penelitian adalah semua siswa kelas II di SMA Negeri 2 ...............
4. Lokasi penelitian adalah SMA Negeri 2 ...............
5. Waktu penelitian dilaksanakan pada Mei 2009

E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat :
a. Bagi Institusi Program Studi Kebidanan
Sebagai sumber referensi pelajaran terutama yang berkaitan dengan bahaya rokok.
b. Bagi Siswa
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan siswa mengenai bahaya rokok, agar siswa semakin mantap untuk menghindari rokok, karena bahaya rokok sangat banyak.
c. Bagi Institusi SMA Negeri 2 ...............
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan siswa mengenai bahaya rokok dengan mengadakan penyuluhan atau mengadakan extrakulikuler yang membahas tentang bahaya rokok.
d. Bagi Peneliti
Sebagai penerapan mata kuliah Metodologi Penelitian dan menambah pengalaman dalam penulisan KTI, Serta sebagai masukan pengetahuan tentang bahaya merokok.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.111

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Pengetahuan Tentang Bahaya Merokok Pada Siswa Kelas II SMA Negeri
iklan2

iklan0
Tingkat Pengetahuan Ibu Primigravida Tentang Kehamilan Fisiologis di RB

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia saat ini masih merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan AKI di negara-negara ASEAN lainnya. Menurut SDKI (2002-2003) AKI di Indonesia sebesar 307/100.000 kelahiran hidup (www.sdki.indonesia.com.id,2007). Penyebab langsung dari kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan, infeksi dan eklampsi. Sekitar 5% kematian ibu disebabkan oleh penyakit yang memburuk akibat kehamilan, misalnya penyakit jantung dan infeksi kronis. Selain itu keadaan ibu sejak pra hamil dapat berpengaruh terhadap kehamilan. (Sarwono Prawirohardjo,2002:6).
Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin juga merupakan masalah besar di negara berkembang dan negara miskin. Sekitar 25-50% kematian wanita usia subur disebabkan hal yang berkaitan dengan kehamilan. World Health Organization (WHO) memperkirakan lebih dari 585.000 ibu pertahunnya meninggal saat hamil atau bersalin dan lebih dari 50% kematian di negara berkembang sebenarnya dapat dicegah dengan tehnologi yang ada serta biaya relatif rendah (Sarwono Prawirohardjo,2002:3).
Sampai akhir 2007 jumlah ibu hamil mencapai 4.620.400 orang atau sekitar 3% dari jumlah penduduk Indonesia. Berbagai upaya telah dilaksanakan untuk menurunkan AKI, termasuk di antaranya program save motherhood yang telah dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 1988. Akses terhadap pelayanan antenatal sebagai pilar kedua Safe Motherhood juga cukup baik,yaitu 87% pada tahun 1997 namun mutunya perlu ditingkatkan terus. (Sarwono Prawirohardjo, 2002:7)
Dalam memantau program kesehatan dewasa ini digunakan indikator cakupan yaitu cakupan pelayanan antenatal, yaitu K1 untuk akses antenatal dan K4 untuk melihat kualitas antenatal.(www.artikelkesehatan.blogspot.com)
Berdasarkan data yang didapatkan penulis di lapangan pada waktu melakukan pra survei di RB Kartini ....... ........... ......... pada bulan Januari – Mei 2008 jumlah ibu hamil 96 orang dengan ibu primigravida berjumlah 42 orang yaitu 30 ibu hamil primigravida yang melakukan kunjungan awal dan 24 ibu hamil primigravidar yang mengalakukan kunjungan ulang.
Dari kebanyakan ibu primigravida sering mengatakan adanya keluhan seperti mual, muntah, tidak nafsu makan, pening dan lain-lain (Ayah Bunda, 2007). Kekhawatiran ini kemungkinan lebih disebabkan karena kurangnya pengetahuan yang diperoleh oleh ibu. Berdasarkan hal tersebut penulis tertarik untuk mengetahui gambaran tentang pengetahuan ibu primigravida tentang kehamilan fisiologis.

B. Rumusan Masalah
Dari uraian yang ada di latar belakang, penulis menggambarkan data awal yang merupakan rumusan masalah dalam penelitian adalah :
“Bagaimana pengetahuan ibu primigravida tentang kehamilan fisiologis di RB Kartini ....... ........... ......... Tahun 2008?”.

C. Ruang Lingkup Penelitian
Adapun yang menjadi ruang lingkup dari penelitian pengetahuan ibu Primigravida tentang kehamilan fisiologis ini adalah :
1. Jenis Penelitian : Deskriptif
2. Obyek Penelitian : Pengetahuan ibu primigravida tentang kehamilan fisiologis di RB Kartini ....... ........... ......... Tahun 2008
3. Subyek Penelitian : Seluruh ibu primigravida yang ada di RB Kartini ....... ........... ......... tahun 2008.
4. Lokasi penelitian : RB Kartini ....... ........... ..........
5. Waktu Penelitian : Bulan Mei – Juni 2008
6. Alasan penelitian : Karena dari beberapa ibu hamil primigravida yang memeriksakan kehamilan di RB Kartini ....... ........... ......... belum mengetahui perubahan-perubahan fisiologis yang terjadi selama kehamilan.

D. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah diketahuinya pengetahuan ibu primigravida tentang kehamilan fisiologis di RB Kartini ....... ........... ......... tahun 2008.

E. Manfaat Penelitian
1. Untuk peneliti.
Peneliti dapat mengetahui dengan jelas pengetahuan ibu primigravida tentang kehamilan, sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang ilmu kebidanan, serta sebagai penerapan ilmu yang telah didapat selama studi.
2. Untuk ibu primigravida (responden).
Agar ibu primigravida mendapat tambahan pengetahuan tentang kehamilan fisiologis.
3. Institusi pendidikan
Dapat dijadikan bahan bacaan, bagi mahasiswa / peneliti lain yang akan mengadakan penelitian terutama yang berkaitan dengan ibu primigravida tentang kehamilan fisiologis.
4. Bagi Bidan Praktik Swasta.
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi pengelola program di RB Kartini ....... ........... ......... yaitu memberikan masukan agar dapat meningkatkan pelayanan kehamilan seoptimal mungkin.
5. Bagi Peneliti Lain
Sebagai bahan perbandingan bagi peneliti lain yang meneliti tentang kehamilan.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.112

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Tingkat Pengetahuan Ibu Primigravida Tentang Kehamilan Fisiologis di RB
iklan2
kti